Gelombang Pernikahan Paksa Gadis-Gadis Rohingya
Ilustrasi oleh Daniella Syakhirina.
Laporan dari Myanmar

Gelombang Pernikahan Paksa Gadis-Gadis Rohingya

Berulangnya kekerasan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, hingga tahun ini memicu masalah mengerikan lainnya bagi wanita-wanita Rohingya yang kabur ke Malaysia.
11.11.16

Ketika Rashidah masih 12 tahun, segerombolan penganut Buddha garis keras membakar desanya di Myanmar - yang dihuni warga etnis Rohingya - sebagai aksi kekerasan anti-Islam. Insiden ini mengakibatkan Rashidah terdampar di Malaysia, akibat pelarian, dan harus mengalami berbagai cobaan memilukan. Rashidah mengalami pelecehan seksual, hamil, dijual oleh gembong perdagangan manusia, lantas dinikahi paksa oleh pria sesama bangsanya. Rashidah yang kini 15 tahun merupakan salah satu wakil dari banyak korban penjualan perempuan di bawah umur asal Rohingya di Malaysia untuk dinikahi paksa. Nyaris semua kasus serupa tidak dilaporkan ke polisi.

Iklan

"Saya tidak pernah berpikir akan dinikahi dengan cara begini," kata Rashidah. "Saya tidak punya hak untuk menolak… ini jelas salah, tapi saya tidak punya pilihan."

Malaysia sementara ini menjadi "rumah" bagi 90.000-an pencari suaka etnis Rohingya. Menurut para ahli, jumlah pasti pencari suaka ini sulit ditentukan. Badan Urusan Pengungsi PBB di Kuala Lumpur mencatat 53.896 pengungsi Rohingya bermukim di Malaysia. Namun para ahli memperkirakan jumlah kaum Rohingya yang belum terdaftar dua kali lipat dari angka statistik program pengungsi Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).

Pemerintah Myanmar tidak mengakui eksistensi kaum Rohingya, menganggap mereka sebagai imigran Bangladesh, dan mengurung mereka di pemukiman-pemukiman terlantar yang pada dasarnya merupakan sistem apartheid terselubung. Faktanya, kaum Rohingya merupakan salah satu etnis paling teraniaya di dunia. Pada 2012, gelombang kekerasan anti-Islam yang terjadi di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, memaksa lebih dari 140.000 orang meninggalkan negara yang dulu bernama Burma itu. Insiden kekerasan lantas memicu terjadinya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Pada 2015, dalam kurun tiga bulan, diperkirakan 25.000 warga Rohingya, beserta ratusan imigran asal Bangladesh, nekat mengarungi perjalanan laut menuju Malaysia menggunakan kapal penuh sesak. Ratusan orang tewas dalam perjalanan ini.


Tonton dokumenter kami tentang upaya pelarian kaum Rohingya dari Myanmar: Left for Dead


Di Malaysia, mayoritas populasi Rohingya adalah pria. Situasi ini memicu kelangkaan perempuan muda Rohingya di daerah seperti Ampang — daerah suburban di pinggir Kuala Lumpur — yang banyak dihuni imigran laki-laki Rohingya. Gembong pedagang manusia melihat kesempatan ini, mengincar perempuan-perempuan muda di kamp Rohingya Myanmar, lalu menawarkan mereka kesempatan pergi secara aman ke Malaysia dengan biaya sangat murah. Begitu remaja peremuan Rohingya itu menginjakkan kaki di atas kapal menuju Malaysia, perjanjian ini berubah seketika. Tiba-tiba para perempuan ini dianggap berutang puluhan juta Rupiah, dan wajib segera melunasinya. Mereka yang tidak sanggup membayar akan ditahan di sebuah kamp tengah hutan perbatasan Thailand-Myanmar. Banyak di antara mereka diperkosa oleh anggota sindikat perdagangan manusia. Banyak juga yang dijual untuk dinikahi secara paksa oleh imigran Rohingya di Malaysia.

"Kami sadar wanita-wanita ini direkrut oleh makelar di negara bagian Rakhine dengan harga sangat murah atau bahkan gratis. Para makelar sadar begitu para wanita ini sampai di Thailand, mereka bisa meminta harga yang tinggi dari para pria calon pembeli di Malaysia," kata Amy Smith dari Fortify Rights, lembaga nirlaba yang mendokumentasikan kasus pelanggaran hak asasi manusia di Asia Tenggara.

Iklan

"Saya tidak pernah berpikir akan dinikahi dengan cara begini," kata Rashidah. "Saya tidak punya hak untuk menolak… ini jelas salah, tapi saya tidak punya pilihan."

Sulit mengetahui berapa banyak wanita yang telah dijual melalui modus pernikahan paksa ini, kata para ahli. Sebetulnya, bagi masyarakat Rohingya, perjodohan merupakan bagian dari budaya mereka. Bahkan, seorang pria Rohingya yang membayar calon istri untuk didatangkan ke Malaysia sudah dianggap lazim. Dalam skema perjodohan biasa, calon mempelai wanita sudah kenal baik calon pria dan mendapat restu dari orang tua kedua belah pihak. Sedangkan pada skenario pernikahan paksa, korban sama sekali tidak mengenal pihak calon suami dan sebetulnya tidak punya keinginan untuk menikah ketika kabur dari Myanmar.

