Virus Corona Berdampak Pada Bisnis Kartel Narkoba Sinaloa Meksiko
Anggota kartel Sinaloa di kawasan Culiacán, Meksiko, sedang 'memasak' bahan baku heroin dan sabu yang biasanya didapat dari Tiongkok. Foto oleh Miguel Fernández-Flores/VICE News.
Coronavirus

Virus Corona Ternyata Juga Mempengaruhi Bisnis Kartel Narkoba Sinaloa

Bahan kimia yang digunakan untuk produksi sabu-sabu sebagian besar dikirim dari Tiongkok. Kepada VICE, anggota kartel di Meksiko mengaku gelagapan mencari pasokan penggantinya.
25.3.20

Jesús adalah seorang penyelundup narkoba untuk kartel Sinaloa. Pertengahan Maret 2020, dia dan penyelundup lain menerima pesan WhatsApp dari bos besar kartel ini, Ismael "El Mayo" Zambada, yang menyatakan harga grosir metamfetamin (sabu-sabu) di pasaran terpaksa harus naik.

"Mayo mengirim pengumuman yang bilang 'Semua pengedar harus menjual 450 gram kristal sabu seharga 15.000 peso (setara Rp4,8 juta), karena pasokan bahan baku mulai menipis. Sebelumnya, harga paket segitu cuma 2.500 peso (Rp805 ribu)," ujar Jesús, yang bersedia ngobrol bersama VICE dengan syarat identitasnya anonim. "Pesan dari dia juga menyebutkan, 'kalau kamu tidak patuh, siap-siap hadapi konsekuensinya.'"

Alasan yang diberikan untuk kenaikan drastis harga ini adalah pandemi virus corona. Jaringan suplai kartel sangat rumit, melibatkan rantai pasok lintas negara. Bahan baku kimia yang digunakan untuk produksi metamfetamin dan fentanyl sebagian besar didapat dari Tiongkok, yang jadi pusat penyebaran pandemi virus corona. Jesús mengatakan "tukang masak" di kelompoknya memang sudah mulai kekurangan bahan baku untuk memproduksi narkoba.

"Gara-gara virus corona, impor bahan kimia untuk produksi narkoba dari Tiongkok sangat langka di pasaran Ibu Kota Mexico City."

Virus corona, yang memicu penyakit pernapasan COVID-19, melumpuhkan roda-roda perekonomian dunia. Hampir semua industri yang mengandalkan Tiongkok buat pasokan tenaga kerja dan bahan baku industri terdampak, terutama perusahaan medis dan farmasi yang punya peran besar merawat orang sakit dan menahan laju penyebaran virus. Siapa sangka, kartel narkoba pun tidak lolos dari kondisi ini.

Jesús mengatakan, di situasi normal, "tukang masaknya" punya suplai bahan kimia untuk sebulan, tapi kini mereka kekurangan bahkan kesulitan mencari pengganti. Seorang “juru masak” dari faksi kartel Sinaloa lainnya, biasa dipanggil Enrique, melaporkan masalah serupa. Dia mengatakan harga acetone, yang digunakan untuk produksi heroin, sudah naik lebih dari dua kali lipat 15 hari terakhir, dari sekitar Rp984 ribu per 20 liter menjadi Rp2,46 juta.

"Perubahan harganya drastis," ujar Enrique. "Gara-gara virus corona, distribusi atau impor bahan kimia dari Tiongkok sangat langka di pasaran Ibu Kota Mexico City. Bisa sih dicari, tapi harganya tinggi banget."

Enrique sempat mendengar rumor satu kilo fentanyl yang dulu dibanderol 870.000 peso (setara Rp279 juta), sekarang sudah dijual penadah hingga 1 juta peso (Rp321 juta). Opioid sintetik ini dulunya dikirim dari Tiongkok langsung ke Amerika Serikat, menggunakan jasa pos internasional. Pemberangusan yang dilakukan pihak polisi Tiongkok sejak Mei tahun lalu membuat produsen narkoba di Meksiko kena durian runtuh. Para pecandu di AS jadi tergantung pada barang racikan kartel macam Sinaloa. Kartel Meksiko unggul dalam aspek produksi narkoba dunia karena aturan distribusi bahan kimia yang masih lemah di negaranya.



Salah satu pusat perdagangan fentanyl Tingkok berada di Provinsi Hubei, pusat persebaran awal wabah COVID-19 yang membunuh lebih dari 3.100 penduduk lokal sejak Desember 2019. Salah satu penyelundup narkoba yang diburu Departemen Keadilan AS, Yan Xiaobing, memiliki perusahaan yang beroperasi di Wuhan.

