Ruangan gelap itu hanya cukup untuk sebuah kasur yang bisa menampung dua orang dan satu lemari kayu. Ada kamar mandi di pojokan, tapi tak lebih dari itu. Ruangan tersebut, yang lebih mirip tempat singgah ketimbang tempat tinggal, adalah rumah bagi Abussari Hussen bersama lima anggota keluarganya. Rumah petak kecil di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat itu menjadi tempat bernaung keluarga Hussen selama empat bulan terakhir. Keadaan yang memprihatinkan kata para pejabat berwenang dijanjikan hanya berlangsung sementara. Hussen dan keluarganya, pencari suaka asal Irak, sedang dalam penantian untuk mendapatkan izin transmigrasi menuju negara penerima. Kemungkinan besar Amerika Serikat. Namun, seiring terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) Donald Trump melarang masuk warga tujuh negara mayoritas muslim ke Amerika Serikat, Hussen terkena dampaknya. Irak masuk dalam daftar tujuh negara terlarang bagi sistem imigrasi Negeri Paman Sam. Pencari suaka seperti Hussen kini terancam terjebak penantian tak berujung di Indonesia: tanpa pekerjaan dan, sedikit demi sedikit, harapan segera sirna. "Saya tidak bisa pergi ke mana-mana karena tidak ada uang yang tersisa," kata Hussen pada VICE Indonesia. "Jadi saya hanya bisa menunggu, menunggu, dan menunggu." Hussen berasal dari kota Samawah, Irak—jaraknya 280 kilometer di selatan Ibu Kota Baghdad. Kota itu dulu, di masa damai, memiliki populasi 150.000 jiwa. Hussen melarikan diri dari kampung halamannya tahun lalu seiring memburuknya situasi keamanan. Kota itu merupakan wilayah paling pertama diserahkan kepada otoritas Irak ketika militer AS ditarik bertahap. Pada 2006, kekerasan kembali mencuat di Samawah, akibat datangnya militan Syiah dari kelompok Badr yang memasuki kota. Hussen, yang juga seorang Syiah, awalnya tidak peduli dengan sepak terjang milisi yang mencoba menguasai kotanya dari pengaruh Baghdad. Badr adalah milisi yang disokong dana asal Iran. Istrinya dari keluarga pemeluk mazhab Sunni. Hingga suatu hari, Hussen mengkritik terbuka aktivitas Badr ketika mengikuti pertemuan warga. Para milisi merespon pembangkangan kecil itu dengan kekerasan. Seorang laki-laki mendatangi kediaman Hussen, lalu tanpa babibu, menembaknya. Untung nyawanya selamat. Saat itulah dia sadar sudah waktunya berkemas dan enyah dari Samawah selama-lamanya "Setelah ada milisi menembak saya, saudara laki-laki saya bilang, 'Pergi [dari Irak], jangan menetap lebih lama lagi," ujar Hussen.
Seorang perempuan mengintip celah kantor UNHCR di Jakarta. Foto oleh Cassie Martin
Hussen terbang ke Doha, Qatar, bersama istrinya, anak laki-lakinya berusia delapan tahun, dan dua anak perempuannya—keduanya menderita disabilitas otak. Mereka pergi dari Doha ke Kuala Lumpur, jalur populer bagi para pencari suaka. Setidaknya target yang mereka sasar adalah Australia. Terdapat 150.669 pencari suaka terdaftar di Malaysia, menurut United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Cabang di Kuala Lumpur adalah salah satu kantor UNHCR tersibuk. Kerja petugas UNHCR di Malaysia itu dianggap sebagai yang terbaik sedunia, setidaknya dibanding kamp-kamp pengungsian di bawah pengawasan PBB lainnya. Sepuluh tahun terakhir, lebih dari 100.000 pengungsi telah bertransmigrasi ke negara-negara dunia ketiga lainnya, memulai hidup baru. Bagaimanapun, bagi sebagian besar pengungsi, penantian di Kuala Lumpur terlalu panjang. Hussen sempat meyakini, seperti semua pencari suaka yang kini terdampar di Indonesia, waktu tunggunya bakal singkat di Jakarta. Dia membayar seorang penyelundup manusia sebesar US$2.700 (setara Rp36 juta), menguras nyaris seluruh tabungannya, naik kapal bersama keluarga dan melakoni sebuah perjalanan yang menegangkan. Mereka akhirnya terdampar di Kota Medan, Sumatra Utara. Para pelaku penyelundupan manusia kerap memanfaatkan ketakutan yang menghantui para pencari suaka di Malaysia. Mereka menyakinkan pencari suaka bahwa mereka punya peluang hidup nyaman di Indonesia. Penyelundup pun mengiming-imingi jika bersedia pergi ke Indonesia kesempatan mereka ditempatkan di negara maju akan lebih besar. Sudah terlalu banyak impian yang hancur seketika mereka tiba di Indonesia.
