Kebangkitan Vinyl Justru Merugikan Musisi dan Label Musik Independen Dunia
Ilustrasi oleh Joe Frontirre.
Kebangkitan Vinyl

Kebangkitan Vinyl Justru Merugikan Musisi dan Label Musik Independen Dunia

Kok bisa, bukankah penjualan piringan hitam secara global melonjak 900 persen satu dekade terakhir? Berikut analisisnya.
7.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey pada 2015, namun masih cukup relevan untuk dibaca ulang.

Universal Music Group merilis ulang vinyl edisi ulang tahun ke-20 soundtrack komedi 1995, Clueless yang dibintangi oleh Alicia Silverstone. Ini langkah bisnis yang aneh, mengingat di settingan acara TV tersebut—Beverly Hills di pertengahan 90an—tidak pernah ada satu pun referensi piringan hitam sebagai format musik. ("Duh CD Cranberries gue mana ya?). Soundtrack Clueless ini menampilkan nama-nama besar dari era compact disc: Radiohead, The Counting Crows, The Beastie Boys dan…Coolio. Lantas, ngapain juga label mainstream diera musik digital, malah merilis soundtrack film dari era CD dalam bentuk vinyl? Jawabannya gampang: Karena orang pasti beli.

Iklan

Dalam sepuluh tahun terakhir, penjualan vinyl meningkat pesat—sekitar 900 persen antara 2004 hingga sekarang. Sepanjang 2014, 9,2 juta piringan hitam terjual di seluruh dunia. Satu dekade terakhir, angka penjualan musik dalam semua format, kecuali piringan hitam, merosot setiap tahunnya. Jumlahnya turun dari 667 juta album terjual sepanjang 2004 menjadi hanya 257 juta saja pada 2014. Artinya, vinyl berhasil berkembang dalam kepungan musik streaming digital.

Tapi mungkin hukum supply and demand tidak berlaku dalam kasus ini, mengingat dalam rentang waktu tersebut, jumlah pabrik vinyl yang berdiri cenderung statis, dan hanya ada sekitar 20 pressing plant aktif di seluruh dunia. Mana bisa angka sekecil ini memenuhi permintaan vinyl yang sekarang menggila?

Lebih ironis lagi, Record Store Day, acara tahunan yang menjual rilisan eksklusif vinyl dan didesain buat mempromosikan toko musik lokal, belakangan berkontribusi pada kemacetan produksi vinyl selama beberapa bulan setiap tahunnya akibat permintaan yang meningkat tajam. Fenomena RSD, ditambah semakin populernya percetakan one-off, banyaknya proyek iseng Jack White, dan pressing ulang album Rock klasik dari band seperti The Beatles, Led Zeppelin dan Pink Floyd yang tidak ada habisnya membuat kita mulai menyadari penyebab bisnis percetakan vinyl terhambat.

Akibatnya? Dalam beberapa tahun terakhir, banyak rilisan musik independen menjadi tersisih, turun dalam skala prioritas percetakan mengingat orderan dari label indie jumlahnya tidak sebanyak permintaan dari artis major label. Sebagai contoh, pressing pertama rilisan perdana band indie-punk Philadelphia, Cayetana yang berjudul Nervous Like Me, dirilis di 2014 oleh label independen Tiny Engines sebanyak 1525 kopi. Cayetana hanya mendapatkan 400 kopi untuk dibawa dalam tur promosi album selama 6 minggu karena sisanya tertunda di pressing plant. Secara kontras, Jack White mencetak 74.000 kopi rilisan 2014, Lazaretto, dan menjual 60.000 kopi dalam 7 minggu pertama paska perilisan, rekor angka penjualan vinyl semenjak 1994. Kedua musisi ini mengandalkan sumber daya yang sama (ingat: hanya ada 20 pabrik vinyl di dunia!), sumber daya yang digunakan semua orang yang ingin mencetak vinyl di AS. Bedanya? Salah satu seniman ini bernilai $30 juta dan satunya lagi mengandalkan penjualan 10 atau 20 LP per acara agar mereka bisa membeli gas untuk menyetir van pinjaman ke kota selanjutnya.

