Climate Uprise

Kita Butuh Lebih Banyak Film Menampilkan Dampak Perubahan Iklim Secara Realistis

Penggambaran masa depan distopian di budaya pop kurang sesuai dengan realitas. Alhasil penonton kesulitan menemukan letak urgensi dari krisis lingkungan.
KE
oleh Koh Ewe
SG
25.9.20
Ilustrasi komputer menayangkan serial Netflix The Politician
Ilustrasi: Jordan Lee / VICE. Foto: Netflix

Saatnya kita bergerak. Selama satu hari didedikasikan khusus membahas problem lingkungan di Bumi, semua situs VICE Media Group mempublikasikan seri “CLIMATE UPRISE”: berbagai cerita tentang bencana iklim dan cara mengatasinya. Klik di sini bila kalian ingin mengenal anak muda lain yang fokus melawan perubahan iklim di berbagai negara. Bersama-sama, kita bisa menghindari berakhirnya peradaban yang datang terlalu cepat.


Perubahan iklim itu nyata dan telah mengancam kehidupan di muka Bumi. Banjir menjadi semakin parah di banyak tempat. Lapisan es di Kutub Utara kian menipis. Cuaca panas pun terasa semakin ekstrem belakangan ini.

Melihat semua kenyataan tersebut, bukan hal aneh jika kita menginginkan kisah-kisah seputar perubahan iklim dan dampaknya yang relevan dengan kondisi dunia saat ini. Tapi entah mengapa, masih banyak pelaku industri hiburan yang memilih bertahan di zona nyaman. Mereka terus menggambarkan seolah dunia baik-baik saja. Tidak ada krisis lingkungan global yang perlu dikhawatirkan.

Beberapa memang telah mengangkat isu lingkungan sebagai topik utama, dan menyoroti bagaimana keserakahan manusia menyakiti satu-satunya rumah kita. The Handmaid’s Tale, The Day After Tomorrow, dan Snowpiercer hanyalah segelintir contoh yang menyadarkan kita betapa kerusakan alam bisa mendatangkan malapetaka kapan saja.

Namun, tak peduli sebagus apa, kisah-kisah ini kurang sesuai dengan realitas yang ada sehingga penonton kesulitan menemukan letak urgensinya. Mengapa representasi iklim terlalu berfokus pada genre distopia saja? Kenapa sinetron atau sitkom, misalnya, jarang sekali menampilkan potret sesungguhnya dunia ini? Bagaimana publik bisa menyadari kondisinya sudah semakin genting jika mereka hampir tidak pernah melihatnya di drama TV atau layar lebar?

Iklan

Kabar baiknya, penggambaran yang realistis tidak sepenuhnya absen dari budaya pop. Ada tontonan-tontonan yang secara halus menyentil isu lingkungan, meskipun bukan inti ceritanya. Silakan simak daftarnya berikut ini:

Big Little Lies

Episode “The End of the World” dari season kedua Big Little Lies ramai diperbincangkan tak lama setelah tayang pada Juni tahun lalu. Amabella (Ivy George) mengalami serangan panik setelah belajar tentang perubahan iklim. Ibunya, Renata (Laura Dern), protes ke sekolah. Dia menuntut guru supaya berhenti menakut-nakuti murid dengan suramnya dunia. ‘Eco-anxiety’ atau kecemasan akan masalah lingkungan jarang ditampilkan seperti ini di layar kaca.

Banyak penonton mengklaim mereka bisa memahami apa yang dirasakan Amabella.

Years and Years

Disebut-sebut sebagai “acara televisi paling menakutkan sepanjang 2019”, drama politik bergenre sci-fi ini mengajak penonton menyaksikan masa depan mengerikan ketika kemajuan teknologi dan perubahan iklim melumpuhkan dunia. Walaupun agak distopian, kita masih bisa membayangkan dampaknya.

Pada 2028, pisang menjadi buah langka, kupu-kupu sudah punah dan Inggris diguyur hujan selama 80 hari berturut-turut. Yang paling menakutkannya lagi, detail-detail kecil ini tersebar di seluruh adegan sehingga kita tak sempat memikirkan kenyataan pahit yang dihadapi para karakter.

netflix-the-politician

Foto: Netflix

The Politician

Season kedua drama komedi Netflix The Politician berkutat di sekitar kampanye perubahan iklim yang digalakkan oleh kandidat Senator New York Payton Hobart (Ben Platt) demi mendulang suara. Akan tetapi, kegiatan aktivisme Payton hanyalah pencitraan belaka. Hal ini terungkap dalam wawancaranya bersama seorang sukarelawan muda.

