Objectively Correct List

17 Album Ini Tidak Terlalu Intelek Seperti Yang Kalian Kira

Berhubung semua album ini pernah kami puji, kami mengakui pernah terbawa suasana dalam pencarian diri menjadi individu-individu 'berbudaya'. Jangan mengulangi kesalahan yang sama.
29.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Tidak ada yang senang jadi orang bego. Sepanjang hidup, kita selalu berusaha memajukan diri, menjadi pribadi yang lebih intelek dibanding kemampuan otak kita sesungguhnya. Misalnya, pernah baca artikel-artikel Noisey? Kami disini selalu pamer selera adiluhung dalam film, seri TV, sastra dan musik. Tapi kadang ketika kita mundur selangkah dan melihat hal-hal yang kita anggap adiluhung, hal-hal yang melambangkan selera tinggi kita, terlihat jelas film macam Garden State dan buku macam Fight Club bukanlah pencapaian tertinggi dalam bidang hiburan umat manusia. Berdasarkan argumen macam ini, berikut beberapa album yang sangat kami sukai dan kadang menjadi lambang tingkat intelektualitas seseorang. Album-album ini tentu saja tidak jelek, tapi setelah diteliti lebih jauh, mungkin tidak se-intelek yang kita bayangkan semasa remaja dulu.

Metallica - Master of Puppets

Master of Puppets adalah album yang hampir sempurna, dan semua orang yang membantah ini sudah pasti salah. Dalam strata metal, album ini tinggi di atas bersama Reign in Blood atau Number of the Beast, dan saya suka banget album ini. Masalahnya, setengah resensi tentang album ini selalu membahas hal-hal yang sama: bagaimana album ini memiliki "komentar sosiopolitik" yang pedas dan berani membahas topik "tabu" macam perang dan penggunaan narkoba. Plis deh, stop. Biarpun memang Metallica ingin menyampaikan pesan di album ini, semua "komentar" tersebut tidak lebih dari sekedar kemarahan remaja di era pemerintahan Reagan di AS.

Iklan

Lha coba kita teliti isi albumnya. Ada satu lagu tentang kemarahan dan memukul-mukul barang. Ada satu lagu tentang menyedot terlalu banyak kokain. Satu lagu tentang buruknya institusi mental. Satu lagu tentang buruknya perang. Satu lagu tentang bagaimana agama dan televangelis itu buruk. Satu lagu gak ada liriknya. Satu lagu lagi tentang kemarahan dan kekerasan. Satu lagi lagu yang terinspirasi penulis Lovecraft. Udah, gitu doang. Isinya Master of Puppets itu gitu doang—marah, pake narkoba, dan menganggap monster itu keren. Musiknya sendiri emang keren, solo bass Cliff Burton itu legendaris, dan suara James Hetfield masih bagus di sini. Tapi sama seperti band metal "intelek" lainnya, album ini gak segitu dalam liriknya kok. Kim Kelly

The Who – Tommy

Ingat adegan film Almost Famous ketika Zooey Deschanel meninggalkan Patrick Fugit secarik pesan bertuliskan "Dengarkan Tommy ditemani lilin menyala dan kamu akan menyaksikan seluruh masa depanmu?" Jujur, ini nasihat yang keren buat seorang remaja rebellious 18 tahun ke adiknya yang nerdy di awal 70an. Terutama kalau "lilin" itu maksudnya "ngebaks". Ya namanya juga era 70'an.

Ok, jujur, Tommy—filmnya—itu seru banget, terutama kalau kamu sambil menyalakan beberapa "lilin". Tommy adalah koleksi dari rock klasik mendalam. Yang lebih penting lagi, Tommy adalah foto dari periode ketika kultur pop dan rock sedang kreatif-kreatifnya, ketika seniman tidak takut berlaku dan terlihat aneh, terutama di saat ketika menjadi aneh dianggap revolusioner. Bahkan hingga hari ini, film Tommy masih terus menjadi film aneh pertama bagi banyak anak kampus generasi baru.

