Hubungan

Ideologi Politik Makin Mempengaruhi Gaya Pacaran Gen Z

Anak muda di bawah 25 tahun tak lagi memercayai “belahan jiwa”. Memiliki pandangan politik yang sama jauh lebih penting sekarang.
Nana Baah
London, GB
7.10.20
Karakteristik Gaya Pacaran Generasi Z anak muda di bawah 25 tahun
Foto ilustrasi via Getty Images

Setiap generasi memiliki gaya berpacarannya sendiri, khususnya bagi Gen Z. Anak muda yang lahir setelah 1995 lebih jarang bercinta, tapi pada saat bersamaan mereka cenderung tidak tertarik menjalin hubungan serius. Kehidupan percintaan mereka sangat berbeda dengan kalangan Boomer, Gen X dan bahkan milenial — yang rentang usianya tidak terlalu jauh — sehingga tidak mengherankan jika sering disorot.

Iklan

Lalu, apa sih artinya pacaran bagi generasi yang dikenal mampu mengubah apa pun menjadi tren TikTok dan lebih aktif menyelamatkan planet? Kami menanyakan pandangan anak Gen Z (berusia 18-23) soal aplikasi kencan, kebiasaan ghosting, membicarakan politik dengan gebetan dan menemukan jodoh yang tepat.

Berikut enam hal yang perlu diperhatikan sebelum dan saat berpacaran menurut Gen Z:

WASPADALAH TERHADAP PELAKU ‘WOKEFISH’

Hasil riset wadah pemikir AS Pew menunjukkan, mayoritas kaum Generasi Z berpandangan liberal dan progresif. Penilaian ini bisa dibuktikan dengan melihat keaktifan mereka saat mendukung gerakan Black Lives Matter beberapa waktu lalu, atau ketika mengikuti aksi menolak perubahan iklim yang tersebar di seluruh dunia.

Kesadaran politik muda-mudi Gen Z begitu kuat, sehingga mereka harus memastikan pacar atau gebetannya sungguh-sungguh mendukung suatu gerakan. Mereka tidak ingin pasangannya berpura-pura peduli dengan isu tertentu cuma untuk dianggap keren atau menarik perhatian mereka.

“Sulit membedakan mana yang sok ‘anti-rasis’ dan progresif di Instagram dengan yang beneran aktif menyuarakan sesuatu,” ujar Maddie, 22 tahun. “Kalau cuma untuk senang-senang, tidak masalah gebetan punya pandangan yang kurang relevan. Kalau ternyata mereka rasis atau anti-feminis, saya ogah berhubungan dengan mereka. Tapi biasanya saya baru akan mencari tahu pandangan seseorang saat kami berpacaran.”

Iklan

Dalam artikel tentang tren “wokefishing”, VICE menemukan banyak kaum Gen Z kena tipu pasangan mengenai pandangan politik mereka. Si doi mengaku progresif saat PDKT, tapi lama-lama ketahuan juga sifat aslinya.

Rory*, 21 tahun, memilih menghemat waktu dengan membahas politik dari awal kenalan. Jadi dia bisa menentukan cocok tidaknya hubungan mereka ke depannya sebelum pergi kencan. “Saya selalu berpacaran dengan orang liberal,” katanya. “Saya biasanya membahas sesuatu untuk menguji mereka, dan hasilnya oke-oke saja sejauh ini.”

Foto oleh Sian Bradley

Foto: Sian Bradley

PEKERJAAN LEBIH PENTING DARIPADA SEKS

Peneliti mungkin mengira Gen Z malas berhubungan seks karena keasyikan main media sosial, padahal sebenarnya pandangan anak muda terhadap seks sedikit lebih kompleks. Sebagai generasi yang tumbuh besar setelah krisis ekonomi 2008, kebanyakan dari mereka lebih mengkhawatirkan pendidikan, prospek kerja dan stabilitas finansial daripada masalah percintaan. Dan di tengah pandemi seperti sekarang, mencari pacar menjadi nomor kesekian bagi Gen Z.

“Saya akan jauh lebih bahagia jika punya pekerjaan dan tidak perlu mengkhawatirkan soal uang,” tutur Sophie, 23 tahun. “Pekerjaan bisa lebih diandalkan. Saya seorang pekerja keras yang fokus pada karier, jadi saya mengesampingkan urusan mencari pacar atau bahkan teman baru.”

