Screenshot dari video klip "SHINE" video via YouTube.
Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.Beberapa hari lalu, seorang kawan menunjukkan video lagu berjudul "Poser" milik grup rap asal Tokyo, kiLLA. Dilihat dari visual awalnya—lorong temaram penuh anak-anak berdandan ala gothic dan mengenakan baju-baju streetwear, saya enggak tahu bakal disuguhkan dengan musik dan video macam apa. Beberapa detik kemudian, video beralih ke rooftop sebuah gedung tinggi. Seorang pria memulai ngerap dengan kalem. Dari rima yang dilontarkan pria ini, kita tahu bahwa dia punya skill ngerap keren.Nama rapper ini kemungkinan besar kZm. Dari beberapa riset kecil-kecilan, saya menemukan kalau kZm bisa dengan mudah merapal rima-rima dalam video tersebut. Verse kedua lagu ini datang dari mulut seorang pria bernama KEPHA. Ketika sedang asik-asiknya ngerap, KEPHA memasukan efek auto-tune yang otomatis ngingetin kita pada lagu "Nice" milik Chief Keef. Seiring berakhirnya video, saya tahu saya sudah kesengsem kolektif rap asal Tokyo ini. Alhasil, malam itu, saya begadang menyusuri segala hal tentang kiLLa. Semua video mereka—baik itu yang tampil secara kolektif atau solo—yang beredar di internet. (kamu juga bisa menonton semua videonya sekarang kok).Kerennya lagi, kZm dan KEPHA bukan rapper paling keren dari kolektif ini. Masih ada tiga rapper keren lainnya—YDIZZY, Arjuna, and Blaise—yang kualitasnya di atas rata-rata. Skill mereka paling kentara dalam track "SHINE"—satu-satunya video kiLLa yang menampilkan semua anggotanya. Hook lagu ini sepintas lebih mirip dengan energi dalam lagu-lagu grime Inggris ketimbang rap downtempo ala Amerika Serikat. Keren lah pokoknya.Dalam video itu, YDIZZY muncul pertama kali dengan jaket bomber hijau (sudah pasti lengkap dengan lambang api khas merk jaket Kepang) dan langsung menggila ngerap di tengah jalan. Tapi yang bikin saya tercengang adalah ketika Blaise mulai beraksi. Rapper yang hampir sepanjang video anteng di bagian belakang berhasil bikin saya kaget bukan kepalang lantaran muncul sebagai seorang pria kulit hitam yang ngerap seperti A$AP Rocky and Travis Scott dalam bahasa Jepang. Berbeda dengan KEPHA yang menggelontorkan rima dengan woles, suara Blaise yang dalam sesekali terdengar seperti sedang menggerutu. Tone macam ini jarang saya dengar dalam spoken word Jepang. Lucunya, justru itulah yang bikin saya mabuk kepayang.Sebenarnya, masih banyak sisi dari kiLLa yang bikin kita melongo. Tiap anggota kolektif Tokyo punya karya solo yang sama-sama bisa kita nikmati di kanal Youtube kiLLa. Dari cara presentasi, variasi pola flow dan keragaman skill ngerap tiap anggotanya, sepertinya mudah untuk bilang bahwa kiLLa punya modal yang lengkap untuk jadi grup rap jempolan. Dan kalau dilihat dari rekaman live kiLLa memainkan "SHINE" live sih, kelihatan banget kalau mereka memang sudah jadi grup rap yang enggak bisa dipandang sebelah mata. Rekaman tersebut memperlihatkan ratusan penonton yang hapal semua lirik "Shine" asik meloncat mengikuti irama lagu dan bodo amat kalau mereka bakal terluka.Malah, kiLLa sepertinya tengah menyiapkan materi album mereka. Kemungkinan besar, apapun yang mereka garap sudah ditunggu oleh fan mereka. Buktinya, semua lagu kiLLa atau karya personelnya sampa tahun lalu sudah ditonton sebanyak 100,000. Antusiasme akan album perdana kiLLa sepertinya bakal membuncah lantaran sampai saat ini grup ini belum punya album.Saya tergolong dapat durian runtuh saat menemukan kiLLa. Penemuan macam ini pada akhirnya bakal kembali ngingetin kita alasan kenapa rap adalah salah satu genre musik paling kuat di planet ini. Lagipula, sepertinya wajar-wajar saja kalau Tokyo—kota yang namanya harum di kalangan fesyen dan teknologi—punya grup rap yang paham betul kultur dan estetika yang digilai anak muda. Musik Rap non-bahasa Inggris memang masih menyenangkan setidaknya karena banyak musisi dari seluruh penjuru dunia terus berusaha mencari cara mendekontruksi wajah genre musik ini.Meski bukan fenomena yang benar-benar baru, kiLLa bisa dibilang memulai sebuah gerakan yang menggambarkan bagaimana anak muda di ranah underground Tokyo melihat diri mereka sendiri. Lagipula, kalau kita pernah tergila-gila dengan kru BBK asal london yang dibentuk oleh Skepta, sepertinya wajib hukumnya bagi kita—terutama yang gemar menyia-nyiakan waktunya menjadi pengamat musik partikelir—untuk mengikuti perjalanannya karir kiLLa.Dan jika pun kiLLa tak berhasil jadi bintang rap besar, ada satu hal yang pasti: mereka sudah membekali diri dengan musik rap yang—bila dimainkan dan dipasarkan dengan benar—bisa bikin nama mereka mendunia.Lawrence Burney adalah staff writer Noisey. Follow Burney di Twitter .
Iklan
Iklan