Iklan

Tapi tetap saja ini tidak mengubah fakta bahwa Tommy adalah album konsep yang berantakan dan tidak memiliki plot jelas. Menjadi ambigu tidak membuat sesuatu menjadi "intelek". Jadi, silakan tutup pintu kamar, kencangkan volume Tommy, dan nyalakan lilin atau apapun yang kamu mau, tapi sama seperti banyak hal yang kamu sukai ketika berumur 16 tahun, album ini gak segitu inteleknya kok. — Andrea Domanick

The Mars Volta – De-loused in the Comatorium

The Mars Volta adalah tikungan paling curam yang ditempuh dua orang mantan anggota band post hardcore super keren, At The Drive-in. Yang bikin keren, mereka mengeksekusi album ini dengan spektakuler. Album panjang pertama The Mars Volta, De-loused in the Comatorium, adalah album trippy namun lebih tegas dan lebih aneh dari segala yang pernah digubah ATDI. Masalahnya, lirik yang ditulis Cedric Bixler-Zavala—konon isinya ode panjang untuk Jeremy Michael Ward, salah satu pendiri The Mars Volta yang tewas karena overdosis heroin—hampir enggak masuk akal. Ini adalah jenis lirik yang lahir dari pemikiran "pokoknya masukan semua kata-kata aneh kamu pasti kedengeran intelek." mau contoh? Coba yang ini "Transient jet lag ecto mimed bison / This is the haunt of roulette dares / Ruse of metacarpi," kayak orang ngelantur kan? Seperti lirik-lirik album ini sepertinya ditulis Cedric yang baru bangun terus langsung ngulik kamus, nyari istilah yang aneh dan jadilah lirik The Mars Volta (cara yang sama sepertinya digunakan band indie Indonesia yang ngerasa paduan kata-kata aneh sebagai sebuah lirik). Asal kamu tahu, bikin lirik dengan kata-kata njilemet enggak ada salahnya, setidaknya kata-kata itu bisa digunakan elemen sonik murni. Yang salah adalah berpura-pura menganggap lirik dalam album ini sebagai karya jenius….padahal cuma racauan ngelantur orang kobam opium. — Dan Ozzi

The Beatles - Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band

Ada dua jenis orang yang doyan make: Mereka yang make, dan yang hobi nyeritain gimana mereka make. Nah Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club karya The Beatles itu yang kedua dalam bentuk musik. Jangan salah: empat orang berambut mop ini menciptakan salah satu album paling menawan dan progresif di era musik modern dan kalau gue ketauan ngomong jelek soal album ini, bokap gue pasti sewot. Masalahnya, konten lirik album ini tingkat intelektualitasnya sepadan dengan percakapan mabuk gue dengan teman pas jam tiga pagi. Misalnya, di album ini ada lagu berjudul "Fixing a Hole" yang menampilkan Paul McCartney ngeriff selama dua setengah menit bernyanyi tentang kepuasan mental akibat perbaikan rumah. Terus ada satu lagu tentang pria bernama Mr.Kite dan trampolin. Terus ada lagu yang dalemmmm banget berjudul "Lucy in the Sky with Diamonds" yang sesungguhnya tentang LSD. Album ini emang menawan dan "When I'm Sixty-Four" adalah lagu cantik yang diputar Ayah saya untuk Ibu di pernikahan mereka, tapi astaga lirik album ini sama dalemnya dengan kolam renang anak-anak. Coba jujur deh, album ini sebetulnya cuma 13 lagu berbeda dengan pesan yang sama: "'make' tuh keren lho." — Eric Sundermann

The Smashing Pumpkins - Mellon Collie and the Infinite Sadness

Saat album ini rilis, Smashing Pumpkins sedang menjulang tinggi berkat sukses dari album Siamese Dream, dan lewat album-dobel ini, sang kuartet langsung menduduki puncak gunung Rock Alternatif. Buktinya? Album mereka bertengger di puncak chart musik, menjadi nominasi tujuh penghargaan Grammy, dan tentunya jutaan kaos "Zero" yang memenuhi kloset anak-anak indie di era tersebut. Jangan lupa juga sosok frontman Billy si botak, yang entah bagaimana bisa mengeluarkan aura braggadocio pemenang platinum dan tetap terlihat seperti anak indie outsider. "I fear that I am ordinary / Just like everyone," nyanyi Billy dengan suara cemprengnya yang khas. Dalam banyak hal, album ini—berisikan 28 lagu—merupakan bukti dia bukan orang biasa (ordinary). Bahkan judul lagu-lagunya aja udah kelewat ambisius: "Porcelina of the Vast Oceans," "Where Boys Fear to Tread," "Tales of the Scorched Earth."

