Alasanku Jadi Cewek Rewel dan Aleman
Illustrations by Ashley Goodall
tfw

Alasanku Jadi Cewek Rewel dan Aleman

Aku ngerti sifat-sifat ini ga baik. Tapi gimana dong... Aku butuh bantuan.
28.7.17

Artikel ini seri kolom 'That Feeling When', hasil kerja sama VICE Australia dan organisasi pendampingan kesehatan mental anak muda headspace.

Obsessive-Compulsive Disorder lebih dari sekadar yang diliput oleh media. Gangguan ini lebih dari sekadar menuci tangan secara kompuslif dan gemar berbenah—banyak gejala OCD yang kompleks dan beragam, mempengaruhi laki-laki, perempuan, dan anak muda dari beragam latar belakang etnis, budaya, dan sosio-ekonomi. Obsesi—pikiran yang sering muncul dan kemudian menjadi pola perilaku tidak sehat—dan kompulsi—perilaku atau tindakan yang dilakukan untuk meringankan atau mengurangi pikiran-pikiran tersebut—bisa muncul pertama kali dalam masa kecil atau awal remaja, namun mungkin juga muncul kapanpun dalam hidup seseorang. Penting sekali untuk memahami bahwa OCD dapat disembuhkan dan mencari bantuan profesional adalah langkah pertama dalam penyembuhan. Kalau kamu menyadari kesulitan semacam ini, atau merasa mungkin mengidap OCD, kamu bisa mengunjungi klinik psikologi atau psikiatri terdekat.

Vikki Ryall, Kepala Bidang Konsultasi headspace, the National Youth Mental Health Foundation.

Aku cewek aleman. Sejenis, lah, dengan yang sering dibahas forum kencan misoginis dan rubrik majalah pria sebagai " high maintenance" atau "banyak mau." Aku cewek aleman yang sering banget bilang, "Katanya mau ngabarin kalau udah sampe rumah???" Cewek aleman yang sering gelisah, mewek, dan ribet sendiri. Cewek aleman perwujudan dari "51 Sifat Perempuan Manja Yang Bikin Cowok Ilfil." Namun sifat alemanku ini—yang sebenarnya adalah kebutuhan mendalam (dan mengganggu) untuk kepastian—adalah hasil dari sesuatu yang jauh lebih mengganggu: OCD. Aku menjalani hidup dengan "Pure O," bagian paling menyulitkan dari Obsessive Compulsive Disorder. Jadi, perilakuku seringkali didikte rasa takut yang mendalam dan membuatku tidak berdaya. Aku merespon rasa takut itu dengan berperilaku sama buruknya. Aku takut orang-orang yang aku sayang mati secara tiba-tiba, atau lebih parah lagi, mereka mengabaikan dan meninggalkanku tanpa permisi. Jadi, alih-alih berulang kali mencuci tangan atau berkali-kali memastikan catokan sudah dicabut dari stop kontak, aku sering banget mengirim chat yang super ganggu: Sudah sampe belum? Keujanan ga? Kamu di mana sih? Kamu masih sayang aku? Aku baru merasa tenang—walaupun sesaat—ketika chat itu dibalas. (Kalau dibaca doang mah yasalam.) Sampai nanti balasan itu tiba, aku adalah korban dari kalut berkepanjangan ciptaanku sendiri. Sampai nanti, aku terus aja aleman. Aleman mentok.

Tapi kelegaan yang aku cari—" seen 8:18 PM," atau status online pada WhatsApp atau panggilan telepon yang diangkat—tidak pernah terasa absolut. Aku cewek yang enggak ngerti caranya bersenang-senang. Boro-boro, chill aja enggak bisa. Kadang, aku merasa seperti meme.

Saat Gone Girl tayang di bioskop, aku sudah tebusan resep SRRI kedua, sudah mencoba hipnoterapi untuk membantu memperbaiki keBManku, dan sudah disebut "gila" oleh pacarku saat itu. Dan setelah aku melewati satu episode psikotik—yang dipicu oleh magic mushroom, body paint, dan dua minggu hura-hura di Thailand—akhirnya dia menyebutku "cewek gila." Pas kami berdua akhirnya nonton film itu, konsep "Amazing Amy" bikin aku ketakutan. Aku, seperti si Amy, kami bukan "orgil." Aku suka melakukan hal-hal yang dilakukan orang normal. Aku senang nongkrong di kedai kopi, nonton acara televisi secara ironis, dan punya keanggotaan sasana. Rambutku bahkan bob! (Kurang normal apa, coba?) Dan meski aku enggak ngempesin ban mobil orang, enggak ngeblok nomor telepon orang, dan enggak menggorok leher Neil Patrick Harris, hubunganku berakhir dengan cara penuh kekerasan.

