serba-serbi kepribadian

Empat Alasan Kamu Harus Bangga Menjadi Introvert

Kamu ngaku extrovert? Baca ini dulu ya
09 April 2018, 12:36pm

Di dunia yang penuh dengan orang extrovert yang suka berdebat dalam segala hal, para introvert cenderung kehilangan suaranya. Istilah extrovert-introvert digunakan untuk menjelaskan perbedaan kepribadian seseorang. Pribadi extrovert cenderung lebih supel dan energik, sedangkan introvert lebih tertutup dan senang menyendiri. Yah, memang sih orang introvert tidak sefrontal Trump di Twitter, tapi mereka punya banyak kelebihannya juga lho. Berikut adalah empat keuntungan menjadi introvert:

Mereka lebih jeli.
Penelitian terbaru yang digagas oleh beberapa psikolog di Yale menyebutkan bahwa orang introvert bisa menjadi psikolog sosial amatir terbaik karena sifat melankolisnya. Mereka dianggap bisa menilai dunia jauh lebih akurat daripada extrovert. “Mereka mudah merasa sedih, tapi jauh lebih bijaksana,” kata Anton Gollwitzer, mahasiswa pascasarjana tahun ketiga yang turut menulis penelitian tersebut. “Mungkin karena orang introvert yang melankolis lebih senang menghabiskan waktunya mengamati sifat manusia, atau mereka berintrospeksi diri lebih baik karena mereka jarang memiliki bias.” Meskipun mereka tidak bisa menggantikan peran psikolog sungguhan, Gollwitzer berhipotesis bahwa mereka bisa memprediksi dan menafsirkan perubahan sosial dalam masyarakat.

Mereka lebih kreatif.
Mereka memang lebih jeli, tetapi bukan berarti mereka pribadi yang aktif. Orang introvert cenderung menyalurkan pemikiran dan konflik batin melalui seni, seperti tulisan atau lukisan. “Orang yang memiliki kreativitas tinggi butuh waktu sendiri untuk merenung, berpikir dan menciptakan sesuatu,” jelas Gregory Feist, dosen jurusan psikologi kepribadian dan perkembangan orang dewasa di San Jose State University. “Para introvert tidak masalah menyendiri. Mereka malah sangat membutuhkannya.” Waktu menyendiri ini biasa mereka gunakan untuk mengintrospeksi diri dan mengamati apa pun yang bisa mendorong kreativitas. Jonathan Cheek, dosen jurusan psikologi kepribadian di Wellesley College, menyebut unsur introversi sebagai “kekayaan batin.” Mereka mampu menyulap pemikiran batin, ide-ide dan khayalannya menjadi karya seni yang imajinatif dan penuh makna.

Mereka lebih mawas diri.
Cheek menuturkan bahwa orang introvert cenderung senang berintrospeksi diri. “Orang introvert sering menyendiri untuk merenungkan kehidupannya dan berintrospeksi diri,” imbuhnya. “Kalau mereka bisa melakukannya secara produktif, maka ini bisa menjadi sifat unggulannya.” Orang yang selalu berpikir matang-matang tidak akan pernah bertindak secara tiba-tiba, contohnya seperti mengirim pesan memalukan ke gebetan. Sikap mawas diri juga bisa membantu mereka memilih jalan hidup yang lebih baik. Gollwitzer berspekulasi bahwa unsur ini membuat orang introvert lebih senang mengamati daripada berinteraksi. Introspeksi diri memungkinkan orang introvert memutuskan apa yang sebaiknya mereka lakukan dalam situasi tertentu dan, menyampaikan idenya ke orang lain, menjelaskan perilaku sosial tertentu tanpa berpartisipasi langsung.

Mereka lebih mandiri.
Kebanyakan orang merasa sengsara hidup sendiri. Faktanya, seperempat wanita dan dua pertiga pria dalam sebuah penelitian terbitan 2014 lebih memilih disengat listrik daripada menghabiskan waktu sendirian. Sedangkan orang introvert sangat mendambakan waktu menyendiri. Masyarakat sering menganggap orang extrovert jauh lebih bahagia dari introvert. Anggapan itu tidak benar. “Introvert punya kesenangannya sendiri,” jelas Cheek. “Ada orang yang senang menghabiskan malam minggu di rumah sambil baca buku, melukis, atau menonton tv show favoritnya sendirian. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan kesedihan.” Feist menjelaskan bahwa, bagi banyak introvert, waktu menyendiri dari teman yang cerewet atau lebay bisa membuat mereka jauh lebih mandiri dan bebas dari tekanan sosial. Ini juga waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal produktif. Bahkan jauh lebih produktif daripada menonton ulang The Office sampai tamat.