Iklan

"I sensed my loss before I even learned to talk," dia menangis di "To Forgive," dan di lagu lain justru berteriak: "GOD IS EMPTY / JUST LIKE ME!" Wah Billy ngertiin kita banget. Dia virtuoso! Seniman sejati! Tapi plis deh, santai dikit ngapa. Album ini tidak sebesar ego artistiknya Billy kok. Mellon Collie adalah album yang lancang dan berani, kadang lebay dan justru nge-twee ("Only Come Out at Night"), dan juga soundtrack yang sempurna untuk melempar barang-barang ("X.Y.U."). Ketika dia tidak sedang memaksakan diri, Corgan menyampaikan kelembutan, lagu-lagu yang dimaksudkan untuk membawa kenyamanan lebih besar daripada guling yang sedang kamu peluk. Dan tentunya album ketiga mereka ini melahirkan salah satu single indie rock terbaik sepanjang masa: "1979." Tidak banyak lagu yang bisa dengan sempurna menangkap kebingungan dan kebebasan masa muda. Intelek sih enggak, tapi bukan berarti gak boleh baper lho. — Kim Taylor Bennett

Green Day – American Idiot

American Idiot adalah album konsep opera punk rock. Dan seluruh konsep ini bisa diutarakan hanya dengan dua kata: "pemerintah jahat." Dan ini bukan lantas sebuah kritik terhadap album. Lha emang pemerintah itu jahat kok, dan mestinya setiap generasi muda paham dengan konsep ini. Tapi sebagai pendengar dewasa, kita bisa melihat American Idiot dan menyadari Green Day sama sekali tidak melahirkan ide yang baru dan meneriakkan pesan politik yang umum. Lagian apa iya kita butuh musikal Broadway tentang kesadaran bahwa semua media punya agenda dan George Bush itu presiden yang buruk? — Dan Ozzi

Neutral Milk Hotel - In the Aeroplane Over the Sea

Kisah tentang konsep album In the Aeroplane Over the Sea sudah menjadi rahasia umum: Jeff Mangum membaca buku jurnal Anne Frank, sedih, dan mengatakan ke majalah Puncture (wawancara ini diunggah situs Pitchfork), "Saya setiap malam bermimpi memiliki mesin waktu dan kembali ke masa lalu dan menyelamatkan Anne Frank." Narasi ini saja telah menghasilkan banyak analisa lebay—sampai ada thread 4chan gak serius yang menuliskan teori konspirasi seandainya Mangum benar-benar bisa kembali ke masa lalu—tapi sesungguhnya menjelaskan banyak aspek album ini (gak susah kok mengartikan lirik macam "then they buried her alive / One evening 1945" dari lagu "Holland, 1945"). Biarpun banyak lirik NMH muter-muter dan sulit dipahami—karena banyak perumpamaan seksual dan agama—dan kesannya mesti dibedah habis-habisan, sebetulnya pesannya lumayan sederhana: mereka semua hanyalah gambar mimpi yang cocok dijadikan frasa lirik. Seks dan agama itu seperti pelajaran dasar surrealisme. Coba lihat lukisan Salvador Dali dan lirik Jeff Mangum, liriknya Jeff bakal bikin kamu mengerutkan dahi. Di wawancara yang sama, Mangum mengatakan bahwa proses penulisan liriknya tidak bersifat serebral, dan pikirannya cenderung mengikuti kemauan mimpi-mimpi, dan secara alami banyak membahas agama dan seks. Mencoba mencari tahu tema besar lirik In the Aeroplane Over the Sea, menanyakan Mangum pesan album tersebut itu sama saja dengan melewatkan inti dari pesan yang coba disampaikan.

Iklan

Intinya: album ini gak ada makna mendalamnya. Aeroplane memang album konsep, tapi konsepnya hanya berkisar tentang empati radikal, ide bahwa sejarah dan kemanusiaan paling baik dimengerti dengan cara terjun ke dalam psikologi seseorang. Apanya yang intelek soal menulis lirik tentang Perang Dunia II? Apa juga inteleknya menulis lirik tentang bagaimana realita hanyalah mimpi panjang?—ada alasan profesor filosofi melarang muridnya membahas The Matrix di kelas—tapi bukan berarti kamu tidak bisa menemukan kedalaman emosional dari lirik tentang mimpi seseorang yang diungkapkan dengan sangat mendetil. Cuman jangan salah ya, koneksi perasaan dan intelektualisme tidak ada hubungannya. — Kyle Kramer

The War On Drugs – Lost in the Dream

Gara-gara album ini sangat dicintai kritikus musik, Adam Granduciel dari band The War on Drugs menato dirinya sendiri pakai tulisan "Five stars. Magnificent." Para kritikus menyebut Lost in the Dream sebagai album patah hati yang maknanya dalam banget dan berlapis-lapis—"menakjubkan dan dalem" kalau kata Pitchfork—karena ditulis, sesudah kandasnya hubungan asmara Granduciel, dan mengandung banyak referensi tentang hidup penuh kehampaan dalam liriknya.

