Musik

Konsep Album Kompilasi ala Indonesia Masih Keren Lho di Era Streaming

Dulu album kompilasi bikin artis yang bukan siapa-siapa jadi idola satu generasi anak muda. Namun, apakah format macam ini masih relevan saat algoritma bisa memahami selera musik kita?
22.12.17
Kolase Foto dari akun flickr Generation Bass dan Lia Kurtin. Lisensi Creative Common 2.0

Hobi mendengarkan musik adalah candu. Di era tanpa internet dan musik gratis, dompet seperti diperas habis setiap minggu hanya untuk membeli rilisan. Sudah seperti narkoba saja. Masih ingat album pertama yang dibeli waktu kelas 3 SD? Saya masih ingat. Ketika berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan bersama ibu, saya masuk ke sebuah toko kaset. Saya lupa sebabnya, tapi dengan mantap saya memilih kompilasi album Pesta Rap. Mungkin karena lagu-lagunya kerap wara-wiri di tv dan radio. Harganya juga Rp 8 ribu waktu itu.

Iklan

Kebiasaan ke toko kaset ditularkan kakak perempuan yang terpaut jarak usia enam tahun dengan saya. Saya sering menyelinap ke dalam kamarnya dan menemukan tumpukan kaset Dewa 19, Slank, Bon Jovi, Guns n Roses, Firehouse, dan Def Leppard. Tapi buat anak SD yang cuma dapat uang saku 500 perak per hari mana mungkin mengoleksi kaset? Harus menabung mati-matian enggak jajan setiap hari dong?

Maka album kompilasi adalah jalan pintas mengoleksi berbagai macam musisi tanpa harus sibuk membeli setiap rilisannya. Harganya lebih ekonomis tentu. Toh pasti ada beberapa lagu yang enggak kita suka dalam satu album kan? Kompilasi membereskan hal tersebut karena biasanya hanya memuat hit single terbaiknya.

Album kompilasi adalah sebuah zeitgeist. Ia adalah geliat zaman. Tak cuma di sektor musik skala besar, di bawah tanah, kompilasi macam Masaindahbangetsekalipisan, Brain Beverage, Metalik Klinik, JKT:SKRG, dan Jakarta Movement ‘05, adalah arsip sejarah. Entah berapa banyak kompilasi album yang menyusul muncul kemudian dengan meniru formula yang sama.

Tapi album kompilasi juga tak luput dari bermacam tuduhan. “Ah, itu kan cuma trik marketing label rekaman buat merampok duit fans!” atau “Ngapain sih merilis kompilasi berisi lagu lama yang sebelumnya udah dirilis? Buang-buang duit aja!”

Tuduhan itu enggak sepenuhnya salah, tapi jelas menafikan sesuatu bahwasanya akses terhadap musik masih terbatas di beberapa kalangan masyarakat. Dan album kompilasi menawarkan akses tersebut. Tentu dengan harapan bahwa nantinya Anda akan membeli album penuh dari artis yang ada di kompilasi tersebut. Ya memang sebuah trik marketing pada akhirnya.

Trik tersebut manjur. Pesta Rap terjual sampai 270 ribu keping dalam setahun, hingga sampai dibuatkan sekuel Pesta Rap 2. Itu sebuah angka lumayan di masanya. Kompilasi Indie Ten juga sempat laris manis sampai dibuatkan triloginya.

Nah, ngomong-ngomong soal Indie Ten, kompilasi tersebut menobatkan Jan Juhana sebagai A&R kelas wahid di Indonesia. Lho, bukannya berlebihan, tapi mayoritas band-band ‘kemarin sore’ yang muncul di kompilasi tersebut rata-rata menjadi jawara blantika musik nasional. Jelas, band-band yang terkurasi dengan baik tersebut mendapat eksposur lebih luas di masyarakat.

Iklan

Coba cek kurasi bapak Jan Djuhana di kompilasi Indie Ten, niscaya enggak semua orang punya kemampuan mendengar dan memprediksi tren musik. Sungguh luar biasa jasa pak Jan ini bagi Indonesia. Saya sampai takjub dan memutuskan membeli kompilasi tersebut waktu SMP.

