Peradaban sebelum masehi

Kekuasaan Cleopatra Diperkirakan Runtuh Karena Perubahan Iklim

Peradaban kita-kita juga kayaknya akan runtuh oleh sebab yang sama. Mungkin saja?
19 Oktober 2017, 10:52am

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Firaun-firaun Ptolemaik berkuasa antara tahun 305 sampai 30 sebelum masehi, diawali dengan penaklukan Alexander Agung dan diakhiri peristiwa bunuh diri Cleopatra. Raja-raja agung yang lahir di masa dinasti Helenistik dan beragam capaian budaya yang susah ditandingi pada masanya—termasuk salah satunya pendirian perpustakaan Aleksandria—menempatkan kerajaan ptolemaik sebagai salah satu kerajaan paling penting dalam sejarah manusia.

Kehidupan sehari-hari masyarakat Mesir selama kerajaan ptolemaik berjaya tak hanya diwarnai oleh intrik-intrik politik atau pencapaian intelektual yang mencengangkan. Mereka juga disibukkan dengan perubahan iklim yang dipicu ledakan gunung berapi. Kesimpulan tertera dalam sebuah makalah yang diterbitkan Selasa lalu dalam jurnal ilmah Nature Communications. Dikomandoi sejarawan Yale Joseph Manning, riset yang menjadi dasar penulisan makalah tersebut memetakan relasi yang rumit antara letusan gunung berapi dan musim panas moonsoon yang menyebabkan banjir tahunan di Sungai Nil. kegiatan pertanian di masa Mesir Kuno (hingga saat ini) sangat bergantung pada pola banjir sungai ini.

Tatkala faktor lingkungan ini berhasil dipetakan selama periode Helenistik, sebuah pola keterkaitan antara letusan gunung berapi dan pergolakan sosial di masa Kerajaan Ptolemaik. Pola yang muncul menunjukkan bahwa kegagapan menghadapi perubahan iklim menjadi akar pemberontakan dan keributan sosial pada masa itu. Penelitian-penelitian akbar yang melibatkan beragam informasi sejarah dan ilmiah seperti ini tak hanya menyingkap selubung misteri beberapa kejadian di masa lalu, namun juga menyiapkan kita menghadapi permasalahan iklim di masa depan, terutama setelah beberapa bencana alam besar terjadi berturut-turut belakangan.

Untuk sampai pada kesimpulan penelitian, tim yang dipimpin Manning, salah satu anggotanya adalah pakar klimatologi sejarah Francis Ludlow dari Trinity College Dublin, menggabungkan sekumpulan data ilmiah seperti catatan kondisi inti es serta model iklim bumi dengan beberapa tulisan dari zaman kuno, seperti dokumen keputusan pemuka agama dan catatan penjualan tanah. Tujuannya adalah menyusun potret interdisipliner Mesir Kuno pada masa Kerajaan Ptolemaik.

"Tak banyak pakar sejarah iklim atau pakar klimatologi sejarah yang benar-benar berusaha memjembatani para sejarawan di satu sisi dan pakar klimatologi dan palaeoklimatologi di sisi lainnya," terang Ludlow lewat Skype. "Padahal, kedua jenis akademisi ini bisa saling bekerja sama."

Halangan terbesar dari kolaborasi antara sejarawan dan pakar klimatogi adalah metode dan bahasa akademik yang sangat berbeda. Akibatnya, dibutuhkan spesialis yang benar-benar menjadi penghubungan antara mereka.

Dalam penelitian tim Manning, pendekatan yang mencakup aspek sejarah sosial dan model iklim ledakan gunung berapi, meski terjadi di lokasi yang jauh seperti Alaska dan Islandia, bisa mencegah terjadinya luapan Sungai Nil. Gunung berapi juga bisa mempengaruhi iklim di Mesir lantaran melontarkan asap kaya aerosol ke langit. Aerosol yang membumbung ke angkasa akan memantulkan cahaya matahari. Akibatnya, suhu Bumi perlahan turun. Efek perubahan iklim ini dirasakan di seluruh penjuru dunia. Salah satu efeknya adalah terganggunya pola musim panas moonson yang besar pengaruhnya terhadap pasang surut air Sungai Nil.