Tentu saja ini semua bohong. Kenyataannya semua kritikus rock yang tumbuh mendengarkan Bruce Springsteen, harus menghabiskan satu dekade terakhir berpura-pura mengakui kejeniusan Beyonce dan Lil Wayne, sambil menyangkap panggilan mereka: mengenakan rompi denim sambil menyanyikan lagu-lagu anthem rock Amerikana.

Iklan

Inilah alasan sesungguhnya para kritikus menyukai album ini, bukan karena album ini membuat mereka merasa kesepian, tapi justru membuat mereka merasa aman. Album ini terkesan sangat bangga dengan introspeksinya sendiri hingga kadang lagu-lagunya terdengar tidak lengkap, dan berakhir dalam sesi jamming tanpa makna. Bahkan lagu-lagu yang upbeat terdengar seperti musik tunggu ponsel 80an. Banyak asumsi bahwa ada semacam pesan tersembunyi di bawah album ini, biarpun sebetulnya kamu gak bisa mendengar apa-apa. Para kritikus mengatakan ada sesuatu yang intelek tentang album ini, biarpun sebetulnya mereka cuman suka karena musiknya terdengarnya seperti musik yang mereka dengarkan di masa kecil. Intinya album ini seperti Dire Straits yang sedang memakai obat Ambien. Gak usah sok-sokan deh. — Sam Wolfson

Muse – Black Holes and Revelations

Kalau kamu lagi mencari bukti Muse adalah soundtrack bagi kaum sok radikal-intelektual, silakan simak tulisan ini: Muse adalah band favorit Glenn Beck. — Dan Ozzi

Joey Bada$$ - B4da$$

Gak ada yang bilang Joey Bada$$ itu rapper yang jelek loh ya. Memang dia tangkas menggunakan kata-kata, terutama dalam beberapa bait ketika dia menjadi bintang tamu. Dia menunjukkan bahwa dia bisa fleksibel dan dapat merubah delivery style rapnya. Tapi ide naif bahwa satu-satunya rapper yang 'keeping it real' itu hanya Joey Bada$$ layak ditertawakan mengingat beberapa rapper paling besar di dunia saat ini—Kendrick Lamar dan Kanye West misalnya—juga banyak membahas diskusi seputar ras, identitas dan politik korporasi AS. Banyak lirik Joey Bada$$ yang terlihat pintar sebetulnya hanyalah asosiasi kata yang sederhana: Kok dia bisa kepikiran pake kata cattle pas ngomongin beef?! Ya karena dua-duanya berhubungan, dongo. Young Thug itu gak ngerusak musik rap karena dia ngerap soal metafora sayuran yang terlihat seperti kantong bajunya, sama perihal bahwa Joey Bada$$ bukan penyelamat rap hanya karena dia berhasil mempadukan rima "lyrical fajitas" dengan "vegeta." Tidak realitis untuk berusaha mencari makna intelek di dalam musiknya. Permainan kata Joey memang menyenangkan, tapi kerap subyek dari musik rapnya hanyalah rap itu sendiri. Gak usah terlalu ribet mikir deh. — Kyle Kramer

Coheed and Cambria - Good Apollo, I'm Burning Star IV, Volume One: From Fear Through the Eyes of Madness

Pernah menggonta-ganti saluran TV sampai ujung-ujungnya kamu nemu film fiksi sains setengah jalan dan kamu benar-benar enggak tahu ceritanya apa? Kira-kira begitu rasanya mendengarkan album ke-empat Coheed and Cambria—dan alur cerita konsep album ini yang mengikuti serial komik berjudul The Bag On Line Adventure. Sebenarnya, enggak adil juga bilang kalau album ini kurang "dalam." Masalah utamanya, Claudio Sanchez cs udah ngelantur kejauhan. Mulai album ini—yang sejatinya curhatan Claudo karena ditolak lamarannya oleh Chondra, istrinya sekarang—ceritanya makin aneh (contohnya, ada arwah yang bentuknya kayak sepeda, sumpah Star Wars aja enggak punya karakter sekonyol ini). Udah gitu, Coheed and Cambria malah keasikkan bikin cerita perang bintang yang sok mendalam sampai pendengarnya bengong doang, enggak nangkep apa yang mereka omongin. Tak cuma itu, dari album ini, judul album-album band asal Nyack, New York ini makin esoterik (baca: panjang dan ngebingungin). Mulai Good Apollo, I'm Burning Star IV, disusul Volume Two: No World for Tomorrow. Barangkali, nanti mereka punya album berjudul In Keeping Secrets of Silent Earth: 3; In Blowing a Robot on Silent Age Prophecy XXVI: Thee Earthening 8 (Starship X)Dan Ozzi

