Mencairnya Es di Lereng Everest  Menguak Tumpukan Sampah dan Mayat Manusia
(Kiri) Sampah yang dikirim ke Kalapattar untuk airlift. (Foto milik Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha, Nepal) dan (kanan) "Green Boots", pendaki India yang tewas di Northeast Ridge, Gunung Everest pada 1996, yang kini menjadi penanda jarak dan ketinggian (Foto via Wikimedia)
Environmental Extremes

Mencairnya Es di Lereng Everest Menguak Tumpukan Sampah dan Mayat Manusia

Gunung tertinggi di dunia berubah jadi “tempat sampah tertinggi” karena jumlah pendaki yang berlebih dan perubahan iklim.
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
JP
Diterjemahkan oleh Jade Poa

Artikel ini merupakan bagian dari kolaborasi redaksi VICE lintas negara mengulas isu kerusakan lingkungan ekstrem, yang mengancam masa depan anak muda. Awak redaksi dari Indonesia, India, Filipina, hingga Australia menghadirkan laporan mengenai peristiwa paling penting yang butuh perhatian segera dari masyarakat dan politisi. Untuk membaca laporan lain kami tentang isu-isu tersebut, silakan klik Environmental Extremes .

Iklan

Mingma David Sherpa menemukan jasad pendaki ketika dia pertama kali mendaki Gunung Everest pada 2010.

Mingma masih 20 tahun saat itu. Dia tahu ada 200 mayat lebih di sepanjang rute menuju puncak. Para pendaki sering menjadikannya penanda jarak dan ketinggian. Misalnya, dia sudah memasuki Zona Mematikan saat melihat “Green Boots” — mayat pendaki India yang diidentifikasi dari sepatu hijau neonnya. Itu berarti Mingma berada di ketinggian 8.000 meter di atas permukaan laut.

“Saya tidak enak hati,” kenang Mingma. “Saya melewati mayat orang-orang yang butuh bantuan tapi tidak bisa diselamatkan.”

1568620655254-Mountain-guide-and-rescue-specialist-Mingma-David-Sherpa-checking-an-oxygen-cylinder

Pemandu dan penyelamat pendaki Mingma David Sherpa sedang mengecek tabung oksigen. Foto oleh Omkar Khandekar

Pada 2016, Mingma bergabung dengan Anthony Gordon, produser TV Australia yang menggarap dokumenter tentang Tim Penyelamat Sherpa Pertama di Dunia (kelompok etnik di Nepal yang berprofesi sebagai pemandu gunung). Tim beranggotakan tujuh Sherpa dilatih menggunakan kamera dan merekam misi penyelamatan mereka, yang kemudian dijadikan film dokumenter Everest Air.

Tim Mingma mengambil 52 jasad dari Everest dan Makalu, gunung tertinggi kelima di dunia. Pekerjaan ini bukan tanpa rintangan. Selain medan yang ekstrem, ada juga ancaman perubahan iklim buatan manusia. Setahun sebelumnya, cuaca panas tak biasa menyebabkan longsor salju di gletser Khumbu dalam perjalanan ke Everest. Insiden ini menewaskan 16 pendaki.

“Penyebabnya tidak bisa diprediksi,” ujar Mingma. “Bisa karena kebanyakan atau kekurangan salju [di pegunungan].”

Iklan

Mencairnya es di Everest membuat mayat pendaki yang terkubur selama bertahun-tahun kembali muncul ke permukaan. Bukan cuma jasad saja, tetapi juga sampah seperti kaleng, botol, perlengkapan mendaki yang terbuang dan kotoran manusia. Sampah-sampah ini tergeletak di sepanjang rute pendakian. Di basecamp, berat kotoran manusia mencapai 5.000 kilogram.

1568620516702-Four-dead-bodies-retrieved-from-Mt-Everest

Empat mayat berhasil diambil dari Gunung Everest. Foto milik Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha, Nepal

Penelitian lima tahun yang dilakukan oleh International Center for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menemukan gletser di Hindu Kush dan Himalaya mencair dengan cepat dan terancam menyusut hingga hampir sepertiga ukuran aslinya jika emisi CO2 gagal dikendalikan.

1568621690957-Garbage-transported-to-Kalapattar-for-airlift

Sampah yang telah dikumpulkan akan dikirim ke Kalapattar untuk airlift. Foto milik Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha, Nepal

Jumlah kematian di Everest tahun ini menjadi yang tertinggi, setelah pendaki terjebak “macet” di puncak. Totalnya ada 12 kasus. Pemerintah Nepal telah mengeluarkan 383 izin mendaki Everest, dan mereka dikritik habis-habisan karena sembarangan memonetisasi ekosistem rapuh tersebut. Namun, bagi negara yang PDB per kapitanya hanya 835 dolar Amerika (setara Rp11,7 juta), jumlah pendakian ditingkatkan demi kepentingan nasional. Untuk tahun ini saja, ekspedisi Everest memberi pemasukan sebesar 442 juta rupee Nepal (Rp54 miliar).

