Setelah Suriah, Trump Beri Sinyal Tak Ragu Sekalian Menyerang Korea Utara

Perintah pengiriman kapal induk AS ke perairan Korsel membuat Pyongyang meradang. Trump menambah panas suasana lewat twitnya yang merendahkan Korut dan Cina sekaligus.
12.4.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut-sebut tak punya konsep politik luar negeri yang jelas sebagai pemimpin Negeri Adi Daya. Seminggu terakhir, dugaan banyak pengamat tampaknya keliru. Dia justru lebih tepat titisan mendiang Presiden Theodore Roosevelt yang dikenal sangat agresif, presiden legendaris AS yang pernah mengucapkan kalimat terkenal ini: "berbicaralah dalam suara yang lembut tapi sambil membawa tongkat pemukul besar."

Ya, Trump rupanya presiden yang sangat agresif, tak ragu memamerkan menenteng tongkat besar militer negaranya—seperti sudah dia tunjukkan saat memerintahkan serangan rudal Tomahawk ke pangkalan udara Suriah akhir pekan lalu—tapi sama sekali tidak mengamalkan ajaran Teddy Roosevelt agar berbicara lembut. Trump masih aktif mencuit di Twitter tanpa sedikitpun filter, serta bahasanya bisa membuat merah kuping negara-negara lain.

Hanya berselang empat hari setelah membuat seluruh dunia terkejut karena mendadak menyerang Suriah (dan kabarnya akan dia lanjutkan dengan operasi militer susulan dalam waktu dekat), Trump kini berganti cari gara-gara dengan Korea Utara. Presiden Negeri Paman Sam itu memerintahkan pengiriman kapal induk USS Carl Vinson, ditemani beberapa kapal perusak kecil, menuju perairan Korea Selatan. Momentum pengiriman kapal induk ini bisa ditafsirkan sebagai provokasi aktif, mengingat Korea Utara akan merayakan hari kelahiran Bapak Bangsa Kim Jong-il pada 15 April. Dalam momen-momen seperti ini, Pyongyang biasanya menggelar pawai militer ataupun uji coba nuklir. Hubungan dengan Korsel juga sedang panas-panasnya. Lalu datanglah kapal perang AS, yang memicu kekhawatiran sebagian penduduk Korut di pinggiran negara totaliter tertutup itu. Ada rumor Trump akan 'men-Suriah-kan' Pyongyang.

Sinyal-sinyal Trump tak akan ragu bersikap tegas pada rezim pemerintahan Kim Jong-un telah dia ucapkan ketika menerima lawatan Presiden Cina, Xi Jinping, pekan lalu. Trump menyatakan sedang mencari "solusi menuntaskan persoalan Korea Utara." Jika Tiongkok tak membantu, kata Trump, AS siap mencari dan menyelesaikan dengan caranya sendiri. Tentu saja karena ini Trump, kata-kata agresif serta congkak itu kembali dia umbar di Twitter pada Selasa (11/4) pagi waktu setempat.

Korea Utara sampai sekarang selalu membuat repot sesama negara di kawasan Asia Pasifik, karena berulang kali menggelar uji coba nuklir serta peluru kendali lintas benua. Korut seakan mengabaikan sanksi internasional yang sudah dijatuhkan sejak tahun lalu agar berhenti melakuan uji coba nuklir. Ambisi Korut menguasai senjata nuklir sejak lama diramalkan bisa memicu Perang Dunia III seandainya tak direspons cerdas oleh negara superpower dunia. Realitanya, Cina sampai sekarang masih melindungi rezim Pyongyang. Demikian pula Rusia. Sementara Korsel dan Jepang mendesak AS bersikap lebih tegas membela mereka, menekan sepak terjang Kim Jong-un yang mirip preman suka merundung negara tetangga.

Komentar Trump di Twitter, serta kebijakan mengirim kapal perang ke perairan Korsel sontak memicu kecaman dari pemerintah Negeri Para Pertapa Itu. Kementerian Luar Negeri Korut menyebut kebijakan Trump "sembrono", serta mengacam ada risiko terjadi "konsekuensi fatal" jika AS berani menyerang negara mereka.

Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, bulan lalu sudah menyinggung Korea Utara sebagai biang masalah di Asia. Dia bilang, program pengembangan nuklir Pyongyang masuk tataran patut diwaspadai. "[Korut] terus mengembangkan program persenjataan yang bisa memaksa kami mengambil kebijakan antisipatif." Ketika ditanya wartawan apakah artinya AS akan menyerang Korut seandainya muncul indikasi marabahaya, Tillerson bilang "opsi [serangan militer] tentu tetap kita pertimbangkan."

Rusia sampai merasa perlu membicarakan rencana AS menghadapi Korea Utara. Tillerson sat ini berada di Moskow untuk membahas masa depan Suriah. Namun pihak Rusia mengaku "sangat khawatir" melihat perkembangan tensi politik di Semenanjung Korea, seperti dikutip dari keterangan tertulis Kremlin.

Sejauh ini, aksi agresif Trump masih memperoleh dukungan media. Saat menyerang Suriah, dia punya alasan cukup kuat, mengingat pemerintah Suriah menembakkan gas sarin beracun ke warga sipil di Kota idlib. Serangan tentara loyalis Presiden Bashar al-assad itu menewaskan lebih dari 80 orang, 30-nya anak-anak.

Tentu situasi jadi berbeda terkait Korut. Alasannya, Korut lebih sulit ditebak. Semua skenario pengamat militer saat terjadi konfrontasi antara Washington-Pyongyang berakhir suram. Paling optimis, Korut hanya akan menyerang Korsel. Bisa juga Cina memilih terlibat, karena memiliki perjanjian milter dengan Pyongyang. Tapi, dalam ramalan terburuk, Kim Jong-un bertindak nekat, menembakkan roket lintas benua berhulu ledak nuklir ke wilayah Negeri Paman Sam.

Lepas dari semua prediksi itu, bisa saja Trump hanya omong besar di Twitter. Mungkin dia hanya ingin mendorong Cina menjatuhkan sanksi ekonomi lebih keras pada negara sekutunya itu. Beijing sejauh ini mulai terganggu melihat polah rezim Kim Jong-un ngotot melakukan uji coba nuklir. Pada 26 Februari lalu, Cina menerapkan larangan impor batu bara asal Korut. Kapal-kapal kargo Korut dilaporkan tak boleh bongkar muat di pelabuhan, walau diizinkan bersandar. Jika Cina konsisten, kebijakan ini akan memangkas salah satu sumber devisa terbesar rezim Kim Jong-un.