Virus Corona

Jubir Pemerintah Tiongkok Menuding Virus Corona Dibawa Tentara AS ke Negara Mereka

Seiring krisis COVID-19 mereda di Cina, Beijing mulai ogah disalahkan atas pandemi ini dan memosisikan diri sebagai juru selamat dunia dari virus mematikan tersebut.
16.3.20
Pemerintah Tiongkok Sebar Teori Konspirasi Virus Corona Dibawa Tentara AS ke Negara Mereka
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian dalam jumpa pers pada 5 Maret 2020. Foto oleh Kyodo via Associated Press

Pemerintah Tiongkok mulai muak disalahkan sebagai penyebab penyebaran global virus corona, dan kini pejabatnya justru menyerang balik tudingan tersebut. Para pejabat tinggi pemerintahan Tiongkok meyakini sebuah teori konspirasi bahwa militer Amerika Serikat lah yang pertama kali membawa COVID-19 ke Wuhan.

Klaim ajaib ini dilontarkan oleh juru bicara kementerian luar negeri, Zhao Lijian, diplomat yang diangkat jadi jubir di tengah merebaknya penyebaran virus corona pada Januari lalu. Dia kini dipandang sebagai salah satu calon perdana menteri berikutnya bagi Partai Komunis Tiongkok.

Iklan

Lewat sebuah cuitan Kamis pekan lalu, Zhao mengunggah video direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat, Robert Redfield yang tengah memberikan penjelasan kepada Komite Kongress awal minggu lalu. "Redfield mengakui beberapa warga AS yang diduga tewas akibat influenza ternyata positif virus corona dalam diagnosa sesudah mereka meninggal," ujar Zhao.

Kemudian, dalam twit berikutnya, Zhao bertanya:

"Kapan pasien pertama corona ditemukan di AS? Berapa banyak yang terinfeksi? Apa nama rumah sakit tempat mereka dirawat? Bisa saja tentara AS yang membawa epidemi ini ke Wuhan. Ayo transparan!"

Zhao merujuk kepada sebuah teori konspirasi yang menyebar di media sosial Tiongkok beberapa minggu terakhir. Teori ini didasarkan pada fakta bahwa 300 atlet dari militer AS hadir di Kompetisi Militer Dunia ke-7 di Wuhan Oktober tahun lalu—kota yang beberapa bulan kemudian menjadi titik awal pandemi global virus corona.

Teori ini semakin banyak diyakini setelah seorang ahli epidemiologi Zhong Nanshan mengatakan ke media pada 27 Februari, biarpun virusnya pertama kali muncul di Tiongkok, "bisa jadi asalnya bukan dari Tiongkok."

Zhong kemudian mengklarifikasi pernyataannya dan menambahkan "sebenarnya kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa virusnya datang dari luar negeri"—namun di Tiongkok, hanya pernyataan pertama Zhong yang terus dikutip oleh diplomat dan pejabat pemerintah.

Iklan

Biarpun twit awalnya dikritik habis-habisan, Zhao menolak meralat pernyataannya, lantas mengunggah bukti lain untuk mendukung klaimnya.

Buktinya adalah beberapa artikel yang dirilis Global Research, sebuah situs kecil asal Kanada yang gemar meliput teori konspirasi insiden 9/11 dan mengklaim bahwa mantan menlu AS Hillary Clinton menjalankan bisnis pemuas kaum pedofil.

Dalam twit yang diunggah Jumat pagi pekan lalu, Zhao lagi-lagi melempar sebuah pertanyaan: "Mungkinkah teori tentara AS yang membawa virus ke Wuhan kini diamini oleh pemerintah Tiongkok?"

Biarpun dikritik habis-habisan, komentar Zhao rupanya menarik banyak perhatian netizen Tiongkok. Sebuah tagar berhubungan dengan tweet Zhao sempat trending di Weibo dan telah dibaca lebih dari 150 juta kali sejauh ini.

Dari luar, komentar Zhao mungkin tidak ubahnya seperti seorang diplomat yang sedang “nakal” tapi dukungannya terhadap teori konspirasi sejalan dengan banyak sikap yang diambil pejabat Tiongkok selama beberapa pekan terakhir.

"Pemerintah Beijing memperkeruh suasana dengan berbagai narasi tandingan tentang asal muasal virus corona," ujar Fergus Ryan, analis yang mempelajari media sosial Tiongkok di Australian Strategic Policy Institute (ASPI), saat dihubungi VICE News.

"'Banjir informasi' ini dimaksudkan untuk mengecoh warga Tiongkok guna mengalihkan tanggung jawab dari tangan Partai Komunis Tiongkok,” tambah Ryan. "Zhao memang mengunggah di platform media sosial yang dilarang di Tiongkok, tapi screenshot dari tweetnya diunggah kembali di WeChat dan Weibo dan berbagai media lokal."

Iklan

Pemerintah Tiongkok menghabiskan banyak tenaga menyensor dan membungkam kritik atas respons mereka terhadap penyebaran COVID-19 baik di online maupun offline. Seiring krisis ini mulai berlalu di Tiongkok, kini pemerintah Beijing justru menempatkan diri mereka sebagai penyelamat dunia. Mereka baru saja mengirimkan bantuan suplai dan tim medis ke negara-negara seperti Italia dan Iran.

Di sisi lain, karena berbagai negara terlihat kebingungan merespons krisis virus corona di wilayah masing-masing, termasuk di AS atau Italia, pemerintah Tiongkok melihat situasi tersebut sebagai kesempatan untuk menyerang balik.

"Inti dari strategi propaganda Tiongkok adalah menyalahkan negara lain: munculnya tudingan Amerika Serikat membawa virus corona ke Tiongkok sesuai dengan pola propaganda ini," ujar Lokman Tsui, profesor bidang komunikasi di Chinese University of Hong Kong kepada VICE News.

"Apalagi karena pemerintah AS terbata-bata merespons penyebaran virus, nampaknya Beijing melihat situasi tersebut sebagai kesempatan untuk mengubah strategi humas yang tadinya bertahan menjadi menyerang sehingga citra mereka di panggung internasional lebih positif."

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News