Korea Utara

Korut Mengongkosi Program Nuklirnya Dari Ekspor Salmon

Siapa sangka, salmon yang kita beli di pasar ternyata berpeluang membiayai ambisi gila rezim Kim Jong Un.
9.10.17
Foto dari akun Flickr Gala Medina

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Kalau sering belanja di supermarket, kamu pasti pernah memborong barang-barang dengan embel-embel "Made In China." Tak usah khawatir. Memborong produk buatan Cina bukan dosa besar. Mau bagaimana lagi, harganya murah sih. Masalahnya, kalau kamu beli produk seafood bertuliskan "Caught in the USA, Processed in China," maka kamu wajib berhati-hati. Bisa jadi uangmu masuk ke kas Pemerintah Korea Utara. Menurut hasil penyelidikan panjang kantor berita Associated Press, banyak pekerja asal Korut yang mengadu nasib di pabrik-pabrik seafood Tiongkok. Pabrik-pabrik ini menghasilkan udang beku, salmon, dan ikan cod yang diekspor ke luar negeri. Mengimpor produk dari, atau setidaknya diproses, di Korut termasuk tindakan ilegal di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya. Pasalnya, rezim Kim Jong Un memungut paksa 70 persen pendapatan pekerjanya di luar negeri (sebagian mungkin digunakan mendanai proyek senjata nuklir mereka). Selain itu pemerintahan paling tertutup di dunia tersebut memaksa rakyatnya bekerja dalam kondisi, yang disebut oleh pemerintah AS, sebagai bentuk "perbudakan modern." "Kalau seorang penduduk Korut ingin bekerja ke luar negeri, itu artinya opsi terakhir yang dia pilih," ujar Andrei Lankov, pengamat Korut, seperti dikutip kantor berita Associated Press. "Sebab, memilih merantau bekerja di Cina artinya menghabiskan hari-harimu di pabrik yang kondisinya seperti penjara." Pabrik-pabrik pengolah yang telah diidentifikasi AP terletak di Hunchun, sebuah Provinsi sebelah timur laut Cina. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Korut dan Rusia. Sekitar 3.000 buruh migran asal Korut dikontrak bekerja di Hunchun. Pendapatan mereka, setelah dipotong oleh aparat Rezim Kim Jong Un, hanya tersisa 46 sen dollar (setara Rp6.200) per jam. Korut memiliki puluhan ribu penduduk yang dikirim bekerja di berbagai negara, selain Tiongkok. Mereka mendatangkan devisa di kisaran US$200 hingga US$500 juta untuk pemerintah Korut. Sebagai catatan, meski pendapatan buruh migran korut di Hunchun yang menyedihkan, pada kenyataanya itu jauh lebih baik dari gaji bulanan rata-rata penduduk Korut yang cuma $1 (setara Rp13.500) per bulan. Associated Press mengungkap tiga pabrik yang terbukti mempekerjakan buruh migran Korut lantas mengekspor produk seafood beku ke AS. lebih dari 2.000 ton olahan ikan dan dari pabrik-pabrik ini dipasok ke pasaran AS dan Kanada setahun belakangan. Sebagian diekspor dengan bungkus seadanya. Sementara sisanya sudah dibungkus memakai merk Walmart atau Sea Queen, lantas dijual di jaringan supermarket ALDI. "Setelah kami berbagai beragam informasi mendetail dengan Assosiaced Pers, kami mengaudit dan menyelidiki fasilitas tersebut. Kami juga memberi nilai merah pada beberapa pabrik tersebut lantaran mereka enggan bekerja sama selama proses investigasi. Artinya, pemasok tak bisa memanfaatkan pabrik-pabrik ini untuk memproduksi produk yang nanti dijual di Walmart," ujar juru bicara Walmart Marilee McInnis saat dihubungi MUNCHIES. "Kesejahteraan dan harga diri pekerja sangatlah penting bagi kami dan kami lewat beberapa cara berusaha memerangi praktik kerja paksa. Kami punya sebuah sistem yang bisa memaksa pabrik pemasok produk kami untuk memenuhi standar yang kami miliki dan mengambil tindakan yang diperlukan ketika kami menemukan masalah yang harus segera ditanggulangi." McInnis mengatakan bahwa Walmart adalah anggota utama Leadership Group for Responsible Recruitment, Seafood Task Force, dan telah melakukan investasi di Issara Institute guna menggalakkan praktik anti-trafficking di rantai pemasok di Asia Tenggara. MUNCHIES dalam proses penulisan artikel ini juga menghubungi ALDI dan Sea-Trek, sebuah perusahaan pengimpor seafood dari Hunchun yang bermarkas di Rhode Island.

Pekan lalu, otoritas bea cukai dan perlindungan perbatasan AS mengatakan bakal mengambil beberapa langkah tegas buat "melarang" masuknya produk dari pabrik-pabrik di Hunchun serta pabrik lain yang mempekerjakan buruh migran Korea Utara.