Menjelajahi Perkembangan Mengasyikkan Seni Jalanan Bali

FYI.

This story is over 5 years old.

Graffiti

Menjelajahi Perkembangan Mengasyikkan Seni Jalanan Bali

Di Canggu, mural-mural menyita perhatian semakin mudah ditemukan. All Caps kini jadi pusat graffiti Pulau Dewata.

Ada yang spesial dari tembok-tembok Bali. Daerah yang kini semakin hip seperti Canggu adalah ladang subur bagi kancah seni jalanan. Mural-mural tersebar dari sawah hingga kafe kekinian. Galeri berupa bangunan terbuka bernama All Caps adalah pusat itu semua. Toko persediaan graffiti ini pertama kali di buka tahun 2015 dan mengubah gudang pengeringan padi menjadi galeri untuk seniman-seniman graffiti Pulau Dewata. "Sebagian orang masih memandang graffiti sebagai vandalisme. Kami ingin menunjukkan bahwa graffiti juga bisa menjadi wujud seni," ujar Julien Thorax, pemilik toko. "Intinya adalah menghargai para vandal lokal. Mereka punya hak untuk melakukan yang mereka inginkan, untuk nge-tag, bomb, dan kabur." Julien Thorax, atau TraX, telah mendokumentasikan dan mengoleksi seni jalanan sekeliling Eropa selama dekade terakhir. Dia memiliki karya-karya seperti Banksy, OSGEMEOS, dan Invader. Di 2015, Julien tiba di Bali dam mulai bekerja bersama penulis graffiti lokal dan seniman jalanan. Mereka merencanakan acara-acara, tur, dan mendokumentasikannya secara daring. Salah satu seniman yang ditemukan Julien adalah DOBY, yang merupakan salah satu pelopor All Caps. "Dengan jumlah seniman yang terlibat—atau lebih tepatnya, melibatkan diri—pada acara-acara yang diadakan di ruang publik, dan meningkatnya angka graffiti di area pedesaan. Komunitas lokal mulai memahami graffiti dan kesenian jalanan," ujar DOBY.
Orang-orang perlahan menerima graffiti sebagai wujud kesenian di Bali, tapi masih sangat berisiko untuk mempraktikkan keterampilan ini di bagian tertentu di Bali, kata DOBY. Di Denpasar, graffiti tersebar di mana-mana, tapi hal itu tetap dipandang sebagai vandalisme.
"Tapi di luar Denpasar, di Canggu misalnya, orang-orangnya sedikit lebih bisa menerima karena industri turisme di Canggu," ujar Tiger, seniman yang sedang residensi di All Caps. "Secara otomatis ornag-orang akan membuka diri terhadap ide bahwa graffiti bisa jadi seni. Jadi, bisa lebih dimengerti. Sebagian orang engga keberatan atau bahkan meminta temboknya dilukis." Julien bilang persebaran mural-mural besar dan rumit, dan acara-acara seperti Tropica Festival, salah satu acara graffiti dan seni jalanan terbesar di Asia, akan meningkatkan kesadaran graffiti sebagai karya seni. Tapi diperlukan upaya khusus untuk mengedukasi seniman graffiti yang sedang berkembang mengenai potensi negatif dari perilaku asal throw-ups dan menyebar tags. "Di Bali, karma dan rasa hormat adalah hal penting, jadi kita mencoba berkomunikasi dengan seniman-seniman yang lebih tertarik melakukan bombing," ujarnya. "Kami menghimbau para seniman agar bijaksana saat menggunakan cat mereka."

Iklan

Semua foto dari All Caps