"Istilah pernikahan paksa sebetulnya problematis," kata Richard Towle, Wakil Malaysia untuk UNHCR. "Fakta bahwa perjodohan itu dilakukan oleh pihak orang tua tidak semata-mata menjadikannya pernikahan paksa. Di sini perjodohan bukanlah hal baru. Banyak perempuan muda yang memang dikirim ke Malaysia untuk dinikahi pria sebagai bentuk perjodohan. Memang terkadang kami mendengar cerita pernikahan melibatkan uang atau unsur paksaan. Setiap kasus selalu berbeda-beda."

"Saya tidak bisa memberi tahukan anda informasi yang spesifik, namun saya bisa bilang bahwa kami pernah menangani kasus yang melibatkan transaksi uang dan penjualan perempuan ke pihak suami atau keluarga," imbuhnya.

Iklan

Kasus-kasus seperti penjualan dan penyelundupan manusia serta pengantin di bawah umur lebih sering terjadi di komunitas Rohingya, merujuk pengakuan Towle, dibanding komunitas etnis lain di Asia Tenggara. "Sayangnya saya tidak bisa menyebut jumlah kasusnya secara pasti mengingat banyak kasus yang tidak terdeteksi."

Sharifah Shakirah, seorang wanita Rohingya yang menangani korban kasus pernikahan paksa di Malaysia mengatakan maraknya kasus menyerupai pernikahan paksa merupakan manifestasi sebuah sistem yang keji. Para gembong perdagangan manusia meminta uang bernilai besar pada para pria Rohingya, dengan janji mendatangkan calon istri bagi mereka ke Malaysia. Akibat jumlah wanita Rohingya yang sangat terbatas di Negeri Jiran itu, pria-pria Rohingya ini menyanggupi permintaan para makelar.

Transaksi semacam itu kian mendukung aksi pemerasan yang dilakukan oleh para penyelundup manusia. Shakirah bekerja dengan komunitas pria dan wanita Rohingya, meyakinkan mereka bahwa praktik transaksi manusia semacam itu salah sekaligus melanggar hukum. Tetap saja, upaya meyakinkan para imigran Rohingya seringkali yang sulit mengingat kebanyakan pria yang baru pindah ke Malaysia tidak berpendidikan tinggi.

Masa depan para perempuan yang menolak untuk dinikahi bisa bertambah suram, kata Shakirah.

"Ada banyak perempuan kurang beruntung di sini," kata Shakirah. "Para makelar perempuan ini menjual mereka ke pelacuran dan para perempuan ini harus mencari nafkah dengan bekerja di bar atau klub. Yang lebih parah lagi, para perempuan ini harus mengemis-ngemis. Tangan mereka dibacok, mata mereka dicungkil. Saya sudah menyaksikan semuanya. Sulit menggambarkan betapa menderitanya kehidupan para wanita ini."

Setahun terakhir, jumlah kedatangan pengungsi Rohingya ke Malaysia jauh menurun, setelah 100 mayat pengungsi ditemukan di dekat perbatasan Thailand-Malaysia. Penemuan itu memicu penutupan salah satu titik transit darat utama para pengungsi Rohingya. Pemerintahan baru Myanmar - yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi dari Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), melontarkan janji menyelesaikan krisis kemanusiaan Rohingya - memberi secercah harapan bagi kaum Rohingya. Namun, hal ini juga membuat kaum nasionalis Burma bertambah geram. Kofi Annan, mantan Sekjen PBB, sedang memimpin investigasi—yang disetujui NLD—mengenai tindak kekerasan di wilayah Rakhine. Investigasi ini merupakan langkah pemerintah baru Myanmar mengakhiri apa yang banyak orang sebut sebagai praktik genosida disponsori negara.

Iklan

Namun selagi pemerintah Myanmar berusaha mengatasi penderitaan populasi Rohingya di dalam negerinya, puluhan ribu orang Rohingya tetap terjebak tanpa status jelas di Malaysia — mereka tidak bisa bekerja secara legal di sana atau pun kembali ke Myanmar. Mereka juga sudah bertahun-tahun lamanya menunggu izin bermukim dari UNHCR.

Mereka yang paling tidak beruntung, dari puluhan ribu orang terlantar itu, adalah Rashidah dan para perempuan remaja lainnya yang dijual untuk dinikahi paksa. Perempuan-perempuan miskin ini tidak bisa berbahasa Inggris ataupun Melayu, takut dengan aparat hukum, dan tersisih dari penduduk Malaysia lainnya.

