Gender

Terbiasa Mendengar Guyonan Seksis Membuat Lelaki Berperilaku Misoginis

Penelitian ilmiah mengungkapkan dampak majalah pria penuh humor seksis yang mempengaruhi sikap laki-laki jadi berperilaku misoginis serta berisiko terlibat kekerasan seksual.
5.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Menurut penelitian yang diterbitkan Jurnal Psychology of Men and Masculinity, majalah pria yang mengobjektifikasi perempuan dan merayakan hipermaskulinitas mengesankan seksisme sebagai hal lumrah di antara laki-laki muda. Meski majalah-majalah tersebut mengalami kendala finansial, contohnya Maxim, atau bahkan tutup sepenuhnya seperti majalah berbasis Britania Raya Loaded dan Nuts, beberapa tahun terakhir "budaya bung-bungan" ini terus membuncah baik di Internet maupun kampus-kampus universitas, menurut catatan para peneliti. Dalam tiga penelitian berseri, sang penulis mengungkapkan "bagaimana sumber konkret pengaruh sosial—dalam hal ini majalah pria—dapat membentuk ekspresi prasangka yang tidak bisa ditolerir pada sebuah masyarakat egaliter." Dalam penelitian pertama, para peneliti mensurvey 423 laki-laki dengan rentang usia 18 hingga 30 tahun yang hidup di Britania Raya, dan menanyakan soal seberapa banyak para laki-laki mengonsumsi majalah pria dan apakah mereka membayar untuk berhubungan seks. Mereka juga diminta untuk berbagi soal sikap mereka terhadap perempuan dan tanggapan-tanggapan mereka soal mitos terkait agresi seksual. Menurut penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa "seksisme ambivalen memprediksi sikap terhadap konsumsi majalah pria, namun tidak bentuk lain konsumsi seks (misalnya membayar untuk berhubungan seks atau pergi ke klab penari bugil). Penelitian kedua membantah asumsi bahwa laki-laki yang membaca kelakar seksis di majalah pria menganggap hal itu ironis alih-alih kasar—sebuah argumen pembelaan yang basi dari para editor majalah-majalah tersebut. Delapan puluh satu mahasiswa laki-laki diberi tunjuk kelakar dari majalah pria dalam dan di luar konteks majalahnya dan diminta memberikan nilai dalam skala kekasaran, ironi, dan humor. Para peneliti menemukan bahwa kelakar-kelakar tersebut tidak dianggap lebih ironis ataupun humoris ketika ditunjukkan dalam dan di luar konteks majalahnya. Pada penelitian terakhir, para peneliti penasaran apakah orang-orang akan memiliki pandangan berbeda soal majalah pria ketika ditunjukkan bukti kemiripan diskursus majalah tersebut dengan diskursus pemerkosa. Mereka menanyakan 274 mahasiswa sarjana di universitas AS untuk menyortir kutipan, kebanyakannya kasar atau mendeskripsikan kekerasan, dari majalah pria dan mereka yang dikaitkan dengan pemerkosa.
Beberapa contohnya, sebagaimana dilaporkan oleh The Independent, termasuk:

Iklan

  • "If your girl is making a face that seems forced during sex, then she's pretending to enjoy you, but if she looks like she's just been punched in the kidneys, she's in the moment." ("Kalau cewek elo ngasih tampang yang rada maksa pas ngewi, berarti dia pura-pura keenakan. Tapi kalau dia kelihatan kayak ginjalnya habis ditonjok, baru deh dia benar-benar nikmatin ngewi sama elo.")
  • "If the girl you've taken for a drink won't spread for your head, think about this mathematical statistic: 85 per cent of rape cases go unreported." ("Kalau cewek udah elo traktir minum engga mau ngangkang di depan muka elo, inget aja statistik matematis ini: 85 persen kasus pemerkosaan engga dilaporkan.")
  • "You know girls in general are all right. But some of them are bitches … The bitches are the type that … need to have it stuffed to them hard and heavy." ("Elo tau lah, cewek-cewek pada umumnya sih oke. Tapi beberapa tuh bitch doang… Yang bitch tuh tipe yang… perlu dijejelin kontol ke memeknya.")

Dari 16 kutipan, peneliti menemukan bahwa hanya setengahnya dicirikan dengan tepat oleh mahasiswa. Peserta kemudian melaporkan "percaya konten majalah pria kurang bagus setelah membaca bahan-bahan yang disodorkan."

Peter Hegarty adalah profesor di University of Surrey dan peneliti utama penelitian tersebut. Hegarty bilang majalah pria pada umumnya "memperluas jenis seksisme yang dianggap normal oleh laki-laki"

Trump pernah bilang orbolan seksis antar laki-laki ibaratnya percakapan di 'ruang ganti pria'. Pleidoi itu bisa dimaknai, "semua berhak laki-laki bicara seenaknya tanpa perlu khawatir ada konsekuensinya."

"Saya pertama kali tertarik pada majalah pria karena mahasiswa perempuan muda seringkali membicarakannya dan menganggapnya menjijikan dan sulit ditantang karena sudah menjadi norma," ujarnya pada Broadly. "Laki-laki yang sering membaca majalah pria menilai angka lebih tinggi pada beberapa pengukuran seksisme, termausk penerimaan mitos modern tentang kekerasan seksual." Ketika ditanya apakah perempuan perlu khawatir terhadap laki-laki yang membaca majalah tersebut dengan khusyuk, dia menyarankan mereka "perlu khawatir." Penelitian Hegarty bukan lah yang pertama untuk mengungkapkan bahaya dari humor seksis. Beberapa penelitian telah mendokumentasikan korelasi antara budaya menyalahkan korban dan kecenderungan memerkosa. Media kini telah menjadi bagian dari publik dan terus mendebat video Donald Trump tahun 2005 yang baru dirilis, yang mana dia menyombong telah menyerang banyak perempuan. Sejak saat itu dia mengeluarkan pembelaan "itu kan pembicaraan ruang loker."

"Trump pamer soal serangan seksual, membuat jutaan perempuan merasa tidak aman, dan menolak hal tersebut dianggap serangan dengan mengatakan semua laki-laki melakukannya," ujar Hegarty. "Konsep 'ruang ganti pria' yang disebutkan Trump berarti 'semua laki-laki bicara dengan cara ironis, engga ada konsekuensinya." Namun, kata Hegarty, penelitian tersebut menyiratkan konteks sosial memiliki dampak terhadap seksisme apa yang akan dianggap OK atau tidak OK oleh laki-laki.