Tapi mungkin itulah yang selalu diperburuk oleh OCD-ku: tekanan untuk menahannya. Ruth Bankey menggambarkan hal ini sebagai semacam kepanikan yang dialami perempuan dalam dan mengenai dirinya sendiri—dengan kata lain, "rasa takut akan gambaran histeris." Perempuan-perempuan tidak diizinkan untuk mempunyai kebutuhan—terutama kebutuhan yang terlihat seperti kepastian perasaan, dukungan emosional, dan ribuan caption murahan seperti "what do I do about my clingy gf" di Reddit. Dan ketika kadar banyakmau kita meningkat drastis, kita mendapat cap yang lebih buruk pula: sakit jiwa, drama queen, paranoid. Kita diajarkan untuk takut dan benci pada diri sendiri, separah laki-laki yang menyebut perempuan emosional sebagai mimpi buruk para pria.

Iklan

Bidang medis Barat sejak lama takut pada segala yang feminin. Bidang ini telah merespon rasa sakit dan gangguan mental para perempuan dengan menyebutnya "kegilaan." Seakan-akan dalam perempuan terkandung segala yang berbahaya, yang menyerupai gunung merapi aktif yang bisa meletus kapan saja—benang kusut yang tidak stabil dan histeris. Ya, memang tidak ada orang yang berpikir aku sebaiknya ditampar dengan vibrator saat mengalami serangan panik. Tapi sisa-sisa etos dan pandangan semacam itu lazim, setidaknya dalam hal penyakit mental dialami perempuan.

Bahkan dalam konteks hubungan yang abusif, aku menjadi pihak yang mengambil langkah-langkah preventif terhadap "kegilaanku" ini. Sementara ledakan emosinya mengandung kekerasan, ledakan emosiku adalah banyak nuntut. Aku jadi hormonal, dan tidak bisa berpikir rasional. Namun ironisnya, OCD adalah semacam wabah mental di mana penderitanya selalu setengah waras: rasa frustasi di antara lumpuh karena ketakutan, dan cemas atas ketakutan itu sendiri. Bolak-balik begitu terus.

Rasanya seperti terlalu waspada dan menafsirkan setiap hal sebagai pertanda buruk, namun di waktu bersamaan bergumam pada diri sendiri "ini konyol banget, plis lah ngapain sih gue." OCD hampir menuntut rasionalitas: kondisi ini menuntut penderitanya merasionalkan ketakutannya yang tidak rasional, dan akhirnya membuatnya membenci diri sendiri karena menyerah pada ketakutan tersebut.

Adalah hal yang mudah untuk menyalahkan si penderita, dan untuk berasumsi bahwa penyakit mental adalah hal individualistik. Tidak bisa diwariskan. Meski hal ini mungkin benar, sebagai cewek yang punya penyakit mental, mengarahkan "kegilaan" selalu terasa politis bagiku. Situasi di mana pacarku menatap dengan muka cengo dan sedikit takut, sementara aku tersedu setelah sebuah perdebatan panas; di mana aku "banyak nuntut" dan sifat alemanku mengalahkan akalku, ternyata mirip dengan histeria pembahasan martin Charcot. Pada 1880an—di sebuah ruangan dipenuhi cowok-cowok kepo—dia berdiri dan menunjuk pada seorang perempuan penderita penyakit mental. Itulah histeria: seorang perempuan yang emosional, letih, dan kewalahan. Alih-alih mempertimbangakan bagaimana disparitas gender menyakiti perempuan yang memiliki penyakit mental, satu-satunya yang ingin dibuktikan histeria adalah ketidakcakapan perempuan secara emosional. Bagaimana perempuan kewalahan dengan permasalahan sehari-hari. Dan bahkan kini—di antara lautan kolom saran misoginis—cewek aleman tetap dicemooh dan dianggap rendah. Begini lho. Aku enggak menganggap sifat aleman ini sebagai kebutuhan, apalagi keuntungan. Aku juga enggak menganggap nangis-nangis semalaman karena watir pacarku kecelakaan padahal dianya sudah sampai rumah dan malah ketiduran… sebagai seruan feminisme. Serius deh. Mengharapkan penyakit mentalku bisa memenuhi standar feminin ideal bukan hal yang mudah. Aku hanya ingin punya kebebasan untuk duduk di hadapan psikologku (dan koleksi tanaman plastiknya) dan bilang dengan nada jengkel bahwa "dia enggak bales-bales chat aku" atau "padahal dia udah janji bakal sampe rumah sebelum jam 11." Atau lebih parahnya, "Ya aku emang cewek aleman kok. Meski masyarakat enggak mengizinkannya" tanpa merasa seperti plot twist yang dapat diprediksi dalam reality TV.

Follow Madison di Instagram