Ironi yang mengesalkan dalam situasi ini adalah bagaimana musisi dan label musik independen adalah satu-satunya klien yang membantu pabrik percetakan vinyl bertahan melalui era-era gelap ketika vinyl sama sekali tidak populer. Label-label kecil dan para penggemarnya ini dulu adalah gerombolan anak-anak punk aneh yang membeli format musik yang sudah dianggap kuno.

"Durasi produksi vinyl dalam dua tahun terakhir semakin lama," kata Mike Park, pemilik label independen, Asian Man Records yang merilis album dari band-band seperti Alkaline Trio dan The Lawrence Arms. Park telah menjalankan labelnya secara sukses dalam 19 tahun terakhir dan telah melalui era CD, vinyl, hingga konsumsi musik digital. "Saat ini saya menunggu produksi rilisan saya di United [nama pressing plant] dan sekarang sudah 2 bulan, dan saya masih belum mendapatkan test pressingnya. Saya pernah ingin mencetak album pressing ulang [yang membutuhkan waktu lebih singkat karena pencetakan ulang membutuhkan langkah yang lebih singkat], jawabannya? Saya harus menunggu 16 minggu. Enam belas minggu buat album pressing ulang doang!

Iklan

Waktu menunggu yang lama mempengaruhi label kecil seperti Asian Man secara keseluruhan mengingat label DIY independen biasanya mendapat potongan 40 hingga 60 persen dari hasil penjualan rilisan ketika band sedang tur. "Kami selalu kehabisan vinyl padahal band-band ini sedang tur dan harus mengandalkan penjualan rilisan untuk bisa bertahan. Kami sedih tidak bisa menyediakan barang jualan untuk mereka," kata Park.

Akhir-akhir ini sudah banyak protes dari label dan toko musik independen melawan Record Store Day. Beberapa pihak bahkan ingin memboikot acara ini sekaligus. Efek dari RSD terhadap lamanya waktu penungguan produksi vinyl memiliki efek yang merusak. Label indie Inggris Howling Owl dan Sonic Cathedral merilis sebuah pernyataan yang mengkritik RSD: "RSD sama dengan acara sirkus industri musik tahunan lainnya…sudah di co-opt oleh major label dan digunakan sebagai alat marketing. U2 memenuhi iTunes dengan promosi album mereka, kenapa mesti ikut-ikutan pressing vinyl sih?" Banyak yang berargumen bahwa RSD hanya menjadi kesempatan bagi major label untuk menyelipkan produknya ke toko-toko independen yang sebetulnya tidak punya urusan dengan mereka, dan mengambil tempat dari musisi independen, selain tentunya menyumbat produksi vinyl lainnya.

Sepertinya keadaan tidak akan berubah bagi label-label indie. Permintaan untuk vinyl kian meningkat dan mengingat kondisi industri musik yang memburuk, untuk bisa bertahan anda harus bisa beradaptasi. "Orang harus membiasakan diri dengan waktu produksi yang lebih lama," kata Joe Steinhardt, pemilik label independen Don Giovanni Records dari New Brunswick, NJ yang sukses merilis band seperti Waxahatchee dan Screaming Females. "Memang awalnya ini menciptakan masalah ketika waktu produksi vinyl molor dari 6 hingga 8 minggu menjadi 24 minggu. Dulu band terbiasa mengirimkan saya master 8 minggu sebelum tur, dan saya terbiasa mengirimkan order percetakan ulang 8 minggu sebelum habis. Sekarang kita harus menyesuaikan ekspektasi."

