Tahun ini, dua band Indonesia akan pentas di St. Jerome's Laneway Festival Singapura—festival musik indie tahunan Negeri Singa itu—untuk pertama kalinya. Bottlesmoker asal Bandung dan Stars and Rabbit dari Yogyakarta bakal berbagi panggung dengan band-band internasional seperti White Lung (Kanada) dan Jagwar Ma (Australia). Musisi pop elektronik Bottlesmoker memanfaatkan berbagai mainan dan instrumen buatan sendiri menjadi ciri khas mereka. Sedangkan ramuan folk-pop eklektik ala Stars and Rabbit terus mendatangkan penggemar-penggemar baru di tanah air maupun dari luar negeri.
Diwakili Marcel Thee, VICE Indonesia ngobrol dengan kedua band ini tentang apa rasanya mewakili Indonesia di sebuah festival yang memang kerap ramai didatangi penduduk tanah air.
Bottlesmoker (Anggung "Angkuy" Suherman dan Ryan "Nobie" Adzani)
VICE: Gimana kalian bisa terpilih main di Laneway?
Angkuy: Jujur, kita gak tau gimana ceritanya bisa dipilih sama panitia Laneway. Mungkin karena kita pernah opening buat Battles (band math-rock Amerika Serikat) di Bangkok dan M83 di Jakarta. Kita sempet ngobrol dengan band-band tersebut soal manggung di Laneway—mungkin ada hubungannya sama itu? Waktu itu kita lagi rekaman album baru di studio terus Nobie dapet email dari Laneway. Kita kayak 'Wah, email dari Laneway.' Tapi kita pikir paling itu email promosional aja. Terus kita dapet email yang sama lagi dari akun yang berbeda. Pas kita buka, kita baru sadar bahwa itu ajakan manggung. Langsung kita baleslah.
Kalian udah pernah ke Laneway belum?
Angkuy: Sayangnya belum. Kita selalu gagal ke sana karena jadwalnya tabrakan sama jadwal manggung. Tapi setiap tahun selalu ada band di Laneway yang kita pengen tonton. Jon Hopkins pernah main di sana, terus tahun lalu ada Purity Ring. Kebetulan aja kita belum dikasih kesempatan ke sana.
Apakah kalian menyiapkan sesuatu yang berbeda buat Laneway?
Nobie: Iya, Laneway bakal jadi konser pengenalan materi baru kami. Lagu-lagu baru akan ditampilkan untuk pertama kalinya. Dan tentunya kami akan siapkan kostum spesial buat manggung.
Singapura kan deket banget ya sama Indonesia. Apa sih hubungan festival musik Laneway dengan penggemar musik Indonesia?
Angkuy: Laneway selalu menampilkan artis-artis yang digemari oleh penduduk Indonesia. Festival ini memberikan kesempatan bagi musisi Indonesia untuk menyaksikan idola mereka. Suasana outdoor festival yang digelar di taman ini juga akan memberikan nuansa tersendiri. Bermacam-macam orang dari berbagai latar belakang dan kultur datang dengan tujuan yang sama: menikmati musik dan bersenang-senang.
Menurut kalian, apa yang bisa ditiru EO Indonesia dari festival seperti Laneway?
Nobie: Kerasa banget sih Laneway dikelola profesional—sangat disiplin dan rapi eksekusinya. Ada banyak hal yang sebelumnya tidak kami sadari yang sangat diperhatikan oleh panitia Laneway, misalnya seputar hal-hal teknis. Kerasa kalau mereka menghargai artis yang main. Anda merasa dihargai dan dihormati.
Kalian di Laneway pengen nonton siapa?
Nobie: Kita pengen nonton Tycho dan ketemu band-band lainnya untuk memperluas jaringan.
Bocoran lagu baru dong?
Angkuy: Mestinya ini rahasia sih, tapi okelah. Ada dua lagu baru yang terinspirasi oleh Palmer Keen, seorang etnomusikolog asal Amerika Serikat yang berkeliling Indonesia untuk mengabadikan musik tradisional tanah air. Kami mendengarkan rekaman-rekaman miliknya dan merespon dalam bentuk rekaman kami sendiri. Dua lagu ini bercerita tentang ritual dan suku tradisional Indonesia. Semoga lagu-lagu baru ini akan membuat penonton Laneway joget dan menciptakan semacam ritual mereka sendiri.
Stars and Rabbit (Elda Suryani dan Adi Widodo)
Foto via Facebook (Stars and Rabbit)
VICE: Gimana reaksinya pas tau diundang main di Laneway?
Elda: Aku cengengesan seharian!
Adi: Kami seneng banget soalnya Laneway itu salah satu festival terbesar di Asia Tenggara. Kami memang ingin main di sana.
Kalian paling semangat berbagi panggung sama siapa nanti?
Adi: Tycho and Aurora dan tentunya sahabat kami Bottlesmoker
Elda: Bob Moses, Floating Points, Aurora, Chet Faker dan pastinya Bottlesmoker.
Apa harapan kalian untuk penonton Laneway yang akan menyaksikan kalian?
Elda: Semoga musik kami nyangkut di kepala dan hati mereka.
Adi: Kami berharap bisa menghibur penonton dengan musik dan penampilan kami agar mereka meminta kami datang kembali.
Bagaimana penikmat musik Indonesia melihat Laneway? Kita punya festival musik indie juga di tanah air, tapi Laneway adalah yang terbesar di Asia Tenggara.
Adi: Bagi saya pribadi sebagai musisi Indonesia, Laneway adalah festival musik impian. Dan sebagai penikmat festival musik, kami selalu senang datang ke Laneway.
Elda: Tidak bisa dipungkiri ya. Festival ini menjadi semacam patokan bagi scene musik Indonesia. Setiap tahunnya banyak warga Indonesia yang menghadiri Laneway.
Nanti bakal belanja di toko musik selama di Singapura?
Elda: Semoga saja.
St. Jerome's Laneway Festival akan dilaksanakan tanggal 21 Januari 2017 di The Meadow, Gardens by the Bay di Singapura. Tiket tersedia di sini .