Akhir Oktober lalu, kembali terjadi kekerasan di kawasan Rakhine, memaksa ratusan muslim mengungsi. Serangan brutal kelompok warga etnis mayoritas Myanmar itu disertai tudingan adanya pemerkosaan gadis-gadis Rohingya oleh para tentara. Insiden sebulan terakhir itu memunculkan kembali kekhawatiran terulangnya kerusuhan di pemukiman warga Rohingya, sebagaimana yang terjadi tiga tahun sebelum Aung San Suu Kyi dan partainya memenangi pemilu. Jalan menuju perdamaian di Myanmar masih sangat terjal. Rashidah — yang nama keluarganya dirahasiakan VICE guna melindungi identitasnya — menemui saya di sebuah sekolah asrama Islam kecil di pinggir Kota Kuala Lumpur. Kain sari bercorak bunga dan blus berkancing yang dia kenakan penuh dengan noda cat putih. Rupanya ia menghabiskan siang itu dengan mencat ulang dinding sekolah — salah satu dari banyak pekerjaan yang dia lakukan guna mencari nafkah bagi diri dan keluarganya.

Iklan

Arafat, anak lelaki Rashidah yang berpipi tembem dibiarkan tidur-tiduran di lantai. Suami Rashidah bersantai di bagian lain sekolah tersebut — yang bernaung di sebuah ruko satu lantai sempit yang sederhana. Rashidah bertemu sang suami, TK, di salah satu pasar tradisional setempat. TK adalah orang yang ramah dan dia berasal dari daerah Rakhine yang sama, ungkap Rashidah. Kala itu, Rashida tengah mengalami masa terberat dalam hidupnya. Dia tiba di Kuala Lumpur setelah berbulan-bulan dikurung di kamp hutan oleh seorang makelar perdagangan manusia asal Thailand. Fakta bahwa waktu itu Rashidah adalah perempuan termuda di kamp, sendirian, dan tak memiliki uang sepeserpun membuat situasinya semakin berbahaya.

Seorang makelar memperkosa Rashidah berulang-ulang kali. Ketika dia hamil, para makelar menjualnya kepada seorang pria di Malaysia dengan alasan pembayaran utang.

"Saya dikurung di kamp itu selama satu bulan dan makelar itu memperkosa saya kapanpun dia mau," kata Rashidah menjelaskan pengalaman buruk yang menimpanya. "Ketika akhirnya saya hamil, mereka menjual saya."

Rashidah dibeli seorang pria muslim Rohingya bernama Islam yang tinggal di Kuala Lumpur. Dia dihargai 3.000 ringgit (setara Rp9.5 juta). Lagi-lagi dengan dalih menebus utang karena berhasil diselundupkan secara aman ke Malaysia, sang "pembeli" memerintahkan Rashidah mengurusi anak-anaknya dan membersihkan rumah. Rashidah dipaksa tinggal di sebuah gubuk kecil di belakang kediaman Islam.

Iklan

Ketika Islam sadar bahwa Rashidah hamil, dia bergegas mencari seorang dokter untuk menggugurkan janin wanita muda ini. Seorang ustaz setempat berhasil membujuk Islam membiarkan anak Rashidah dilahirkan. Si pria ini kemudian mencari lelaki lain yang bersedia menikahi Rashidah dan menebus utang-utangnya.

Setelah mendengar kondisi Rashidah, TK bersedia menebus semua jeratan utang Rashidah apabila ia bersedia dinikahi. Ini adalah sebentuk pinangan yang ruwet untuk Rashidah. Dia sebetulnya tidak ingin menikah, tapi saat itu dia sendirian, terjebak sebagai budak, dan mengandung anak dari makelar yang memerkosanya. Lalu mendadak seorang lelaki yang terlihat seperti sosok pria baik-baik bersedia menyelamatkannya dari kehidupan sebagai pembantu yang tidur di sebuah gubuk.

"Apabila orang tua saya di sini, saya bisa menikah dengan seorang yang berpendidikan atau seseorang yang mapan dan bisa membahagiakan saya," kata Rashidah. "Namun saat itu saya bahkan tidak bisa menafkahi diri saya sendiri. Cobaan-cobaan yang saya harus lalui tidak akan terjadi apabila orang tua saya di sini."

Ada satu lagi kekhawatiran yang menghantui Rashidah waktu itu: dia berisiko dipaksa bekerja sebagai pelacur jika menolak pinangan lelaki yang baru dikenalnya itu.

"Saat itu saya berpikir apabila saya menolak dinikahi, saya akan dijual ke orang lain dan mungkin saya harus melakukan banyak hal-hal tidak terpuji," kata Rashidah. "Saya tidak nyaman saat harus mengambil keputusan itu, tapi saya tidak punya pilihan karena saya sudah terlanjur mempunyai seorang anak."

Hingga kini, Rashidah masih setia bersama sang suami, TK. Bagi Rashidah, TK adalah suami yang memperlakukannya dengan baik dan penuh perhatian. Namun apabila Rashidah bisa memutar waktu, dia tidak akan pernah mau meninggalkan Myanmar.

"Apabila saya tahu nasib saya akan berakhir seperti ini, saya tidak akan pernah datang ke Malaysia," kata Rashidah. "Myanmar jauh lebih baik bagi saya."