Iklan

Masalahnya, penyesuaian ekspektasi dengan situasi produksi yang semakin lambat tidak mengubah infrastruktur finansial seniman independen. Bagi mereka yang mengandalkan tur dan penjualan merch untuk mencari nafkah, momentum seniman akan sangat terpengaruh oleh waktu menunggu yang lebih lama, baik secara artistik maupun finansial. Semakin lama waktu jeda antara tur, antara akhir sesi rekaman dan kapan rilisan bisa mulai dijual, semakin lama juga mereka harus menunggu untuk bisa tur dan menjual rilisan di gig. Gimana mereka bisa mencari uang kalau gitu?

Tim Kasher, vokalis dan penulis lagu dari band Cursive dan The Good Life tahun lalu sibuk tur selama 6 minggu untuk mempromosikan album solo keduanya, Adult Film. Masalahnya, akibat penundaan waktu produksi yang tidak terduga dari pressing plant, albumnya justru belum keluar ketika dia sudah mulai tur. "Saya yakin angka penjualannya pasti lebih bagus [kalau kita pegang albumnya sebelum mulai tur], jelas Kasher. "Meningkatnya ketertarikan terhadap vinyl memang bagus, tapi pabrik vinyl menjadi kesulitan memenuhi permintaan kami sesuai jadwal. Saya pernah diminta mengirimkan materi album lima setengah bulan sebelum jadwal perilisan, dan saya masih gak yakin akan tepat waktu kelarnya. Apakah album terakhir Beyonce punya masalah seperti ini? Sudah pasti tidak.

Lalu apakah ini lantas salah pabrik produksi vinyl? Kenapa enggak nambah jam kerja atau tambah mesin operasi biar bisa produksi sesuai jadwal? Sayangnya, tidak semudah itu jawabannya. "Kami mengoperasikan mesin 24 jam sehari, 6 hari seminggu dalam kapasitas maksimal, sama seperti beberapa pressing plant lainnya di AS," kata Jerome Bruner dari Rainbo Records, perusahaan percetakan vinyl yang sudah berdiri semenjak 1939. "Kami berlaku adil terhadap band-band indie, majors, ataupun band garage tetangga. Kami melakukan yang terbaik untuk mengakomodasi semua orang. Ini proses belajar buat kami." Biarpun kewalahan untuk beradaptasi, Bruner melihat peningkatan ketertarikan terhadap vinyl sebagai hal yang positif. "Kita sekarang hidup di era serba cepat, tinggal klik, tinggal gesek. Nah, tapi ternyata ada segenerasi orang yang masih cinta memainkan piringan hitam dan rasanya ini akan bertahan beberapa lama," imbuhnya.

Lalu kalau bukan salah pabrik bahwa band dan label independen tersisihkan, terus salah siapa? Urban Outfitters dan Hot Topic, vendor vinyl utama di pasar mainstream kelas menengah AS? Universal Music Group dan banyak major label lainnya yang terus-menerus mencetak ulang katalog lama mereka di RSD dan berusaha mengeruk uang dan mengambil keuntungan dari para kolektor vinyl dengan cara memasarkan rilisan tua mereka sebagai rilisan "terbatas"? Apakah ini salah konsumer? Jawabannya iya untuk semua pertanyaan di atas. Ketrendian vinyl itu sendirilah yang menyebabkan semua ini.

Namun di sisi lain, fakta bahwa sekarang pendengar musik jauh lebih antusias membeli vinyl dibanding waktu-waktu sebelumnya merupakan hal yang baik. Fakta bahwa penggemar akan mendukung musisi dengan cara membeli musik dalam format apapun adalah bentuk kemenangan di atas kultur internet yang semakin egois. Namun memang musisi independen akan kesulitan menelan kemenangan ini karena mereka tidak lagi bisa semata mengandalkan penjualan vinyl untuk mencari nafkah. Tentu saja semua tren, terutama dalam musik pop, bersifat musiman. Mungkin saja di tahun 2025, CD yang kembali ngetren.