FYI.

This story is over 5 years old.

Seriusan Nih?

Sedikit Lagi, Kita Sudah Bisa Mencangkok Organ Babi ke Dalam Tubuh Manusia

Penelitian kontroversial ini diklaim aman dari virus dan bisa mengantasi persoalan kurangnya pasokan cangkok organ bagi penderita penyakit berat.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Peneliti telah menggunakan teknik mengedit gen CRISPR untuk memodifikasi genom babi guna membunuh gen penarik keluarga virus yang dapat menginfeksi manusia. Tenang saja, kita tidak akan ketularan virus dari sekedar makan babi; para peneliti tengah meneliti bidang ini karena suatu hari ini kita dapat mengembangkan organ babi untuk dicangkokan ke dalam tubuh manusia. Setelah virus berhasil disingkirkan dengan sukses, umat manusia satu langkah lebih dekat mewujudkan transplantasi antar-spesies.

Iklan

Di berbagai penjuru dunia, banyak orang yang membutuhkan organ tubuh, tapi kesediaan organ-organ ini sangat terbatas. American Transplant Association memperkirakan 120.000 orang yang membutuhkan cangkok organ, dan 22 orang meninggal setiap harinya menunggu cangkokan organ tersedia. Jadi tidak heran tim peneliti berusaha menghasilkan solusi bagi masalah ini, mulai dari opsi yang memungkinkan dengan teknologi dan sumber daya kesehatan yang kita punya saat ini, hingga yang sifatnya masih masa depan.

Salah satu ide yang kedengarannya ngawur ini adalah xenotransplantation—mencangkokkan jaringan atau organ dari sebuah binatang ke dalam manusia. Para peneliti pernah mencoba ide ini di awal 1900-an dan gagal. Setelah alat modifikasi genetik yang lebih canggih tersedia di 1990an, para ilmuwan kembali mencoba mengunjungi kembali ide ini. Kini, dengan CRISPR, xenotransplantation menjadi semakin dekat dengan kenyataan.

Salah satu tantangan terbesar dari operasi ini adalah Porcine Endogenous Retroviruses (PERVs). Semua spesies mamalia (termasuk manusia) memiliki potongan kecil dari DNA viral di dalam kode genetik mereka dan para peneliti mengkhawatirkan apabila jaringan babi dicangkokkan ke dalam manusia, virus yang berada di dalam DNA babi bisa menginfeksi sel manusia. Biarpun hasil tes di laboratorium mengkonfirmasi kemungkinan ini, para ilmuwan belum pernah bisa benar-benar yakin.

Dalam penelitian baru ini, yang diterbitkan oleh jurnal Science, sebuah tim peneliti yang dipimpim ilmuwan dari eGenesis Inc, sebuah perusahaan bioteknologi yang berfokus menggunakan CRISPR untuk menyelesaikan problem kelangkaan organ manusia, melaksanakan beberapa tes awal untuk memahami lebih jauh bagaimana PERVs bisa mempengaruhi sel manusia.

Iklan

"Kami melakukan penelitian tanpa bias. Apakah PERVs perlu menjadi kekhawatiran sesungguhnya bisa diperdebatkan," kata Luhan Yang, salah satu pendiri dan kepala ilmuwan di eGenesis yang juga menjadi salah satu penggagas penelitian ke Tonic. "Kami hanya percaya dengan apa yang kami lihat—apakah ada infeksi? Seberapa parah masalahnya?"

Mereka menemukan bahwa tidak hanya sel babi bisa menginfeksi sel manusia dengan PERVS di cawan petri, tapi sel manusia yang terinfeksi dengan PERVs juga bisa menginfeksi sel manusia lain yang tidak pernah menyentuh sel babi. Waduh, bahaya dong.

Setelah memastikan bahwa PERVs bisa beresiko terhadap manusia, Yang dan timnya berencana mengenyahkannya. Mereka menggunakan sekuensi genetik untuk mengidentifikasi 25 gen yang mengandung PERVs dan kemudian menggunakan CRISPR untuk mematikan mereka. Setelah mengulik prosesnya dan menambahkan faktor yang bisa membantu DNA memulihkan diri sendiri, para peneliti dapat menyingkirkan virus tersebut dengan tingkat efisiensi 100 persen.

