Bajak Laut

Selat Malaka dan Laut Sulu Jadi Zona Perompakan Paling Berbahaya Bagi Indonesia

Data lembaga independen menunjukkan situasi keamanan laut di Asia Tenggara masuk taraf berbahaya, mendekati Somalia.
6.3.17

Sineas Hollywood barangkali masih menggunakan Somalia sebagai latar film bertema pembajakan kapal era kontemporer. Tapi, melihat data termutakhir, bukan tidak mungkin nantinya Indonesia akan menjadi latar cerita film-film semacam itu.

Pangkalnya adalah data dari The International Chamber of Commerce (ICC) dan International Maritime Bureau (IMB) yang menyebut Asia Tenggara sebagai salah satu pusat perompakan kapal paling parah di dunia.

Iklan

Dua tahun lalu, ICC dan IMB menyebutkan bahwa angka pembajakan laut di kawasan perairan ASEAN mencapai lebih dari setengah total pembajakan dan perampokan bersenjata di laut dunia. Faktor tersebut menjadikan tingkat pembajakan dan perampokan laut kawasan ASEAN dibanding-bandingkan dengan Afrika dan Asia Timur. Data itu baru mencakup 2015. Sementara menurut versi ICC dan IMB terjadi peningkatan kasus perompakan kapal di Asia Tenggara setiap tahun sejak 2006.

Arie Soedewo, Kepala Badan Keamanan Laut Indonesia mengakui bila perairan Selat Malaka merupakan wilayah paling berisiko mengalami perompakan dari sudut pandang pemerintah. "Kita sedang concern terhadap yang katanya international memandang Selat Malaka sebagai 'The Most Dangerous Waters in The World'," ujarnya saat dihubungi VICE Indonesia. "Angkatan laut sejak 1998 sudah menjalin kerjasama dengan Negara-negara, ada juga Malacca Strait Sea Patrol."

Di luar Selat Malaka, pusat ancaman laut di ASEAN sebetulnya mulai berpindah ke Selat Sulu, antara Malaysia-Filipina. Di perairan itulah, berulang kali pelaut Indonesia diculik oleh kelompok militan Abu Sayyaf sepanjang 2016. Masalah di Sulu ini lebih pelik karena insiden penculikan selalu terjadi di luar wilayah kerja TNI maupun Bakamla.

"Saya koordinasi dengan kementerian perhubungan, dan juga kementerian kelautan. Tapi dari beberapa kali kejadian kan bukan di perairan Indonesia, masih ada di Laut Sulu. Nah kalau begitu yang namanya Law Enforcement kan tidak punya hak untuk ke daerah kedaulatan Negara lain," kata Soedewo. "Tapi kapal keamanan di laut ini lewat jalur Kementerian Luar Negeri, bekerjasama dengan Filipina."

Soedewo tidak sepakat dengan julukan 'Most Dangerous Waters in The World'. Namun faktanya, angka kejahatan laut di ASEAN sangat mengkhawatirkan. Pembajakan dan perampokan bersenjata laut dianggap sebagai konsekuensi logis dari kondisi perairan Asia Tenggara, terutama perairan Selat Malaka dan Selat Singapura yang menjadi jalur transportasi dan distribusi utama. Dikutip dalam TIME, tiap tahunnya sekitar 120,000 kapal melintasi jalur ini angka tersebut adalah sekitar sepertiga dari perdagangan lintas jalur lautan. Belum lagi sekitar 70-80 persen minyak yang diimpor oleh Cina dan Jepang transit di jalur ini.

Eric Frécon, asisten profesor di French Naval Academy menulis soal kajian Pembajakan Laut di Indonesia, Chez les Pirates d'Indonésie melakukan serangkaian wawancara dengan beberapa sumber lokal di Batam sekitar 2009 hingga 2012 dan menyadari bahwa perompak lokal kelas kakap benar-benar punya kuasa tinggi dan jaringan yang sistemik.

Karsten von Hoesslin selaku Pakar Keamanan Maritim menyatakan perompakan kapal di perairan Asia Tenggara sudah berubah, dari awalnya amatiran menjadi lebih terencana. Dia menulis dalam laporan akhir tahun 2013 Risk Intelligence bahwa modus operandi di asia Tenggara secara general bisa dikategorikan sebagai perampokan murni, tinggal sedikit lagi mendekati pembajakan yang menarget kapal tanker dan muatan minyak kelapa sawit.

Soedewo berukuh bila Indonesia tidak pantas dikategorikan sebagai negara dengan kawasan perairan paling berbahaya terkait pembajakan dan perampokan. Kendati demikian, Bakamla juga masih belum memiliki data resmi berapa kali terjadi perompakan kapal 10 tahun terakhir. Dia mengklaim bahwa keamanan laut di Selat Malaka membaik, dilihat dari sudut pandang tidak adanya kasus yang menarik perhatian internasional seperti yang terjadi di Filipina. "Artinya kalau itu terjadi di Selat Malaka artinya itu bagian dari Indonesia, apakah pernah terjadi di Indonesia pembajakan sehingga datang kekuatan internasional untuk membebaskan tawanan kapal yang disandera?" Soedewo berkomentar. "Kalau tolok ukur itu ada di Indonesia, boleh lah mengatakan kalau itu adalah the most dangerous waters in the world. Tapi kalau cuma isu, sedangkan kita sendiri juga bertanya data dari mana?"