FYI.

This story is over 5 years old.

Investasi

Cara Menjadi Kaya Raya Tanpa Bekerja Keras

Kita diajari agar selalu bekerja keras. Makanya sakit hati ini melihat beberapa orang berikut, yang tajir mampus tanpa bekerja keras.
4.12.16

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK

Budaya kita mengajarkan pentingnya kerja keras. Kuping anak-anak muda terlalu sering dihujani nasehat-nasehat standar yang bunyinya kira-kira begini: bangun pagi biar rejeki kamu engga dipatok ayam. Rajinlah bekerja dan menabung, suatu saat kita bakal sukses dan tentunya tajir.

Tapi, ayolah, kita semua tahu semua nasehat itu tai kucing. Hampir semua orang yang aku kenal, yang kerjanya mati-matian sampai punggung mereka bongkok dan bokong mereka tepos, mereka dapat apa? Ujung-ujungnya mereka cuma bisa beli kopi paling murah di Starbucks tiap istirahat makan siang, lalu mengganjal perut membeli pecel lele untuk makan malam. Gampangnya, mereka masih saja selalu bokek. Yang bikin tambah gondok, ada beberapa orang di muka bumi ini, bisa menjadi tajir bukan karena membanting tulang. Saya menemui beberapa orang mujur ini, untuk mengetahui resep mereka kaya tanpa bekerja keras.

Iklan

TUKANG NABUNG UANG JAJAN JADI INVESTOR APPLE

VICE: Jadi gimana ceritanya kamu bisa kaya Dan?
Dan: Gampangnya sih gini, gue mulai nabung dari kecil. Gue dulu jarang jajan. Gue mulai sadar kalau gue suka nabung pas umur enam tahun. Dulu pas masih sekolah, uang saku gue $6 (kira-kira Rp70 ribu) buat makan siang. Itupun cuma gue pakai lima dollar doang buat beli makan siang murah. Sisanya ditabung. Begitu semua uang yang gue dapat pas ultah, semuanya ditabung.

Alhasil, pas udah gede tabungan gue $2,000 (setara Rp26 juta). Sayangnya, gue engga tertarik sama uang dan bunga bank. Gue terus belajar tentang pasar modal. Tapi ya gue juga ga tertarik. Akhirnya gue kepikiran "satu-satunya cara biar gue ngerti ya dengan turun langsung." Eh, tapi jangan salah, gue orang yang sangat menjunjung tinggi moral. Makanya, gue keukeuh engga bakal investasi di perusahaan ekstraktif macam Exxon atau lainnya.

Pastilah. Mampus aja tuh Exxon.
Waktu itu gue masih tinggal di Jepang. Kami semua langganan koran bahasa Inggris seperti The Economist, TIME, dan lain-lain. Terus, di salah satu sampul TIME itu ada gambar iPhone pertama. Ini sebelum iPhone dijual bebas lho ya, kira-kira enam atau sepuluh bulan sebelumnya lah. Pas baca, gue mikir "keren nih. iPhone ini bakal bikin mengubah pemahaman tentang ponsel." Engga lama, gue telepon Bokap—yang memang jago masalah investasi—dan meminta dia buka akun broker. Gue bilang "dua-pertiga tabunganku bakal aku investasikan ke google. Sisanya ke Apple." Bokap langsung menanggapi "Ide kamu bagus. Ayah suka cara kamu berpikir. Analisa kamu tajam juga—tapi Apple tak cuma bikin produk intelektual. Gimana kalau dibalik saja skema investasinya?"

Iklan

Wah saya engga bisa mikir kayak kamu. Omong-omong, ayahmu kelihatannya pintar banget soal investasi.
Begitulah. Gue ngomong ke Bokap kira-kira tahun 2006 atau 2007 lah. Akhirnya gue jadi beli saham sesuai nasehat bokap dan terus memantau perkembangannya. Ada salah satu nasehat penting buat mereka yang pertama kali nyoba main saham: untung sepuluh persen dalam setahun sudah termasuk ok. Nah, nilai investasi gue sekarang naik sampai 1.000 persen. Setiap tahunnya keuntungan gue 100 persen lah. Investasi gue yang dulu "cuma" $2.000 sekarang nilainya $30.000 malah lebih. Engga ada yang mikir bakal begini hasilnya..

