Lingkungan

Penelitian Kredibel Simpulkan 75 Persen Kawasan Lahan Bumi Terlanjur 'Rusak'

Lahan-lahan yang dulunya produktif kini jadi gurun, terkena polusi, atau gundul. Akibatnya 3,2 miliar penduduk bumi terpapar risiko kekeringan dan kekurangan pangan.
Di Thailand, pemanasan global dan curah hujan rendah menyebabkan lahan-lahan mengalami kekeringan. Sumber foto: Petr Baumann/Shutterstock

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Seperti ponsel yang rusak yang hanya bisa dipakai untuk mengirim pesan atau mengambil gambar, tapi gak bisa diapakai nelfon, lebih dari 75 persen area lahan Bumi telah kehilangan sebagian besar fungsi mereka, mengancam hidup 3,2 miliar manusia yang mengandalkan lahan-lahan tersebut untuk memproduksi bahan makanan, menyediakan air bersih, mengontrol banjir, dan lain sebagainya.

Iklan

Lahan-lahan yang dulunya produktif ini telah berubah menjadi gurun, terkena polusi, atau gundul dan berubah menjadi produksi agrikultur yang tidak dapat bertahan. Ini adalah faktor utama meningkatnya konflik dan migrasi manusia dalam skala besar. Apabila tidak ditindaklanjuti, kerusakan lahan ini dapat memaksa 700 juta orang pindah pada 2050, menurut tinjauan berdasarkan bukti komprehensif mengenai degradasi tanah, dirilis awal pekan ini di Kota Medellín, Kolombia.

Bukti penggundulan hutan di Madagaskar. Sumber foto: Dudarev Mikhail/Shutterstock

Degradasi lahan—termasuk penggundulan hutan, erosi tanah, dan salinitas serta polusi pada sistem-sistem perairan bersih—juga menyebabkan kepunahan spesies dan memperparah dampak-dampak perubahan iklim, menurut kesimpulan laporan tersebut. Laporan ini ditulis oleh 100 ahli dari 45 negara untuk Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES). IPBES adalah ‘Yayasan yang fokus pada keanekaragaman hayati,’ fokus memproduksi tinjauan ilmiah mengenai status kehidupan nonmanusia yang tergabung dalam sistem dukungan kehidupan di Bumi.

Sebuah laporan penunjang dirilis akhir pekan lalu, mendokumentasikan penurunan keanekaragaman hayati yang semakin pesat dan berbahaya. Laporan tersebut menyebutnya perubahan-perubahan fundamental pada cara kita hidup, menjalani masyarakat dan ekonomi dunia.

“Ini adalah isu yang sangat genting yang perlu kita bahas kemarin,” ujar Robert Scholes, ekolog Afrika Selatan dan salah satu pemimpin tinjauan tersebut. “Degradasi lahan memiliki dampak yang paling besar mengenai kelangsungan kemanusiaan,” imbuh Scholes dalam wawancara di Medellín.

Iklan

Erosi tepian sungai di Bangladesh. Sumber: Sangib Kumar Barman/Shutterstock

Aktivitas manusia, terutama kegiatan yang menyangkut agrikultur dan urbanisasi, telah menghancurkan atau merusak bagian permukaan tanah, hutan-hutan, dan tanaman lainnya serta sumber air bersih di mana pun, menurut laporan tersebut. Lahan basah terkena dampak paling parah; 87 persennya hilang secara global sepanjang 300 tahun terakhir. Lahan basah terus hancur di bagian Asia Tenggara dan wilayah Kongo, akibat penanaman pohon minyak palem besar-besaran.

Kurang dari 25 persen lahan permukaan Bumi telah kabur dari dampak-dampak substansial kegiatan manusia—dan pada 2050, lahan ini menjadi tersisa 10 persennya saja. Sebagian besar kehilangan ini akan terjadi di Amerika Tengah dan Selatan, Afrika sub-Sahara, dan Asia. Satu-satunya tempat yang tidak terkena dampak adalah wilayah-wilayah kutub dan tundra, pegunungan tinggi, dan gurun-gurun, menurut laporan tersebut.

Mengakhiri degradasi lahan adalah “prioritas genting untuk melindungi keanekaragaman hayati dan layanan-layanan ekosistem yang penting bagi seluruh kehidupan di Bumi dan untuk memastikan kelangsungan hidup manusia,” ujar Luca Montanarella, ahli tanah dari Italia sekaligus salah satu pemimpin penelitian tersebut.

“Kami mengetahui soal ini selama lebih dari 20 tahun, tapi keadaannya semakin buruk,” ujar Montanarella dalam sebuah wawancara di Medellín. Kesadaran publik soal hal ini sangat rendah dan isu ini tidak dianggap penting oleh sebagian besar pemerintahan. Satu-satunya cara menghentikan kerusakan ini adalah di level lokal, dan melalui pilihan-pilihan yang dibuat per individu, ujarnya.

Iklan

Pilihan-pilihan tersebut termasuk mengurangi konsumsi daging dan membeli makanan dari petani lokal yang menggunakan praktik-praktik perkebunan yang berkelanjutan. Sampai dengan 40 persen makanan dibuang secara global pada titik-titik beragam, dari petani hingga kulkas yang kepenuhan, menurut Robert Watson, Ketua Yayasan IPBES. "Banyak negara perlu mengakhiri subsidi produksi mereka dalam bidang agrikultur, perikanan, energi, dan sektor-sektor lain," kata Watson saat dihubungi Motherboard.

Sebaliknya, negara-negara kaya perlu bertanggung jawab atas dampak-dampak dari produk-produk impor yang mereka konsumsi. Lahan-lahan di Inggris Raya menjadi daya tarik wisatawan karena negara tersebut mengimpor 35 hingga 40 persen makanannya dari negara lain, ujar Watson. “Orang-orang tidak menyadari dampak dari konsumsi mereka.”

Mengakhiri kerusakan lahan dan memperbaiki lahan-lahan yang rusak akan menyediakan lebih dari sepertiga kegiatan mitigasi gas rumah kaca yang paling efektif pada 2030 untuk mempertahankan pemanasan global di bawah 2°C. Untuk mencapai agenda tesebut, para ilmuwan memprediksi biayanya tiga kali lebih murah dibandingkan tidak melakukan apa-apa. Bahkan menurut Watson upaya melindungi lingkungan bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik dan pekerjaan-pekerjaan bagi warga lokal.

“Mengimplementasikan tindakan-tindakan yang tepat untuk memberantas degradasi tanah dapat mentrasnformasi hidup jutaan orang di seluruh planet, namun hal ini menjadi lebih sulit dilakukan dan semakin mahal kalau kita terus menundanya,” ujarnya.