Tapi apa iya binatangnya bisa terus hidup setelah DNA mereka dimanipulasi segitu drastis? Untuk mencari tahu, para peneliti mentransfer kode genetik baru ke embrio babi, sesuai dengan angka yang mereka pasang di tubuh babi betina. Ada sekitar 37 bayi babi lahir, dengan PERV tidak aktif; 15 di antaranya masih hidup dan yang tertua berumur empat bulan.

Para babi yang baru lahir ini adalah binatang dengan genom modifikasi tertinggi di planet Bumi, jelas Yang. Dan biarpun PERVs sepertinya tidak memiliki peran biologis tertentu, ini adalah pertama kalinya ilmuwan meneliti binatang tanpa PERVS, jadi mereka harus terus meneliti babi-babi tersebut untuk benar-benar mengerti apa yang akan terjadi dengan tubuh babi seiring mereka bertambah besar.

Iklan

Bagi Jeffrey Platt, seorang profesor bedah, mikrobiologi dan ketahanan tubuh di University of Michigan, tidak jelas apakah PERVs bisa mengancam kesehatan manusia. "Belum terbukti apakah PERVs bisa menjadi masalah," kata Platt, yang tidak terlibat sama sekali dengan penelitian. "Kalau ada yang skeptis, ya bilang aja sebuah masalah yang tadinya bukan dianggap masalah sudah terselesaikan."

Namun sejatinya, dia merasa penelitian ini dilakukan dengan baik dan berguna dari sisi teknis. "Memiliki lebih banyak pengalaman dalam hal penargetan dan modifikasi bagian spesifik dari material genetik babi akan membantu para ilmuwan menciptakan babi yang dapat menyediakan organ atau sel berkualitas lebih baik untuk dicangkokkan ke manusia."

Yang mengatakan dia memiliki visi bahwa teknik yang dikembangkan timnya bisa digunakan untuk applikasi medis lainnya seperti modifikasi sel T untuk melawan kanker.

Para ilmuwan masih memiliki beberapa tantangan sebelum xenotransplantation bisa benar-benar diwujudkan dalam dunia nyata; baik Platt dan Yang sepakat bahwa bagaimana kekebalan tubuh manusia bereaksi terhadap organ babi masih menjadi tantangan terbesar. Bahkan teknik kesehatan yang kita punya saat ini untuk menekan sistem kekebalan tubuh, seperti obat immunosuppressant yang biasanya diminum oleh penerima cangkok tidak akan cukup kuat untuk menahan organ babi di dalam tubuh manusia.

"Kerentanan organ babi terhadap sistem kekebalan manusia dan interaksi keduanya masih menjadi tantangan terbesar hari ini," ungkap Platt. Tim Yang berusaha memecahkan masalah ini dan tengah menyiapkan eksperimen pararel; para peneliti berharap mereka bisa menerbitkan hasil dari penelitian mereka akhir tahun ini.

Untuk terus mengedit DNA mamalia dalam skala besar, Yang mengatakan kita akan membutuhkan versi CRISPR yang lebih canggih dan bisa memasukkan kode genetik yang lebih panjang dan spesifik. "CRISPR bagus untuk mengenyahkan gen. Tapi ketika harus mengenyahkan gen spesifik, kapasitasnya terbatas," urainya.

Regulasi juga menjadi hambatan, biarpun menurut Platt para pencetus regulasi seharusnya senang dengan terobosan untuk mengeliminasi virus-virus ini. "Mengetahui bahwa ada potensi solusi untuk PERVs, apabila memang ini masalah yang perlu diatasi, merupakan hal yang positif bagi para pencipta regulasi," ujarnya.

Baik Platt maupun Yang tidak bersedia membuat spekulasi kapan xenotransplantation bisa akhirnya diuji coba di klinik. Masih banyak isu yang mungkin belum terdeteksi dan prosedur yang harus dikembangkan sebelum subyek manusia bisa digunakan. "Ini masih terlalu awal. Menurut kami begitu. Bakal sangat tidak bertanggung jawab untuk memprediksi lini masa di titik ini," jelas Yang.

Kemajuan, menurut Platt, selalu datang dan pergi. "Perjalanan sebelum ini bisa dicoba di klinik sudah tidak jauh lagi kok. Kita sudah lebih dekat sekarang dibanding ketika kami baru memulai."