Uang segitu kamu pakai buat apa?
Traveling. Gue engga mau ngabisin semua uang itu. Kalau investasi gue habis, gue harus kerja dong. Gue terus menamam modal di Apple. Pekerjaan gue dokter, jadi gue bisa kerja semau gue.

Setelah Apple, kamu bakal nanam saham di mana?
Nah itu yang susah sekarang. Ini kan eranya start-up. Perusahaan rintisan nilainya kan biasanya digede-gedein doang. Intinya sih, kalau lo lihat ada perusahaan yang keren, yang lo dan temen lo suka tapi belum banyak yang tahu, sikat aja langsung. Invest jangan malu-malu. Cuma itu yang bisa kita andalkan sekarang. Tapi gimana juga, Apple masih tetap investasi yang solid: Apple kan under valued, profitnya gede dan punya tingkat deviden yang bagus. Memang pertumbuhan labanya engga secepat dulu.

MAWAR*, PEMENANG LOTRE

Pemenang lotre yang saya temui ini, tak mau membeberkan nama aslinya. Setidaknya, dia membiarkan saya mengambil foto rumahnya, dari jauh.

VICE: Coba ceritakan bagaimana kejadiannya, bagaimana reaksi kamu dan apa yang kamu rasakan.
Mawar: Aku masih ingat saya menang lotre pada bulann November, 1994. Ini adalah pengundian kedua Lotre Nasional, jadi semua orang membelinya. Sayangnya, tak semua paham mekanismenya. Suamiku membeli lotre untuk semua anggota keluarga. Dia sengaja memilih sembarang nomor. Kami pikir kami cuma mau nyumbang sedikit rejeki kami. Kami boro-boro mikir tentang hadiahnnya.

Iklan

Saking tak pedulinya, kami tak pernah nonton acara pengundian yang ditayangkan TV saban malam minggu. Beda dengan anak-anak kami, mereka sangat antusias. Waktu itu, kami sedang makan malam di rumah teman. Tiba-tiba, mereka minta izin untuk mengecek nomor lotre kami. Beberapa saat kemudian, mereka bersorak "Hore, kita menang lotre!" Kami santai saja. Mungkin anak-anak terlalu senang, pikir kami. Ternyata, kami memang lima angka plus dapat bola keberuntungan. Kami belum tahu sebanyak apa uang yang kami menangkan. Baru setelah menelepon hotline Lotre Nasional, kami tahu jumlahnya. Kami cengok mendengarnya.

Kami langsung menelepon teman-teman kami. Kami minta mereka membawa anggur. Kita sukuran, begitu kami bilang. Tak lama kemudian, kami malah kalap. Kami takut kami telat menguangkan hadiah kami pada hari senin.

Kami berangkat ke kantor Lotre Nasional di Camelot. Mereka memberi kami cek dan sedikit konseling keuangan. Kami minta nama kami dirahasiakan. Jadi, tak ada surat-surat yang menyebalkan sampai ke rumah.

Sejauh mana dampak hadiah lotre ini dalam hidupmu?
Jumlahnya lumayan hidup kami, meski kami masih tetap harus meninggalkan pekerjaan. Dengan uang itu, kami bisa beli rumah, membayar tagihan dan tunggakan kartu kredit, membeli sebuah mobil sederhana, pergi liburan ke Afrika dan Selandia Baru. oh ya, kami juga menyumban sedikit di beberapa tempat.

Jadi sebenarnya menang berapa?
Lebih dari £200,000 (Rp3,5 miliar)

Iklan

Butuh waktu buat menghabiskannya?
Pembelian-pembelian dengan nilai yang besar kami lakukan di tahun-tahun awal setelah menang lotre. Tapi, beberapa di antaranya adalah investasi.

Apa perbedaan paling kentara dalam hidupmu sebelum dan setelah lotre?
Seperti keluarga biasa lainnya, kami hampir selalu tekor di akhir bulan. Setelah menang, kondisinya berubah setelah menang. Yang paling kerasa sih kami pindah rumah. Tapi, kami berusaha menjaga kondisi rumah seperti sebelum kami menang lotre. Meski menang lotre, kami masih tetap harus menabung untuk jalan-jalan, membelikan anak-anak mobil dan keperluan lainnya.

Pertanyaan terakhir, Kamu masih sering beli lotre?
Suamiku Paul masih main lotre bersama teman-temannya, kalau menang biasanya mereka jajan-jajan gitu. Habis itu ya beli lotre lagi.