Menurut Ben Westhoff, penulis buku Fentanyl Inc., pemerintah daerah Tiongkok memperbolehkan perusahaan milik Yan—yang memproduksi banyak jenis bahan kimia—beroperasi di dalam zona pembangunan ekonomi khusus, serta tidak dipungut pajak. Beijing menolak menangkap atau mengekstradisi Yan ke Amerika, atas alasan tidak ada bukti dia melanggar hukum Tiongkok.

Kehadiran fentanyl dulunya sempat mengganggu pasar narkoba Meksiko yang didominasi heroin. Gara-gara popularitas fentanyl, harga opium poppy gum—cairan kental hitam yang dihaluskan menjadi heroin—jatuh dari Rp29 juta per kilo beberapa tahun yang lalu menjadi Rp5,2 juta baru-baru ini.

Kartel lantas menyadari bahwa produksi opioid sintetik macam fentanyl lebih menguntungkan, karena bisa dilakukan sepanjang tahun menggunakan bahan kimia yang sekarang harganya murah dan mudah didapat. Produksi heroin, sebaliknya, membutuhkan ladang poppy besar dan baru bisa dipanen ketika musim oleh petani musiman, yang tentunya harus dibayar jasanya.

Cartel members break up a brick of fentanyl-laced heroin into powder. (Photo by Miguel Fernández-Flores/VICE News)

Anggota kartel Sinaloa memecah fentanyl menjadi bubuk. Foto oleh Miguel Fernández-Flores/VICE News

Kartel Meksiko mulai mendominasi perdagangan crystal meth, terutama sejak medio 2010, ketika Amerika Serikat mulai mengontrol secara ketat obat-obatan yang mengandung pseudoephedrine, biasanya dibuat oleh peracik menjadi narkoba jenis lain dalam skala industri rumahan.

Akibat monopoli jaringan Meksiko terhadap pasar sabu di Negeri Paman Sam, pihak kartel berani meningkatkan kapasitas produksi, mengandalkan suplai ephedrine dan bahan kimia lainnya dari TIongkok. Aparat hukum Meksiko sebenarnya tidak diam saja. Mereka berusaha membekuk banyak laboratorium meth tersembunyi, yang mampu memproduksi ratusan kilo heroin, sabu, dan fentanyl per bulan. Meth dengan tingkat kemurnian tinggi asal Meksiko kini tersedia dengan harga murah dan menyebar ke berbagai pasar internasional.

Jesús tapi tak sepenuhnya percaya corona satu-satunya pemicu kenaikan harga. Dia berspekulasi bila kenaikan harga meth merujuk perintah El Mayo sesungguhnya lebih didorong sikap oportunis, bukannya akibat kekurangan bahan baku. Dia mengatakan produksi meth sudah naik skalanya beberapa tahun terakhir dan kompetisi antar kartel semakin ketat, menyebabkan margin keuntungan menurun.

"Menurutku pandemi corona tuh alasan aja sih buat naikin harga," ujarnya. "Bisnisnya sudah tidak seperti dulu. Butuh investasi US$100.000 untuk mendapatkan US$200.000. Itu semua uang yang banyak, tapi mengingat risikonya, keuntunga segitu jadinya enggak seberapa. Mereka penginnya investasi US$100.000 tapi dapetnya US$1,5 juta."

Juru bicara Badan Anti-Narkoba AS (DEA) Katherine Pfaff mengatakan pihaknya tengah melacak kaitan antara penyebaran virus corona dan pasar narkoba internasional. Tapi menurutnya masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan apapun.

"Sulit untuk menaksir situasinya," ujar Pfaff. "DEA terus memonitor keadaan. Butuh waktu sebelum kami bisa lebih paham apakah pasar narkoba terdampak oleh virus global ini."

Situasi di Tiongkok sepekan terakhir dilaporkan membaik. Tidak ada kasus penularan domestik COVID-19 baru sejak Kamis lalu. Para pekerja mulai kembali masuk kantor dan pabrik sudah melanjutkan produksi seperti biasa. Tapi krisis sesungguhnya baru dimulai. Penyebaran virus ini telah bermigrasi ke negara Asia lain, Eropa, hingga Amerika Latin, yang sudah pasti akan menjadi tantangan bagi perekonomian global.

AS maupun Meksiko mengumumkan larangan bagi warganya bepergian melintasi perbatasan kedua negara tersebut, yang pastinya akan mempersulit para penyelundup narkoba yang biasanya memasukkan produk mereka menggunakan mobil dan truk.