Situasinya rumit. Banyak orang beranggapan pemangku kepentingan sektor swasta dan masyarakat madani menjadi pihak bertanggung jawab membersihkan Gunung Everest. Ang Tshering Sherpa, yang keluarga besarnya turun-temurun bekerja sebagai pemandu ekspedisi Everest, mengatakan membersihkan sampah banyak manfaatnya, baik untuk lingkungan maupun kegiatan bisnis.

Iklan

“Kalau ingin bisnisnya tumbuh, maka kita harus peduli lingkungan,” kata Ang (73).

“Kakek buyut saya memimpin ekspedisi sejak 1920-an. Tapi, Asosiasi Pendaki Gunung Nepal baru melaksanakan aksi pembersihan besar-besaran pada 1996. Saya berpartisipasi dalam acara ini dengan 40 Sherpa lainnya. Kami membawa pulang tujuh ton sampah.”

1568620782799-2011-05-25T120000Z_1003319963_GM1E75P1ME201_RTRMADP_3_NEPAL

Porter Nepal menggendong bawaannya dari basecamp Everest di Nepal. Foto: REUTERS/Laurence Tan

Aksi bersih-bersih ini didanai secara pribadi dan membutuhkan ribuan dolar. Berhubung tidak menerima dana pemerintah, aksi bersih-bersih ini dilakukan kadang-kadang saja.

Asian Trekking Pvt Ltd, agen perjalanan Ang Tshering, menyumbangkan 20 persen keuntungannya untuk aksi bersih-bersih tahunan sejak 2008. “Eco Expeditions” mereka telah mengumpulkan lebih dari 20,2 ton sampah yang terakumulasi di atas base camp Everest. Tujuh mayat juga berhasil diambil dari ketinggian 8.400 meter. “Tak mudah mengambilnya dari ketinggian itu,” imbuh Ang. “Jasad yang sudah membeku beratnya bisa mencapai 160 kg karena dikelilingi es. Sherpa melakukan ini karena mereka peduli lingkungan.”

1568620875008-Rescue-personnel-wrapping-a-dead-body-found-on-Everest

Tim penyelamat membungkus jasad yang ditemukan di Everest. Foto milik Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha, Nepal

Merasa tersindir, pemerintah Nepal memperkenalkan peraturan baru pada 2014. Kelompok pendaki diwajibkan menyetor $4.000 (Rp56 juta) sebelum mereka mulai mendaki. Uangnya akan dikembalikan apabila pendaki membawa sampah masing-masing seberat 8 kg.

Untuk mengendalikan masalah kotoran manusia, mereka meminta agar pendaki menyimpan semua sampahnya di tas dan dibuang ketika turun dari gunung. Tshering Tenzing Sherpa, koordinator LSM Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha (SPCC), mengklaim langkah ini terbukti efektif.

Iklan

Pada awal tahun ini, SPCC dikontrak pemerintah Nepal untuk memimpin aksi pembersihan gunung. Pada musim semi 2019, saat Everest dibuka untuk pendaki, sebuah tim delapan orang membawa turun 10,5 ton sampah dan tujuh jasad manusia. Tshering Tenzing mengatakan ia berencana melanjutkan operasi pembersihan ini selama sedikitnya lima tahun lagi.

1568621263357-Cleanup-Campaign-Team-at-EBC

Tim kampanye bersih-bersih di base camp. Foto milik Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha, Nepal

Kendati upaya tersebut, sekitar 30 ton sampah masih tersisa di Gunung Everest, menurut perkiraan Asosiasi Everest Summiteers. Bulan lalu, pemerintah Nepal melarang penggunaan plastik sekali pakai di kawasan Everest. Untuk mengurangi jumlah kematian, Nepal berencana membatasi jumlah surat izin dan hanya memperbolehkan orang yang pernah mendaki paling sedikit satu gunung setinggi 6.500 meter di Nepal sebelum mendaki Everest.

Solusi paling efektif adalah pendidikan, sosialisasi, kesadaran akan lingkungan, dan upaya berkelanjutan, tutur Tshering Tenzing. “Everest adalah ibu Nepal. Kami harus menyelamatkannya.”


Follow Omkar Khandekar di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India