Ketika ditanya apakah dia benar-benar peduli lingkungan, Payton menjawab: “Tentu saja, itu inti kampanye saya.” Namun, dia juga mengakui alasannya memprioritaskan isu perubahan iklim yaitu untuk menggaet pemilih muda. Dia lalu mandi air dingin di hadapan pendukung untuk membuktikan dedikasinya. Manajer tim suksesnya bahkan menyebut pencitraan ini sebagai “omong kosong zero-waste yang disukai orang-orang.”

Occupied

Drama politik bergenre thriller Occupied mengusung isu krisis energi yang merugikan Norwegia. Dalam serial ini, Rusia diceritakan menduduki Norway setelah karakter perdana menteri terpaksa menghentikan produksi migas di negaranya akibat bencana lingkungan. Rusia melakukan hal tersebut dengan tujuan mengamankan pasokan energi mereka. Intensnya masalah geopolitik Occupied sesekali diselingi pemandangan alam menakjubkan yang membentang luas, menyoroti sisi rapuh dari keagungan dunia ini.

netflix-the-good-place

Foto: Netflix

The Good Place

The Good Place bercerita tentang kehidupan setelah akhirat. Serial komedi ringan ini menerima respons positif dari penonton karena berisi pesan-pesan moral yang mengajarkan kita pentingnya mawas diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pada musim kedua episode “Somewhere Else”, agenda lingkungan terpampang jelas. Setelah diberi kesempatan hidup kedua kalinya, tokoh utama Eleanor (Kristen Bell) menjalani kesibukan sebagai aktivis yang mengampanyekan gerakan peduli lingkungan.

Selama enam bulan, dia aktif menjadi sukarelawan, menanggung semua hinaan dari teman-temannya dan mengalami kesulitan ekonomi setelah mengakui kesalahannya. Semangat Eleanor lama-lama mengendur, terutama ketika menyadari usahanya untuk berbuat baik sama sekali tidak diapresiasi. “Orang baik sangat bodoh,” simpulnya penuh emosi. Perjuangan dia menyoroti rumitnya tugas aktivis iklim yang, terlepas dari segala penolakan, masih berusaha sebaik mungkin menyelamatkan lingkungan.

netflix-santa-clarita-diet

Foto: Netflix

Santa Clarita Diet

Tidaklah mudah menjadi seorang Abby (Liv Hewson), remaja yang tinggal bersama ibu zombie-nya di sebuah komplek perumahan yang tetangganya ramah-ramah. Kehidupannya semakin sulit karena harus berurusan dengan sang ibu yang suka menutupi jejak pembunuhannya. Tokoh serial Santa Clarita Diet itu melampiaskan kecemasannya pada environmentalisme. Bermaksud membuat pernyataan radikal, Abby mengajak sahabatnya bernama Eric (Skyler Gisondo) untuk meledakkan situs fracking.

Mereka kemudian terseret dalam petualangan menghentikan para penyidik dari menginvestigasi kasus eko-terorisme ini.

The Blacklist

Eko-terorisme juga menjadi fokus episode “Gaia” pada serial crime thriller The Blacklist. Agen FBI tampak memburu seorang eko-teroris (dikenal sebagai Gaia) yang “membunuh orang-orang tak bersalah untuk membuktikan hidup mereka berada dalam bahaya”. Begitu backstory Gaia secara perlahan semakin lengkap — hingga menyentuh bencana nuklir Fukushima 2011 — proses radikalisasi dirinya menarik simpati sekaligus menjadi pengingat bahaya ekstremisme.