Lupe Fiasco - The Cool

Lagu terbaik dari album debut Lupe Fiasco adalah "The Cool," lagu yang menceritakan kisah kebangkitan Michael Young History, seorang lelaki yang meninggal ketika sedang mengejar mimpi. Lagu ini track paling menonjol di Food & Liquor, yang secara style, sangat campur aduk. Akibat kesuksesan lagu tersebut, Lupe memutuskan untuk aji mumpung dan menulis satu album penuh berdasarkan konsep lagu tersebut sambil memperkenalkan dua karakter berkonsep: The Streets dan The Game. The Cool (album) secara musik lebih bagus dibanding album debut Lupe, dan banyak yang langsung memuji album tersebut karena kehadiran tiga karakter tematiknya, biarpun faktanya hanya segelintir lagu dari total 19 track di situ yang menyebutkan karakter-karakter tersebut. Faktanya, lagu terbaik di album justru yang tidak mengikuti skrip konsep, seperti "Hip-Hop Saved My Life" dan "Dumb It Down." Biarpun The Cool dipuji karena dianggap "pintar," album ini tidak lebih pintar dari album rap lain yang bercerita tentang sisi gelap penulisnya. — Slava Pastuk

The Smiths - The Queen Is Dead

The Queen is Dead adalah salah satu album paling menawan yang pernah dibuat. Album ini penuh penderitaan, lucu, namun juga bentuk penentangan bagi kelas pekerja Inggris terhadap Thatcherisme yang mengancam kehidupan mereka.

Iklan

Fakta bahwa The Queen is Dead disebut sebagai salah satu album terbaik dalam 30 tahun terakhir merupakan bukti akan daya tarik global album ini. Judul album ini memang merupakan referensi terhadap Brooklyn, Macbeth, dan Cymbeline, tapi—sama halnya dengan semua karya Morrissey—istilah-istilah sastra yang digunakan hanya mempermanis inti karyanya sendiri, yaitu bagaimana Steven doyan mengeluh. Dengan lirik macam "to die by your side is such a heavenly way to die" dan "sometimes i'd feel more fulfilled making Christmas cards with the mentally ill," Morrissey mengukuhkan diri sebagai sosok yang paling mengasihani dirinya sendiri dalam kultur pop. Kalau kamu menenggak alkohol setiap kali kamu mendengar Morrissey bernyanyi tentang kesepian atau disalah pahami, kamu bakal mabuk tiga hari begitu album ini berakhir. Jelas penggunaan komentar-komentar miring dan iseng yang menemani lirik mereka justru adalah yang membuat The Smiths brilian, tapi mari kita menilai The Queen Is Dead dalam wujud sesungguhnya: bentuk tertinggi buku diary remaja. — Emma Garland

Pink Floyd – Dark Side of the Moon

Pink Floyd adalah soundtrack sejati para pemadat, semua orang tahu itu. Dan sama seperti semua musik macam ini, periode waktu yang lama telah menempelkan semacam makna filosofikal mendalam bagi Dark Side of the Moon. Tapi ketika kaos dan poster Dark Side of the Moon bisa dibeli di berbagai toko retail di mal, dan pendengar musik ini kebanyakan hanya pemalas, mari kita menilai ulang: Apa iya album ini intelek? Atau semua orang lagi giting pas lagi memuja-muji album ini?

Iklan

Apa sih yang intelek dari memainkan bunyi register mesin kas menggunakan tape loop? Kalau kamu emang tertarik dengan kapitalisme subversif, mendingan nonton Zoolander. — Bryn Lovitt

Rage Against the Machine - Rage Against the Machine

Saya tumbuh mendengarkan RATM. Konser mereka adalah yang pertama saya hadiri, dan mereka jugalah kaos band pertama saya. Kita semua mengira musik RATM memiliki kemampuan untuk mengubah dunia. Setelah memikirkan ini selama 20 tahun, dan menyaksikan evolusi pemberontakan kaum muda, ternyata keadaan tidak bertambah baik. Beberapa dekade setelah album ini diriilis, kaum fundamentalis bertambah gila, peperangan masih terjadi, dan polisi masih hobi menembak orang tidak bersalah. Dunia masih tidak adil. Pemberontakan remaja tanpa fokus dan organisasi perlahan melemah. Bubar. Kita memiliki sesuatu, tapi kini kita sudah kalah.