JONATHAN, KAYA SETELAH DAPAT KOMPENSASI PERKELAHIAN

VICE: Jadi, apa yang terjadi padamu Jonathan?
Jonathan: waktu kejadian, umur saya baru 15 tahun. Behel yang saya pakai akan dilepas dalam beberapa minggu, saya sudah menggunakannya selama dua tahun. Anjir, dua tahun yang rasanya lama. Kejadiannya bermula waktu saya sedang jalan dengan pacar saya waktu itu. Kami melewati sekitar 15 pemuda yang sedang asik nongkrong. Begitu kami mendekat, mereka langsung mengepung kami dan nyerocos "lo ngomongin yang jelek-jelek tentang kami ya." Saya kenal beberapa dari mereka. Kami satu sekolah. Mereka lumayan menganggap saya keren makanya saya bisa menenjelaskan duduk perkaranya.

Iklan

Kami baru berjalan beberapa menit ketika tiga orang dari mereka mengejar. Teriakan keluar dari mulut mereka. Salah satu dari mereka menghadang dan menonjok saya, tepat di gigi saya. Dia lantas kabur.

Sadar-sadar saya sudah berada di dalam ambulans. Saya ingat betapa susahnya menjawab pertanyaan para paremedik di atas ambulan karena gigi saya seperti sudah ambrol. Mereka lantas memeriksa gigi saya. Saya tak akan pernah lupa reaksi salah satu perawat perempuan "astaga!" lalu dia berusaha menenangkanku "untung kamu pake behel, kalau tidak gigimu sudah rontok." Jelas bukan kalimat yang enak didengar.

Kedengerannya seram.
Awalnya memang seperti itu. Saya sampai depresi. Untungnya, para dokter bisa menyelamatkan gigi saya dan polisi segera datang ke TKP. Pelakunya langsung diringkus. Karena ini termasuk kasus kekerasan yang menyebabkan cedera, saya baru tahu ternyata saya bisa dapat kompensasi. Sebelumnya saya engga tahu masalah kompensasi ini.

Ya ampun. Terus, kamu dapat kompensasi berapa?
Kira-kira £3.800 (setara dengan Rp67 juta).

Kamu pakai apa uangnya?
Saya menggunakannya dengan hati-hati. Pertama, saya pakai £200 untuk bersenang-senang dan beli hal-hal yang selama ini jarang saya beli. Sisanya saya taruh di akun tabungan pribadi, buat jaga-jaga barangkali nanti saya butuh perawatan gigi.

Uang yang saya dapat sebenarnya lumayan mengubah hidup. Meski awalnya, disimpan untuk keperluan perawatan gigi, £1.000 saya gunakan selama kuliah biar bisa makan enak. Lalu, saya juga menghabiskan £1.000 untuk biaya hidup saat menjadi intern di National Trust. Kesempatan magang ini jadi awal dari karir saya di konservasi alam. Sisanya, sekitar £1.600 habis untuk membeli mobil pertama saya dan membayar asuransinya. Kalau dipikir-pikir, uang sebanyak itu banyak saya habiskan untuk menjalani karir yang saya inginkan.

Iklan

Bagaimana kamu sekarang melihat semua yang terjadi?
Sejujurnya, sesudah insiden itu, saya merasa terpukul. Lebih-lebih, ketika baru kuliah lima bulan, saya tahu penyerang saya kuliah di kampus yang sama. Saya sangat depresi dan didiagnosis mengidapsocial anxiety. Engga seenak yang kamu kira kok.

Ini mungkin agak lancang, tapi apakah semua itu layak dijalani?
Setelah selang sepuluh tahun, saya bisa bilang: apa yang terjadi cukup berharga untuk dijalani. Coba pertanyaan ini muncul satu tahun setelah insiden brengsek itu, saya pasti sudah membentak kamu. Saya dulu suka uring-uringan.

OLLY, TERLAHIR KAYA

VICE: Olly, kamu terlahir kaya, bagaimana keluargamu bisa sekaya ini?
Olly: Papa gue jago mengelola bisnis. Waktu gue masih kecil, papa sering banget ke Hong Kong. kalau sedang pergi ya bisa berminggu-minggu lamanya. Awalnya, papa dagang di kios kakek. Papa punya rumah sendiri pas umur 18 tahun. Dia jadi direktur komersial banyak perusahaan berskala besar, sebelum akhirnya punya bisnis sendiri.