Perlu dicatat eko-terorisme semakin sering diangkat ke dalam cerita fiksi, sampai-sampai menimbulkan pola yang meresahkan — seperti misalnya masalah overpopulasi dalam Infinity War dan pencemaran air dalam Aquaman. Walaupun tontonan ini berusaha memanusiakan alasan di balik eko-terorisme, para “penjahat” yang memiliki motif peduli lingkungan ujung-ujungnya dikalahkan “pahlawan” gagah berani yang mempertahankan status quo. Pesan apa sebenarnya yang ingin disampaikan film-film ini kepada penonton yang cenderung mendukung tokoh protagonis? Saya tak bermaksud bilang metode Thanos benar tetapi, dalam membentuk narasi yang relevan dengan isu lingkungan tapi tetap menghibur, para pembuat film berisiko terjerumus ke dalam sikap mengampuni rasa kekalahan dan pelarian yang berbahaya dalam wacana iklim saat ini.

BoJack Horseman

Ada banyak alasan kenapa BoJack Horseman dipuji-puji sebagai salah satu seri animasi terbaik. Pertama, acara ini mampu melukiskan kesehatan mental dengan sangat baik. BoJack Horseman juga membalut masalah sosial dengan humor cerdik. Serial TV itu bahkan menyingkap secara apik kompleksitas emosional karakternya.

Dalam urusan lingkungan, BoJack Horseman meramalkan kemungkinan-kemungkinan perubahan iklim jika kita tidak cepat bertindak. Episode “Ruthie” menayangkan adegan cucu khayalan Princess Carolyn (Amy Sedaris) yang sedang presentasi di depan kelas. Jendela besar yang menghadap ke luar menyuguhkan pemandangan papan “Hollywoo” yang hampir tenggelam — menyoroti ancaman nyata kenaikan permukaan laut. Menurut poster yang terpasang di dinding, mereka mengonsumsi “nourishment cubes” dan suhu 127 derajat Celsius dianggap “dingin”.

Ragnarok

Tanda-tanda perubahan iklim disajikan dengan gamblang dalam Ragnarok, serial fantasi Netflix yang menyelami mitologi Norse. Tokoh utama Magne (David Stakston) diceritakan sebagai murid pindahan yang menemukan kekuatan super barunya setelah tinggal di Edda, kota fiktif Norwegia yang alamnya mengalami kemerosotan dan tercemar polusi industri. Dia berteman dengan seorang aktivis vokal, mendiskusikan krisis iklim saat jam pelajaran, dan melawan teman-teman sekolahnya yang terlibat dalam pencemaran lingkungan.

The Boy Who Harnessed the Wind (2019)

Diadaptasi dari buku berjudul sama, The Boy Who Harnessed the Wind menceritakan kisah nyata William Kamkwamban (Maxwell Simba), remaja 13 tahun asal Malawi yang inovasinya menyelamatkan keluarga dan warga desa dari krisis panen. Kekeringan yang melanda desa William pada 2005 memicu kelaparan, ketidakstabilan politik, dan penjarahan yang kejam. Bermodalkan buku “Using Energy” dan komponen bekas, dia membangun kincir angin yang dapat menggerakkan pompa air untuk mengirigasi lahan pertanian. Filmnya tak tanggung-tanggung dalam menampilkan malapetaka lingkungan, mengedepankan kepahlawanan William dengan latar belakang salah satu komunitas paling rentan terdampak perubahan iklim.

Ya, kami tahu kebanyakan film dan serial dibuat untuk menghibur. Beberapa menjadikan dunia imajinasi sebagai pelarian dari kehidupan nyata yang suram. Topik berat macam perubahan iklim hanya akan menambah kepenatan yang ingin diusir dengan menonton. Beberapa orang berpendapat perubahan iklim terlalu sulit didramatisir.

Akan tetapi, penggambaran yang lebih realistis bisa meningkatkan kesadaran publik bahwa peristiwa terkait iklim seperti cuaca ekstrem, banjir bandang dan relokasi satwa liar yang tak terduga dapat terjadi di mana saja mereka berada. Tak semua representasi iklim harus membuat kita merenungkan bencana ekologis.

Mengangkat tema perubahan iklim memang bukan pekerjaan menyenangkan, tetapi mengabaikan realitas kita yang terus berubah demi kesenangan semu akan jauh lebih berbahaya. Perasaanmu mungkin menjadi lebih tenang jika menutup mata terhadap planet yang mulai sekarat. Tapi kalau kelamaan melakukannya, yang ada hidupmu akan dihabiskan dalam delusi.

ClimateUprise_Button.png