Jangan nge-judge saya norak, kampungan, dan punya selera musik jelek dulu. Sebelum Nirvana booming, di kampung aing ya band-band macem Cokelat dan Wong yang ngetren. Saya masih inget pulang sekolah belajar progresi chord lagu Tak Ingin di kelas yang kosong bareng temen-temen paling gaul di sekolah.

Sabar-sabar. Jangan menuduh yang lebih jauh. Bukannya sombong, gini-gini saya juga mendengarkan musik underground loh! Yang paling obskur kalau bisa. Apa kalian punya

kaset kompilasi Brain Beverages di rak koleksi? Wah kalau enggak punya kalian adalah domba-domba underground yang tersesat.

Coba simak track-track milik Savor of Filth, Blind to See, atau Full of Hate. Ini soal sejarah bung! Jangan sampai Anda kenal Seringai tapi enggak tahu apa-apa soal Puppen. Ini juga soal kekaffahan underground lur…

Oke sudah cukup menyombongkan diri soal level ke-underground-an saya. Mari kembali ke soal kompilasi Indie Ten. Strategi mangkus tersebut sayangnya tidak diteruskan oleh pihak Sony. Indie Ten mandeg cuma sampai vol. 3. Padahal kalau di luar negeri, kompilasi macem Now! That’s What I Called Music atau So Fresh! bahkan bisa dirilis sampai berpuluh-puluh volume dan tersebar di penjuru dunia. Wuow! Tapi woii! Itu kan luar negeri, enggak usah dibandingkan lah.

Sayang, jika sekarang label rekaman ngos-ngosan menjual rilisan sampai-sampai harus di-bundling dengan ayam goreng, nasib album kompilasi tak kalah ngenes. Album kompilasi tak lagi dilirik sebagai strategi yang menguntungkan.

Iklan

Ngapain beli album kompilasi yang dikurasi sama produser yang belum tentu tahu selera musik kita yang edgy naudzubillah? Lagi pula orang-orang sekarang sudah cerdas bikin mixtape sesuka hati (salah satunya berkat ajaran Rob Gordon di High Fidelity). YouTube dan layanan streaming menawarkan musik 24/7 non-stop - kecuali paket kuota lagi kering - yang memungkinkan kita menyusun playlist suka-suka, tanpa perlu khawatir head tapedeck Anda jamuran atau CD player baret-baret karena keseringan nyetel CD bajakan.

Maka kompilasi menjadi anakronistis jika melihat perubahan pola konsumsi musik saat ini, apalagi basisnya makin bertumpa pada industri streaming. Alih-alih sibuk promosi jualan album kompilasi, banyak label rekaman kini dengan segala ketabahan hati justru menggratiskan lewat sistem unduh atau merilis sampler (lagi-lagi gratis) berisi artis-artis pendatang baru.

Tapi apakah bener nasib album kompilasi di Indonesia sudah tamat? Belum sepenuhnya. Kompilasi dangdut koplo pantura dan karaoke lagu evergreen Pance Pondaag dan Broery Marantika masih menjamuri lapak-lapak bajakan di seantero negeri. Di level anak muda generasi Z macam kita-kita kompilasi macam Memobilisasi Kemuakan, Organize!, Dentum Dansa Bawah Tanah, masih menunjukkan gelagat bahwa skena lokal masih asyik ditelusuri, tanpa harus merengek manja sambil bilang “zaman old lebih asyik dibanding sekarang!”

Ya kalau kamu bertanya kepada saya apakah album kompilasi itu masih keren, saya bakal jawab masih. Saya juga enggak malu kalau bilang saya masih suka mendengarkan kompilasi Indo Hits yang isinya ada lagu Kangen dari Dewa 19.

Bukankah kita semua punya guilty pleasure? Emang Anda polisi selera yang gemar menghakimi mana yang keren didengarkan mana yang tidak?