Dampaknya ke lo gimana?
Baru-baru ini gue sadar bahwa gue punya segalanya. Keluarga gue tinggal di rumah dengan lima kamar tidur, kolam renang, dan satu bioskop kecil di dalamnya. Gue juga punya studio rekaman kedap suara. Terus, ada banyak banget mobil di empat garasi rumah gue. Gue sering jadi saksi penggunaan uang yang jor-joran—beli jam mahal kek, baju desainer mahal kek, atau gadget-gadget yang engga jelas fungsinya. Baru setelah gue tinggal jauh dari ortu, gue baru sadar gue sudah pernah menikmati segala yang dibilang orang sebagai "hidup mewah." Meski semua ini bikin hidup gue kelihatan sempurna, nyatanya engga segitunya kok.

Iklan

Lo merasa ditekan buat jadi sukses?
Gue sih berusaha mendorong diri biar sukses. Alasannya bukan karena pengen hidup kayak dulu, atau biar bisa ngelap bokong gue dengan tisu emas 24 karat. Engga kok.

Gue cuma pengen jadi musisi profesional. Papa selalu bilang kalau gue bebas milih cara apapun untuk cari duit. Tapi, gue selalu nemu cara buat melakukannya dengan lebih baik. Gue akhirnya berani keluar rumah dua tahun lalu. Kini, setelah gue keluar rumah dan tinggal di cottage kecil bersama pacar dan kucing peliharaan, baru gue sadar. Sukses seharusnya bukan diukur dari jumlah uang yang lo dapat. Duit memang bisa bikin lo gampang senyum. Tapi senyuman—ini gratis loh—yang sebenarnya bikin lo merasa jadi penguasa dunia.

Memang begitu sih, tapi bukannya semua kemewahan ini menawarkan kenyamanan dan bikin lo bebas mengejar ambisi lo?
Maksud gue gini loh, lo gak butuh duit buat melakukan apa yang lo suka dan mencapai kesuksesan. Meski lo juga ga usah munafik bilang "duit itu gak penting sama sekali!" Gue bisa saja tetap main gitar dan hidup di rumah kardus di penggir jalan bareng pacar. Masalahnya di mana gue bakal bikin kopi—yang mungkin ga bisa gue beli juga? Gue udah kerja full-time hampir delapan bulan tahun ini dan meski gue udah bayar semua yang harus gue bayar, gue tetap saja merasa perlu duit alias bokek. Biaya sewa cottage kami saja sudah selangit. Jadi ya, ada waktunya uang sangat diperlukan. Untung Ibu gue masih ikut turun tangan. Gue bersyukur banget akan hal itu.

Kalau lo lahir di keluarga yang tingkat ekonominya beda, mungkin ga lo jadi orang yang berbeda?
Entahlah. Yang paling menentukan tabiat seseorang adalah orang yang ada di lingkungan mereka—di sekolah misalnya—dan keteratarikan mereka. Apakah gue bakal tetep suka musik kalau engga didengerin musik lewat piranti hi-fi mahal pas kecil? Mungkin bisa. Apakah gue bakal lebih getol nyari duit kalau gue gak lihat orang yang menghambur-hamburkan duit dengan gampang sejak kecil? Pastinya tidak.

Hidup gue adalah serangkaian penemuan dan rasanya masih banyak yang bakal gue temukan. Gue bersyukur sejak kecil sudah mengecap kesuksesan dan kebahagiaan ketika masih kecil. Mungkin gue juga ga sebahagia ini kalau gue ga tahu kebahagian macam yang bisa diberikan oleh uang, setidaknya pada keluarga gue.

Gue rasa gue sudah merasakan hidup seseorang yang lahir dalam keluarga yang tak sekaya kami. Gue udah meninggalkan masa lalu: berenang di halaman belakang rumah dan makan di restoran mahal 4 malam dalam seminggu. Sekarang, gue bikin musik di cottage yang gue sewa, di sebuah home studio kecil—yang aslinya memang kamar tidur—bareng sama kucing. Gue engga bisa lebih bahagia dari ini.

*bukan nama sesungguhnya.

Follow penulis artikel ini lewat akun @oobahs