MERESMIKAN HUBUNGAN

Bagi Gen Z, sering kencan dan dikenalkan ke teman atau keluarga doi belum cukup untuk menegaskan status hubungan mereka.

“Kalian harus mengungkapkannya — karena saya pribadi tidak suka menebak-nebak,” kata Maddie. “Saya sudah tiga kali kencan sama cewek satu ini, tapi tidak bisa memastikan kami sudah pacaran atau belum. Sebelum bersamanya, saya baru yakin berpacaran dengan seorang cowok setelah beberapa bulan menjalin hubungan. Itupun dibahas saat saya mabuk. Saya bertanya, “gue pacar lo bukan, sih?” dan dia mengiyakan.

Foto: Sian Bradley

Foto: Sian Bradley

SIAP-SIAP DI-GHOSTING

Kita semua pasti pernah merasakan betapa sedihnya kenalan Tinder tiba-tiba menghilang setelah chatting-an. Pesan kalian sudah dibaca, tapi mereka tidak pernah membalasnya lagi.

Kebiasaan ghosting, sayangnya, masih menghantui Generasi Z.

“Saya berharap kenalan ngomong sesuatu yang bikin ilfil supaya saya bisa meng-ghosting mereka duluan,” ungkap Sophie. “Kedengarannya mungkin jahat banget, tapi terkadang senang rasanya menjadi yang pertama menjauhi seseorang. Saya menjadi lebih percaya diri karena punya pikiran, ‘Gue gak terlalu suka mereka, kok.’”

Lelaki 23 tahun yang dikenal sebagai James juga pernah menjadi pelaku ghosting. Dia melakukan ini karena tak yakin hubungan akan dibawa ke mana.

Iklan

“Nih cewek kesal saat saya berhenti membalas chatnya. Saya tidak bermaksud meng-ghosting dia. Saya berhenti ngobrol karena mengira dia sudah tidak tertarik denganku,” terangnya. “Saya tahu dia kenalan sama orang lain waktu itu, tapi katanya dia menunggu saya menembaknya.”

Apa saran James jika kalian menjadi korban ghosting?

“Saya sering di-ghosting,” tuturnya. “Biasa saja ah, kalian pasti bisa mengatasinya.”

KENALAN DARI APLIKASI KENCAN TAK SELAMANYA SESUAI HARAPAN

Sama seperti generasi sebelumnya, bermain aplikasi kencan tak selalu menyenangkan.

Maddie mengatakan aplikasi seperti Tinder mendorong tipe “penampilan” tertentu yang sering kali tidak sesuai dengan kenyataannya. “Banyak perempuan queer yang profil Tinder-nya hampir tidak ada bedanya dengan cewek hetero […] Mereka semua langsing, berambut lurus, berbulu mata palsu dan mengenakan sepatu hak tinggi. Ketika akhirnya kalian ketemuan, mereka ternyata lebih menarik daripada profil Tinder.”

Foto: Sian Bradley

Foto: Sian Bradley

GEN Z TIDAK PEDULI DENGAN ‘JODOH’

Kebanyakan kaum milenial suka menonton rom-com dan sering mendengarkan cerita bagaimana orang tua mereka pertama kali bertemu. Oleh karena itu, ide mencari “belahan jiwa” sudah tertanam sejak dini. Berbeda halnya dengan remaja Gen Z yang woke abis. Jodoh yang tepat bukanlah hal penting untuk mereka.

“Saat kalian menginjak usia 20-an, orang-orang menekankan pentingnya casual sex untuk menemukan pasangan yang cocok sebelum akhirnya menjalin hubungan serius, seperti menikah dan punya anak,” kata Sophie. “Saya melihatnya hanya sebagai jaga-jaga biar tidak menyesal di kemudian hari.”

Ryan tidak percaya dengan konsep belahan jiwa sama sekali. “Saya tidak yakin itu beneran ada dan bagaimana saya bisa bertemu mereka dari aplikasi kencan,” ujarnya. “Saya rasa generasi kami melihat ini sebagai sesuatu yang harus dilakukan agar hubungannya berhasil. Di tengah pandemi kayak begini, siapa yang punya waktu untuk melakukan itu?”

Follow penulis artikel ini lewat akun @nanasbaah