Seni

Perempuan Singapura Viral, Gemar 'Baca' Buku Raksasa Berjudul Nyeleneh di Kereta

Judul buku-bukunya penuh sindiran, sangat relevan dengan kehidupan anak muda.
KE
oleh Koh Ewe
SG
16.2.21
Kolase foto perempuan menenteng sampul buku raksasa
Kolase: VICE / Semua foto oleh @womanwithbooks

Bagi kebanyakan orang, perjalanan pulang-pergi hanyalah rutinitas sehari-hari yang membosankan. Tapi bagi perempuan Singapura satu ini, bepergian naik transportasi umum selalu menjadi pengalaman yang seru. Dia dengan bangga memamerkan “buku” yang judulnya menarik perhatian saat naik kereta.

“Ini cuma eksperimen sosial biasa, sekaligus untuk menangkap budaya kontemporer,” kata pemilik akun Instagram @womanwithbooks kepada VICE.

“Saya ingin mengekspresikan perasaan generasi milenial yang jarang diungkapkan dengan cara menggelikan,” lanjutnya.

Judulnya bisa dibilang sangat relevan dengan kehidupan anak muda, dari How to Transfer Money From My Mind to My Bank sampai How to Spot a F*ckboy atau How to Endure Idiots. Menariknya lagi adalah buku-buku ini bukan buku sungguhan, melainkan sampul raksasa yang didesain untuk menggelitik perut siapa saja yang melihat.

Perempuan 28 tahun itu mengaku ingin “menghibur orang” di masa-masa sulit seperti sekarang. Menurutnya, hidup akan terasa lebih indah ketika melihat orang tertawa atau berbisik satu sama lain setelah membaca judul buku yang dia tenteng.

Perempuan membuka sampul buku "How to Transfer Money from My Mind to My Bank" di dalam kereta

Foto oleh @womanwithbooks

“Orang [terlihat] baik-baik saja dari luar, tapi kita takkan pernah tahu seperti apa hidup mereka sesungguhnya,” tuturnya ketika ditanyakan dapat inspirasi dari mana. Judul How to Hide Your Insanity, misalnya, menyinggung tekanan hidup yang memuakkan.

“Saya bertanya kepada penonton: ‘Bagaimana kalian menyembunyikan kegilaan hidup?’”

Akun Instagram-nya diikuti lebih dari 2.000 orang sejak pertengahan Januari. Setiap akhir pekan, dia akan naik kereta sambil menenteng buku raksasa. Dia pergi bersama teman yang bertugas mengabadikan tingkahnya dan mengunggah foto ke media sosial.

Di Singapura, ada garis tipis antara kreativitas dan tindakan melanggar aturan ketika membicarakan pertunjukan seni. Pada 2017, seorang seniman diamankan polisi karena membawa cermin di sejumlah lokasi ramai. Dia dituduh melakukan aksi protes yang melanggar hukum. Masih di tahun yang sama, aktivis didakwa pasal vandalisme setelah menggelar aksi damai membaca buku kontroversial dengan mata tertutup di kereta.

Meskipun demikian, @womanwithbooks yakin tidak akan berurusan dengan pihak berwajib. “Saya, kan, tidak memulai gerakan atau memprotes apa pun. Saya hanya kepengin orang-orang bahagia,” simpulnya.