Sisi Lain Vape

Peneliti Menyimpulkan Vape Tak Bagus untuk Kesuburan Perempuan

Hasil temuan terbaru menunjukkan nikotin dan perisa beberapa merek rokok elektronik dapat menghambat pembuahan sel telur dalam rahim.
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
09 September 2019, 12:30am
perempuan sedang menghembuskan uap vape dari hidung
Foto ilustrasi vaping oleh Alessio Bogani via Stocksy 

Sejumlah besar pakar kesehatan menganjurkan perokok—termasuk orang hamil—beralih ke vape karena risikonya lebih kecil daripada rokok tembakau. Jumlah penggunanya juga terus meningkat di dunia. Jutaan orang Amerika telah pindah ke vape atau rokok elektrik, yang kadar racunnya tak sebanyak rokok batangan meski bahan kimia dan elemen pemanas lainnya tidak diselidiki. Di Indonesia sendiri, jumlah perokok elektrik diperkirakan bertambah satu juta orang pada 2019.

Namun, vape ternyata juga sama berbahayanya dengan rokok biasa. Para peneliti dari Universitas North Carolina di Chapel Hill menemukan kandungan nikotin dan zat kimia dalam rokok elektrik bisa menghambat pembentukan embrio dalam rahim. Studi mereka, yang diterbitkan dalam Journal of the Endocrine Society, menunjukkan nge-vape saat hamil dapat memicu kelainan perkembangan seumur hidup pada bayi.

Tikus betina yang terpapar uap rokok elektrik selama beberapa bulan mengalami gangguan kesuburan secara drastis. Peneliti berpendapat efek samping vape bisa saja lebih parah pada manusia dikarenakan adanya faktor lingkungan, kesehatan dan genetik.

“Ini temuan penting karena mengubah pandangan kita terhadap keamanan rokok elektrik sebagai pengganti rokok tembakau sebelum dan selama masa kehamilan,” kata Kathleen Caron, kaprodi biologi sel dan fisiologi di UNC-CH.

Kita sudah lama tahu rokok tembakau tidak bagus untuk pembuahan, orang hamil, dan janin. Perokok biasanya lebih susah hamil akibat mengisap nikotin, sianida, dan karbon monoksida dalam asap rokok. Merokok dapat menurunkan jumlah dan motilitas sperma pada laki-laki, dan membuat sel telur lebih cepat mati pada perempuan. (Jumlah risikonya pada perempuan hamil dan janin bahkan lebih mengejutkan.)

Penelitian terbitan 2019 menemukan perisa rokok elektrik yang tidak mengandung nikotin sekalipun tetap berbahaya bagi fungsi testis tikus. Laporan UNC-CH adalah yang pertama meneliti dampak negatif vape bagi kesehatan rahim. Temuannya terbukti suram.

Para peneliti UNC-CH menjelaskan terlepas dari cara diisapnya, nikotin tetap bisa mengganggu pembuahan rahim dan menyebabkan janin lahir cacat. Caron menduga efek samping vape ada kaitannya dengan cairan dasar rokok elektrik berupa propilen glikol dan gliserin nabati (PGVG). Bukti terdahulu menguak PGVG dapat meningkatkan jumlah nikotin yang diisap pengguna, tergantung pada seberapa banyak nikotin dalam vape.

Kepada VICE, Caron mengatakan efek perisa vape (seperti vanila atau kayu manis) sudah diuji kepada tikus meski belum pernah dicoba ke manusia atau diatur secara ketat.

Ancaman potensial terhadap kesehatan reproduksi merupakan serangan baru yang menerjang rokok elektrik. Awal bulan ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mulai mengidentifikasi vape sebagai penyebab ratusan penyakit paru-paru yang mengancam jiwa. Laporan ini mendorong CDC mengeluarkan imbauan bahaya nge-vape untuk anak muda dan ibu hamil, serta orang dewasa yang tidak merokok. Selain itu, ada studi lain yang mengungkapkan vape dapat meningkatkan risiko infeksi seperti flu.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic