islamofobia

Saya Menghadiri Kampanye Pro-Islamofobia di Kanada Sambil Mengenakan Hijab

Gerombolan orang pembenci muslim ternyata merasa mereka korban ketidakadilan dunia yang pro-Islam. Lelucon abad ini.
20.2.17

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Saya menghabiskan hidup saya di Kanada yang agak membosankan. Orang tua saya adalah pengungsi dari Somalia dan saya besar di rumah tangga kelas menengah. Ayah saya bekerja untuk pemerintahan federal selama lebih dari 20 tahun. Biarpun telah mengalami beberapa kasus Islamofobia dan rasisme, secara garis besar saya dikelilingi oleh orang-orang berpikiran terbuka di kehidupan akademis dan profesi saya. Kebangkitan Donald Trump dan supremasi kulit putih belum benar-benar mempengaruhi saya dalam interaksi keseharian—saya hanya mengalaminya lewat internet. Selain berkomentar tentang video demo Trump, pidato Richard Spencer dan kaum rasis via Twitter, saya belum pernah benar-benar mengkonfrontasi kaum sayap kanan garis keras yang kemungkinan besar membenci eksistensi orang-orang seperti saya. (Biarpun mereka mengaku tidak benci Muslim: Mereka hanya benci Islam dan menuntut hak mereka untuk membenci sesuatu.)

Iklan

Saya kerap membayangkan seperti apa rasanya untuk mengunjungi perkumpulan kaum sayap kanan, sama seperti bagaimana saya membayangkan melihat binatang berbahaya di hutan dalam jarak dekat. Saya tau dari siaran dokumenter National Geographic bahwa seekor beruang bisa mencabik saya seketika, tapi apakah kaum supremasis kulit putih akan melakukan hal yang sama? Setelah membaca tentang pertemuan kaum sayap kanan lewat Twitter, saya memutuskan untuk pergi demi memuaskan rasa penasaran (dan semoga cerita yang bagus).

Saya mengunjungi acara perkumpulan yang diinisiasi oleh The Rebel—media sayap kanan ala-ala Breitbart—dua minggu setelah enam Muslim dibunuh oleh kaum sayap kanan ekstrem di Masjid Jami Kota Quebec. Perkumpulan yang diadakan di Toronto dan disebut oleh panitia Rebel Media sebagai "Demo PENTING Memperjuangkan Kebebasan Berbicara ini mungkin lebih akurat disebut sebagai pertemuan anti-anti Islamofobia. Ini acara pertemuan yang besar—lebih dari 1000 orang RSVP lewat Facebook —biarpun Rebel Media harus mengganti lokasi pertemuan ini karena hotel menerima banyak tekanan publik untuk tidak mendukung acara tersebut.

Bagi para pembaca Rebel, kebebasan berbicara adalah masalah yang penting. Selama pertemuan tersebut, sering kali dibanding-bandingkan situasi modern Kanada saat ini dengan novel distopia George Orwell yang terkenal, Nineteen Eighty Four. Demo ini merupakan bentuk respon terhadap kebijakan yang diusulkan oleh Iqra Khalid, anggota parlemen Kanada yang menganut paham Liberal dalam rangka melawan Islamofobia. Kebijakan sepanjang 175 kata itu, disebut sebagai M-103, bertujuan untuk "Mengembangkan pendekatan pemerintahan yang menyeluruh untuk mengurangi dan menghabisi rasisme sistemik dan diskriminasi agama, termasuk Islamofobia." Diharapkan juga bahwa kebijakan ini akan membasmi Islamofobia lewat "kebijakan yang dibuat berdasarkan bukti-bukti nyata." Dalam esensinya, kebijakan ini akan mengkontekstualisasi Islamofobia dengan cara menganalisa hate crime.

Iklan

Sebagai seorang warga Muslim Kanada, saya menghargai kebijakan ini. Apabila diterapkan lebih awal, kebijakan ini mungkin bisa mencegah kasus pembunuhan enam Muslim (pelaku ternyata seorang kaum sayap kanan yang iseng), dan sudah terlalu lama pemerintah Kanada tidak menghiraukan penderitaan yang dialami Muslim sebagai kaum minoritas di negara tersebut.

Namun bagi para kaum sayap kanan yang menghadiri demo tersebut, kebijakan itu dianggap sebagai cara untuk menghapus hak-hak mereka untuk membenci Islam. Kebijakan tersebut dianggap mengancam kaum nasionalis dan melawan nilai-nilai warga Kanada. Para pembicara demo tersebut mengatakan bahwa apabila kebijakan ini—yang akan didiskusikan minggu depan—disahkan, maka warga Kanada sebentar lagi harus hidup di bawah Hukum Syariah Islam. Mereka yakin dunia penuh orang Islam situasinya akan seperti prediksi George Orwell di novel Nineteen Eighty Four!

"Mereka ngeliatin saya ya?" tanya saya ke beberapa kolega dengan gugup. "Hmm, iya," jawab mereka.

Demo ini diadakan di Canada Christian College, sebuah institusi evangelis yang belum pernah saya dengar. Sepuluh menit setelah dimulai sesuai jadwal, saya dan tiga kolega memasuki gedung dan melewati pemeriksaan tas oleh pihak keamanan. Selagi kami dengan kikuk mencari tempat duduk, organizer dan staf Rebel Media mendekati kami dan mempertanyakan maksud kedatangan kami. Mengingat kelompok kami berisikan dua perempuan minoritas (dan saya mengenakan hijab) dan seorang lelaki dengan tato di leher, jelas bahwa kami tidak sesuai dengan kebanyakan supporter yang datang hari itu. Namun setelah meyakinkan dia bahwa kami adalah jurnalis dan bukan aktivis, kami dipersilakan duduk di tengah-tengah kerumunan yang mayoritasnya berkulit putih.

Di tengah kerumunan lebih dari 1.000 orang, mata saya tidak yakin harus fokus ke mana. Ruangan tersebut terlihat seperti sebuah gereja versi kecil. Dikelilingi orang-orang yang kemungkinan membenci Muslim, saya merasa dipelototi banyak pasang mata. "Mereka ngeliatin saya ya?" Tanya saya ke beberapa kolega dengan gugup. "Um, iya," jawab mereka.

MC acara tersebut, wakil dari Rebel Media naik panggung dan langsung memulai acara utama pertemuan tersebut. Perempuan berambut hitam itu berusaha memacu penonton dengan mengujarkan frase-frase yang sudah pernah saya lihat dan dengar dari video-video online. Dia mengatakan bahwa pemerintah Kanada berusaha mematikan suara para pembela tanah air dan memperingatkan bahwa kita sedang berada di tengah sebuah pergesekan antara dua peradaban yang berbeda. Sambil mendengarkan pidato-pidato tamu, saya membaca ulang usulan kebijakan yang memicu terjadinya demo di malam itu. Jelas menurut saya bahwa kebanyakan penonton malam itu tidak terlalu paham konsep kebijakan tersebut. Jelas sekali apabila anda membaca M-103, kebijakan itu bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai hate crime yang ditargetkan ke arah muslim guna mencari cara mengamankan komunitas setempat. Bukankah kebijakan ini justru hal yang positif bagi The Rebel? Ini memberikan mereka kesempatan untuk kembali menekankan mitos bahwa "nilai Kanada" tengah mengalami krisis.

Iklan

Setelah beberapa saat, saya sadar bahwa setiap pembicara kurang lebih akan mengatakan hal yang sama hanya sekedar untuk menggugah penonton dan mendapatkan dukungan mereka. Para penonton terlihat seperti warga Kanada yang terlalu malas untuk mencoba memahami usulan kebijakan sebanyak 175 kata tersebut. Kadang-kadang saya tertawa akibat ngawurnya ucapan sang pembicara. Salah seorang pembicara berbicara tentang Justin Trudeau dan pengalamannya mengunjungi mesjid sambil mengenakan abaya (padahal itu istilah untuk pakaian perempuan). Tapi ya bodo amat, buat para penonton itu, semua kata berbahasa Arab mungkin terdengar menyeramkan. Salah seorang pembicara lain juga mengatakan, "Saya punya seorang putri dan saya tidak mau melihat dia memakai burka." Di saat itulah banyak orang langsung menengok saya yang tengah mengenakan hijab.

Saya langsung sadar betapa seriusnya orang-orang ini. Mereka benar-benar secara tulus percaya bahwa Kanada, salah satu negara paling demokratis di planet Bumi tengah di ambang tunduk terhadap Hukum Syariah. Boro-boro salah satu pembicara pernah mempelajari Islam secara formal, atau terampil berbahasa Arab—ini semua tidak penting, karena mereka semua di sana untuk membela "hak mereka untuk membenci," seperti kata salah satu pembicara.

Yang paling mengejutkan tentang gerombolan orang-orang ini—yang kerap menyebut kaum liberal dan sayap kiri "cemen" karena dianggap tidak bisa menerima kritik—adalah  mental victim complex mereka. Setiap pembicara selalu membuat seolah-olah merekalah yang paling menderita akibat Islamofobia karena mereka tidak lagi diizinkan untuk menyuarakan kebencian mereka akan Muslim. Tidak sekalipun, orang-orang tidak bersalah yang terbunuh atau terluka dalam penyerangan Mesjid Quebec disebutkan biarpun jelas sekali bahwa pelaku penyerangan tersebut ideologi politiknya serupa dengan orang-orang yang hadir dalam demo tersebut. Saya penasaran mereka akan bilang apa apabila tahu bahwa korban nomor satu dari kelompok-kelompok ekstrem seperti ISIS dan Al-Shabab justru orang-orang yang beragama Islam.

Sebagai seorang warga Kanada berdarah Somalia yang mempunyai keluarga di Somalia, saya paham benar ancaman ekstremisme dan terorisme. Seringkali orang tua saya mendapat telpon dari Somalia yang menginformasikan bahwa seorang kerabat mereka telah meninggal. Saking seringnya telepon semacam ini terjadi, orang tua saya hanya bisa berdua dan tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Tahun lalu, seseorang yang saya kenal dari masa kecil saya terbunuh ketika sedang tidur di hotel. Salah seorang sepupu saua mencoba kabur dari Somalia ke Malta beberapa tahun yang lalu dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Tidak hanya itu, setiap mesjid besar yang pernah saya kunjungi di Kanada selalu menyajikan literatur anti-ekstremisme. Tapi tentu saja semua itu tidak akan berarti apa-apa bagi orang-orang di ruangan itu karena bagi mereka logika mereka tidak bisa didebat. Menjelang akhir pidato, saya dan rekan-rekan berdiri dari tempat duduk untuk mengawasi ruangan tersebut dan berharap untuk bisa ngobrol-ngobrol sedikit dengan para pengunjung lain. Melihat kami berdiri dekat tembok, pencetus Rebel Media menggunakan kesempatan tersebut untuk menginformasikan ke penonton dari atas panggung bahwa VICE News tidak pernah meliput cerita tentang topik spesifik yang dia anggap penting. (Tidak lama kemudian, seorang jurnalis yang juga hadir mengatakan via Twitter bahwa VICE pernah meliput topik yang dimaksud, dalam bahasa Inggris dan Perancis, tapi ya sudahlah, bukan itu poinnya.) Mendengar komentar tersebut, para penonton meneriakkan "huu" dan mengolok-ngolok kami. Satu orang berteriak "berita palsu!" dan "cemen" ke arah kami.

Setelah diolok-olok beberapa kali (penontonnya suka banget sama VICE), kami keluar ruangan. Setelah itu kami nongkrong dan saling bertanya ke satu sama lain, "Yang barusan bener-bener terjadi ya?" Gue baru aja duduk dikelilingi ribuan orang yang sedang memperjuangkan hak mereka untuk membenci gue dan keluarga dua minggu setelah pembunuhan massal berbau Islamofobia terjadi. Sesampainya di rumah, saya menceritakan pengalaman saya ke keluarga. "Yah mau gimana lagi," kata Ibu. "Mereka membenci muslim dan akan selalu terus begitu. Engga ada yang baru."