FYI.

This story is over 5 years old.

Riset

Bakteri Bisa Hidup Enak di Es Batu, Tapi Modar di Whiskey

Apakah ini artinya whiskey bisa dipakai untuk mendetoks lambung dan usus? Apakah berarti whiskey baik untuk kesehatan?
Ali Smith via Getty Images

Karena mikroba bandel, maka harusnya kita bisa menemukan beberapa bakteri di dapur, di benda seperti daging ayam mentah dan spons cuci yang kotor. Namun, yang mencengangkan bakteri ternyata juga nangkring di tempat-tempat tak terduga—di freezer misalnya. Namun, sebuah makalah penelitian terbaru menantang asumsi tersebut dan hasilnya bikin kamu mikir sejenak sebelum nambahin “es batu” ke minuman kita. Sebuah kelompok riset meneliti es batu yang dibuat dan dijual untuk dikonsumsi, yang biasanya dikenal sebagai “food grade ice” untuk mencari keberadaan bakteri. Di Amerika Serikat saja, ada 5,6 juta kantong yang dijual setiap tahunnya. Es-es ini ada yang langsung dikonsumsi langsung, untuk mendinginkan minuman misalnya sementara lainnya dikonsumsi secara tidak langsung seperti untuk menjaga ikan dan hasil laut di supermarket. Sebanyak enam puluh sampel es batu yang diproduksi di tiga level (rumahan, restoran dan industri) diuji selama penelitian. Es batu tersebut dicairkan dan dimasukkan tiga macam bakteri: bakteri mesofilik (jenis bakteri yang tumbuh secara optimal pada suhu 32 derajat celcius), bakteri psikrotropik (bakteri yang bisa tetap hidup dalam lingkungan yang sangat dingin) dan pseudomonad (salah satu jenis bakteri). Begitu bakteri yang dibiakan dalam es batu menunjukkan perkembangan, DNA bakteri-bakteri tersebut dibersihkan dan diurutkan. Terdapat 1.113 bakteri yang bisa ditemukan para peneliti dan level kontaminasi dari sampel es batu berbeda-beda dari taip level produksi. Beberapa sampel terdeteksi tidak memiliki bakteri psikrorpopik sementara pseudomonads bisa ditemukan dalam sebagian besar sampel. Sampel yang didapat dari es batu buatan rumah dan es batu yang dikumpulkan dari bar dan pub memiliki kepadatan sel tertinggi. Peneliti berhasil mengidentifikasi 52 untaian DNA yang mewakili 31 spesies, yang diantaranya mencakup bakteri Pseudomona, Staphylococcus, Bacillus and Acinetobacter. Sebagian besar bakteri yang ditemukan dalam penelitian ini bisa digolongkan sebagai patogen dalam tubyh manusia, artinya bakteri-bakteri tersebut bisa menyebabkan infeksi.

Iklan

Para penelitian lantas bertanya-tanya sebesar apa kemungkinan es batu ini menyebarkan bakteri patogen ke dalam tubuh manusia. Untuk menemukan jawabannya, berbagai jenis minuman yang umumnya dijajakan di bar (whisky, vodka, Martini, tonic water, peach tea, coke) diuji untuk menyingkak kemampuannya menunjang pertumbuhan bakter. Es batu yang digunakan dalam penelitian ini terlebih dahulu tercemar oleh bakteri-bakteri yang dipilih oleh para peneliti. Hasil penelitian meraka menunjukkan bahwa ada penurun jumlah bakteri yang konsisten dalam minuman yang dicampur dengan es batu yang tercemar bakteri. Tren positif ini mungkin terjadi lantaran minuman yang diteliti memiliki kandungan alkohol , CO2, pH serta berbagai macam bahan anti bakteri di vodka, whiskey, Martini, peach tea, air tonic dan coke. Ada empat jenis bakteri yang dipilih untuk diteliti kemampuan bertahan dirinya dalam macam-macam cairan, yaitucinetobacter lwoffii ICE100, Bacillus cereus ICE170, Pseudomonas putida ICE224 dan Staphylococcus haemolyticus ICE182). Seperti yang terlihat dalam tabel di bawah ini, bakteri bisa tumbuh dengan progress yang berbeda-beda dalam beragam larutan yang berbeda. Keempat bakteri yang diuji ternyata bisa tumbuh dalam vodka dan teh persik, namun, dalam kasus lain, hanya satu dari empat bakteri yang bisa berkembang dalam air tonik dan dua bakteri bisa tumbuh di coca-cola. Namun, ini yang menarik: tak ada satupun bakteri bisa selamat dalam Whiskey. Jadi apa pelajaran yang bisa kita ambil dari penelitian ini? Pertama, es batu enggak mesti bikin kamu sakit. Dua, kamu sekarang tahu asal bakteri di kulkas kamu; dan tiga, kalau kamu nanti minum-minum scotch, enggak usah takut kalau mau pake es batu. Julianna LeMieux adalah seorang senior fellow dalam bidang biologi molekuler di American Council on Science and Health , sebuah lembaga edukasi sains 501(c)(3) yang bermarkas di New York City.