Rage Against the Machine merupakan monumen bagi pemberontak politik sok pintar yang tidak memiliki rencana selain menghancurkan sistem politik saat ini, penuh dengan slogan-slogan menonjok tapi tidak diiringi dengan aksi yang konstruktif. "Fuck you, I won't do what you tell me!" "Wake Up! We gotta take the power back!" "We'll settle for nothing now, and we'll settle for nothing later!" Semua ini memang enak dinyanyikan, tapi tidak menghasilkan apapun. Saya masih suka banget dengan album ini, tapi percuma meneriaki semua orang untuk 'bangun' kalau tidak ada yang tahu harus berbuat apa setelah bangun. — Craig Jenkins

Kanye West – Yeezus

Para kritikus doyan Yeezus. Lha sudah pasti, wong ini album hip-hop yang keluar dari pakem tradisional (kalau menggunakan kembali elemen industrial 90an bisa dihitung sebagai non-tradisional). Dengan banyaknya elemen musik asing yang belum pernah muncul di sebuah album hip-hop, para penulis resensi musik bebas mengaduk kamus dan menggunakan kata-kata baru yang belum pernah mereka gunakan.

Namun biarpun banyak yang menyebut album ini sebagai kelahiran era baru hip-hop radikal, jangan lupa bahwa baru beberapa tahun sebelumnya, Kanye West adalah seorang milioner yang sibuk tampil di iklan Pepsi. Dan pesan sesungguhnya dari lagu "Black Skinhead" yang kerap disebut "manifesto punk-rap" adalah seorang lelaki yang menganggap dirinya Tuhan dan menulis lagu tentang perasaannya disakiti oleh seorang desainer fashion di Fashion Week. Kanye sering menyebutkan bait kedua "New Slaves" sebagai salah satu lirik terbaiknya, dan memang bait itu dengan sangat baik menjelaskan kompleks industrial penjara AS, dan Kanye memang masih terdepan dibanding rekan-rekan kontemporernya. Tapi begitu elemen musiknya dibuang, dan kita melihat hanya liriknya, sesungguhnya konten liriknya sama dengan hal-hal yang pernah dia nyanyikan sebelumnya. Bedanya? Sekarang dia mendengarkan Nine Inch Nails sebelum mulai menulis lirik. Sangat menggoda untuk menyebut Yeezus sebagai kasus raja yang tidak berpakaian, tapi ini salah, karena satu-satunya hal yang Kanye punya adalah pakaian. — Dan Ozzi

Radiohead - Kid A

Bayangkan kamu bangun pagi dan sadar kalau ada makalah yang harus dikumpulkan hari itu juga. Karena panik, kamu masukan segala macam omong kosong sok filosofis ke dalam makalah dan berharap kamu bakal dapat B. nyatanya, kamu malah dimintai izin agar karyamu dimasukkan jurnal ilmiah lantaran makalahmu dianggap "revolusioner." Kid A adalah padanan makalah itu dalam bentuk album musik. Enggak satupun orang yang berani bilang kalau album ini tentang sesuatu di kehidupan yang fana ini. Aslinya, album ini tak punya tujuan, apalagi arti. Enggak ada sama sekali. Kid A lahir ketiga Thom Yorke mentok dan kehabisan ide dan kawan-kawannya dengan enteng bilang "Udah santai aja sih. Lakuin apa yang elo mau. Kami enggak peduli, kamu kan vokalis Radiohead." Kid A adalah serangan panik panjang, sebuah puisi terpotong-terpotong ala Myspace karangan anak SMA yang doyan bikin orang panik cuma karena "dia suka melakukannya" dan kini anak itu kuliah di luar negeri serta punya kegemaran baru: memposting meme rasis. Kid A juga bisa ditafsirkan sebagai surat cinta yang ditulis dalam sebuah episode manik oleh seorang anggota band yang manggung di Soundrenaline dan ditujukan ke mantannya…meski mereka udah putus dari sejak SMP. Jujur saja, Kid A album yang keren. Tapi beneran deh, Radiohead lagi ada masalah apa sih pas bikin album ini? — Annalise Domenighini