Salah satu pencari suaka dari Somalia yang kami temui di Jakarta Pusat mengaku dibohongi. Dia awalnya diberi tahu seseorang, bahwa tak ada perwakilan UNHCR di Malaysia. Akhirnya dia setuju diangkut ke Indonesia. Nyatanya, setiba di Jakarta, yang mereka temukan adalah cabang UNHCR yang lebih kecil dibanding Kuala Lumpur. Dan mereka justru menunggu lebih lama. Hussen diberitahu bahwa dia tak akan bisa bertemu perwakilan UNHCR sampai Juli 2018 mendatang. Hingga saat itu tiba, yang bisa dilakukan Hussen hanya menunggu. Hukum Indonesia melarang sepenuhnya pencari suaka bekerja. Hussen menawari kami segelas kopi. Keramahannya tak luntur walaupun kondisi yang dia hadapi sebetulnya suram. Satu anak perempuannya lumpuh dari pinggang ke bawah. Tangan anak laki-lakinya patah. Cedera itu hanya dirawat dengan gips seadanya. Keluarga ini tidak punya dana berobat. Setelah beberapa gelas kopi tandas, tema pembicaraan kami kembali gelap. Hussen menyela beberapa pertanyaan kami dengan ucapan murung. "Mungkin sekarang lebih baik saya mati." Pencari suaka seperti Hussen punya tiga pilihan yang tersisa. Menunggu sampai 2018 sampai semua keluarganya diperkenankan bermukim di Jakarta, mengumpulkan cukup uang untuk menyewa kapal kembali ke Malaysia, atau—ini pilihan terakhir—kembali ke Irak yang kondisinya semakin parah akhir-akhir ini. Pada Mei 2016, simpatisan ISIS meledakkan dua buah bom di Samawah. Lebih dari 30 orang tewas dan 75 orang lainnya luka-luka. "Lihat apa yang terjadi di Irak sekarang" ujar Hussen. "Semuanya tak jauh-jauh dari perang, perang, dan perang. Anda tak bisa hidup di Irak saat perang. Setiap hari ada yang tewas, minimal empat sampai lima orang."
Warung dekat kantor UNHCR Kebon Sirih, Jakarta. Di tembok ada poster pengumuman tertutupnya peluang imigrasi ke Australia.
Harapan bisa segera menemukan negara baru bagi pencari suaka yang terjebak di Jakarta sebatas angan-angan kosong. Ada 14.405 pencari suaka yang terdaftar di Indonesia merujuk data UNHCR. Amerika Serikat menjadi negara yang jadi tujuan utama pemukiman kembali pencari suaka di Indonesia. Tahun lalu, Negeri Paman Sam itu menerima 790 pengungsi yang lama ditampung Indonesia. Demikian keterangan yang kami dapat dari Febi Yonesta, juru bicara Indonesian Civil Society Network for Refugee Rights Protection. Sayangnya, kebanyakan pengungsi yang terdampar di Indonesia berasal dari negara mayoritas muslim, yang statusnya dilarang masuk AS oleh dekrit baru Donald Trump. Mereka lari dari kekejaman yang tak terbayangkan, bertaruh nyawa di lautan terbuka, tertipu para penyelundup manusia, dan sampai di Indonesia hanya untuk menyaksikan betapa dunia semakin tertutup bagi mereka. Tak ada yang bersedia menerima para pengungsi.
Australia menutup perbatasannya bagi semua pengungsi yang datang ke Indonesia setelah 1 Juli 2014. Tahun lalu ada ratusan pengungsi yang memenuhi syarat untuk bisa bermukim di AS. Kebanyakan dari mereka tak memiliki masa depan yang jelas kecuali berkesempatan pergi ke negara yang kini diperintah Trump. Berjuang menggapai 'American Dream' yang kesohor itu. "Saat ini, ada 862 pengungsi yang mendaftar untuk bisa bermukim di AS dan mereka akan terdampak kebijakan imigrasi terbaru Donald Trump," ungkap Febi. Baik Malaysia atau Indonesia tidak menandatangani konvensi pengungsi internasional. Menurut Febi, meski tak ikut meratifikasi konvensi tersebut, Indonesia sebenarnya bisa membangun sebuah sistem yang memungkinkan agar para pelarian itu bisa berintegrasi di Tanah Air. "Misalnya dengan membuka akses ke pekerjaan, pendidikan dan akses kehidupan lainnya," ujarnya.
Gelas kopi masih ada di meja. Hussen meralat kata-kata sebelumnya soal keinginan mati. Dia ternyata siap hidup lebih lama. Demi anak-anaknya. "Saya akan pergi ke negara yang memberi saya kehidupan yang tentram, yang memberi saya kebebasan," ujar Hussen. "Karena kami sampai di sini demi masa depan anak-anak kami. Allah masih menganugrahi saya waktu. Allah juga yang memberi saya kekuatan. Malam ini saya tak akan tidur. Karena jika saya mati, dunia untuk anak-anak saya akan lenyap."