Tradisi Meluncurkan Roket Untuk Memanggil Dewa di Thailand
Semua foto oleh penulis.
Thailand

Tradisi Meluncurkan Roket Untuk Memanggil Dewa di Thailand

Dalam kepercayaan setempat, dewa-dewi perlu dibangunkan dengan suara keras, salah satunya, memakai roket.
11.7.17

Panas begitu menyengat.

Sengatan matahari yang panas—bukan yang lainnya—yang pertama kali menyambutmu. Kawasan Isan, yang terletak di timur laut Thailand, memang tak terkira panasnya. Saya tak bercanda ketika bilang daerah ini benar-benar panas. Temperatur di kawasan pertanian ini tercatat pernah mencapai suhu 37 celcius Mei lalu sebelum musim hujan datang memutuskan rangkaian hari-hari yang kepalang panas.

Iklan

Di Provinsi Yasothon, petani setempat tak hanya mau berpangku tangan menungu musim hujan datang. Sekali dalam setahun para penduduk dataran ini—yang letaknya tak jauh dari perbatasan Thailand-Laos, menembakan roket buatan rumah ke langit sebagai sebuah ritual supaya dewa langit Phaya Taen ingat sudah waktunya menurunkan hujan. Festival tiga hari—yang dikenal dengan nama Bun Bang Fai (secara harfiah berarti "festival roket kebaikan")—digelar di seantero wilayah provinsi Yasothon. Namun, semua orang mengatakan bahwa festival yang paling ramai bisa dijumpai di ibukota provinsi tersebut, yang kebetulan bernama, Yasothon.

Kota Yasothon terletak sekitar 500km dari Bangkok dan selama tiga hari kota ini di akhir pekan kedua bulan Mei, kota ini penuh dengan roket. Perayaan Bun Bang Fai dimulai dengan arak-arakan dan ritual larung sebenarnya tak ramai-ramai amat. Kedua ritual ini pada intinya mengisahkan cerita rakyat tentang di balik perayaan Bun Bang Fai, sebuah legenda tentang perjuangan Raja Kodok dan Raja Sungai Mekong berjibaku dengan raja langit untuk mengakhiri musim kering yang berkepanjangan. Saban tahun, warga Thailand menembakan roket ke langit dalam rangka mengingatkan Raja Langit akan kekalahannya dan meminta hujan segera diturunkan.

Di hari kedua, festival dalam sekejap berubah menjadi pesta besar-besaran. Musik disetel kencang-kencang dari speaker yang di kanan kiri jalan, sementara para pembuat roket nongkrong di dekat panggung-panggung bang fai. Mereka berpesta dan minum-minum sampai semalam suntuk.

"Kami membentuk tim pembuat roket delapan tahun lalu untuk meneruskan adat istiada leluhur kamu," kata Srayuth, salah satu anak muda pembuat roket.

Iklan

Srayuth dan anggota timnya, semuanya lulusan SMA, menamai timnya "Intimate Friends," sebuah nama yang menggambarkan perkawanan erat sembari menutupi bahaya uang mengintip dalam setiap perayaan Bung Bang Fai. Di tahun 1999, sebuah bang fai meledak, menewaskan empat orang korab dan mencederai puluhan orang lainnya di Yasothon. Selang seminggy setelah saya meninggalkan Yasothon, kecelakan kembali terjadi. Kali ini, sebuah bang fai meledak tak lama setelah diluncurkan dan puing-puing roket jatuh menimpa penonton. Sepuluh orang diberitakan terluka.

Pada saya, Srayuth mengatakan meski berbahaya, ritual ini terlalu penting bagi komunitasnya. Jadi, perayaan ini akan terus diselenggarakan. "Bun Bang Fai punya arti mendalam bagi penduduk di sini karena berakar dalam cerita rakyat yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya," ujarnya. "Perayaan ini adalah cara kami memberi tahu para dewa bahwa kami menunggu mereka."

Ada bagian menarik lain dari perayan Bun Bang Fai—Perjudian. Saya bertemu seorang farang (bule) lainnya di Yasothon. Dia mewanti-wanti saya untuk mengawasi pecahan senilai 1.000 baht (setara Rp392 ribu) yang ditukarkan setiap satu roket diluncurkan. Tim yang kalah harus membayar sejumlah uang dan melumuri tubuhnya dengan lumpur. Seiring berjalannya festival hari itu, tim yang paling tidak hoki hari itu gampang sekali dikenali. Tinggal cari orang yang hampir seluruh tubuhhya ditutupi lumpur. Sementara, tim yang menjadi kampiun hari itu—yang roketnya terbang paling tinggi dan paling jauh—membawa pulang 50 ribu baht (setara Rp19,6 juta). Uang sejumlah ini sebenarnya terhitung kecil sebagai sebuah hadiah, hanya 4kali rata-rata gaji in Thailand.

Ketika pertama kali sampai di Yasothon, suhu tercatat di angka 32.7° Celsius dan hutan mulai turun secara sporadis. Dalam waktu sebulan lagi, musim hujan akan benar-benar tiba. Agak telat memang. Apa mau dikata, kadang kala raja dalam dunia dongeng sering datang terlambat ke puncak acara.