A cartel gunman stands guard at a clandestine drug lab in Sinaloa. (Photo by Miguel Fernández-Flores/VICE News)

Salah satu anggota kartel Sinaloa berjaga dengan senjata api di dekat pabrik pengolahan sabu. Foto oleh Miguel Fernández-Flores/VICE News

Seorang penyelundup yang bekerja untuk El Mayo di perbatasan kota Mexicali, saat diwawancarai VICE News, mengatakan mereka terpaksa mengurangi barang selundupan dari yang biasanya sekitar 15 kilo meth dan heroin per minggu, jadi lima kilo saja akibat kurangnya suplai dan meningkatnya pengamanan dari sisi AS. Para penyelundup juga khawatir tidak bisa memasukkan uang dan senjata ke Meksiko dari Amerika.

Bryce Pardo, seorang peneliti kebijakan di RAND Corporation yang mempelajari pasar gelap narkoba, mengatakan rantai suplai bahan kimia bakal semakin terganggu apabila pelabuhan pelabuhan ditutup atau dibatasi operasinya akibat penyebaran virus corona di Amerika Utara.

"Akan ada banyak produk menunggu di pelabuhan, karena tidak ada cukup pekerja—petugas pelabuhan dan mereka-mereka—untuk membantu membongkarnya," ujar Pardo. "Problem ini mungkin bisa diatasi di Asia, tapi kemudian di sisi AS dan Meksiko, akan ada banyak penundaan karena orang-orang tidak bisa bekerja dan membongkar barang, entah produk legal atau bukan."

Sejak pertengahan Maret 2020, mulai muncul laporan bahwa harga narkoba naik di pasar gelap internet, akibat menurunnya pasokan bahan kimia di Tiongkok, mengindikasikan bisnis kartel Meksiko akan terdampak serius. Laporan lain menyebutkan salah satu kartel penguasa Mexico City, La Union de Tepito, sampai berhenti menjalankan bisnis impor barang mewah KW, seperti sepatu dan dompet tiruan karena kekurangan pasokan maupun dana operasional.

Pardo mengingatkan, efek pandemi COVID-19 turut mempengaruhi para pengguna narkoba. Pengguna narkoba rekreasional mungkin bisa beradaptasi, karena mereka masih sanggup menerapkan social distancing dan tidak lagi mengonsumsi sabu saat pesta bareng teman-teman. Namun bagi para pengguna yang ketergantungan, mereka yang terancam sakaw karena harus terus mencari narkoba tidak peduli harganya.

"Pengguna narkoba kronik, orang-orang yang mengonsumsi narkoba berat seperti sabu dan heroin secara rutin, akan terganggu kesehatannya," ujar Pardo. "Mereka terpinggirkan secara sosial dan ekonomi. Kemungkinan besar mereka akan terbunuh oleh corona, dan ini akan mengurangi permintaan narkoba karena merekalah pengguna terbesar narkoba asal Meksiko dari sisi kuantitasnya."

Saat ini ada sekitar 316 kasus positif COVID-19 dan 2 pasien positif meninggal di Meksiko. Kurangnya pengujian secara menyeluruh membuat jumlah ini sangat mungkin lebih rendah dari angka penularan sesungguhnya. Enrique juga sempat mengira virus ini mungkin hanya “alasan” bagi pemimpin kartel untuk menaikkan harga narkoba di pasaran. Tapi dia sendiri was-was dengan pandemi Corona.

"Semua orang takut, kami mendengar berbagai macam informasi sumir soal penyakit ini," ujarnya. "Ada yang bilang corona cuma flu biasa, ada yang bilang virusnya bisa membunuhmu. Saya enggak tahu harus percaya yang mana."

Jesús termasuk yang skeptis sama bahaya virus corona. "Buat saya, semua kabar soal pandemi itu bohong," ujarnya. "Saya enggak percaya ada pandemi global. Menurut saya semuanya omong kosong. Saya dari kemarin enggak ketemu siapapun yang terjangkit virus corona."

Mengenai prospek bisnisnya, Jesús optimis. Biaya operasionalnya mungkin akan naik dalam jangka pendek, yang akan memaksanya menaikkan harga jual sabu di pasaran. Tapi dia yakin pecandu akan mau membayar berapapun untuk produk bikinan Sinaloa.

"Sebagai produsen, harga naik justru bagus karena keuntunganmu akan naik, tapi pengedarku harus menaikkan harga produk per gram, dan akan ada orang-orang yang enggak senang dengan itu," ujarnya. "Untungnya, mengingat klienku di AS dan negara lain semuanya kecanduan sabu, mereka cuman bisa mengeluh tapi ujung-ujungnya harus membayar harga yang kami minta."


Miguel Angel Vega turut berkontribusi dalam liputan ini.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News