Tim Manning mempelajari erupsi gunung berapi di sepanjang abad 20 untuk memetakan dampaknya pada Sungai Nil saat ini. Di samping itu, mereka juga merujuk pada nilometer Islam, catatan terpanjang variabel lingkungan di sekitar Sungai Nil. Data-data dalam catatan ini dikumpulkan dari beragam instrumen yang mencatat luapan air Sungai Nil (salah satu nilometer yang terkenal adalah nilometer Roda Island yang terletak di Kairo). Data-data nilometer yang masih bisa dibaca terentang dari tahun 622 hingga 1902, walaupun jelas kalau pendataan ini sudah dilakukan jauh sebelum abad ke-7.

Nilometer di Kairo. Foto oleh: Berthold Werner

"Saya sering mendengar argumen bahwa orang zaman dulu tak peduli-peduli amat dampak jangka panjang perubahan iklim atau lingkungan. Yang mereka pedulikan cuma dampak yang terasa selama masa hidup mereka," kata Ludlow, yang sebelumnya pernah membandingkan dokumen sejarah Irlandia dengan pola munculnya perubahan iklim ekstrem.

"Namun, institusi penyusun nilometer jelas sadar akan hal ini," lanjutnya. "Mereka mungkin tak bisa memvisualisasikannya dalam grafik-grafik yang wah. Setidaknya, mereka tahu bahwa rerata level banjir di masa mereka berbeda dengan masa sebelumnya. Ini, menurut saya, adalah bentuk awal dari kesadaran akan perubahan lingkungan dalam jangka panjang."

Kerajaan Ptolemaik jelas sudah jadi catatan sejarah saja pada 622. Namun, nilometer memberikan pola kasar ledakan gunung berapi yang mengganggu jadwal banjir Sungai Nil selama satu milenium. "Pola ini merangkum jejak imbas ledakan gunung pada Sungai Nil," terang Ludlow. "Nilometer adalah capaian luar biasa yang jarang ditemui. Anehnya temuan sekeren ini justru dipandang sebelah mata."

Dokumen sejarah yang dibuat pada masa Ptolemaic mengindikasikan adanya kerusuhan sosial yang kemungkinan besar disebabkan atau setidaknya diperparah oleh gagal meluapnya Sungai Nil. Berkurangnya frekuensi banjir Sungai Nil antara tahun 247 dan 244 sebelum masehi memaksa Ptolemy mengerem ambisi militernya demi membeli gandum. Pasalnya, Mesir mengalami gagal panen waktu itu. Tindakan ini diduga diambil guna mencegah pemberontakan gara-gara kelaparan.

Mungkin dampak perubahan iklim yang paling dramatis dialami oleh pemimpin Mesir kuno yang karismatik, Cleopatra. Pemerintahan ratu yang disegani ini berlangsung dari 51 hingga 30 Sebelum Masehi digoncang oleh "wabah penyakit, kelaparan, korupsi, depopulasi wilayah pedesaan, migrasi dan pembengkalaian lahan," seperti yang tertulis dalam makalah hasil penelitian Manning. Beberapa keresahan sosial makin menjadi-jadi karena peristiwa letusan gunung berapi pada 46 dan 44 SM. Artinya, kedua bencana alam ini diduga punya dampak langsung pada runtuhnya Kerajaan Ptelomaik, meski tim Manning mewanti-wanti agar kita tak terjebak dalam pandangan yang berbau "determinisme lingkungan."

"Banyak orang yang sudah membaca paparan kami menyangka bahwa erupsi gunung berapi sebagai penyebab runtuhnya dinasti Helenistik. Padahal, kami tak bilang begitu," ujar Ludlow. Meski demikian, pakar klimatogi sejarah ini mengakui bahwa "sukar untuk menghindari prasangka demikian karena Kerajaan Ptelomaik pada 30 SM dan sedekade sebelumnya terjadi ledakan gunung terbesar dalam kurun waktu 2500 tahun."

Pasalnya, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan jatuhnya Cleopatra. di antaranya adalah perpecahan etnis dan memburuknya hubungan Cleopatra dengan para pemimpin Imperium Romawi. Ludlow juga mencatat bahwa Cleopatra sebenarnya lumayan responsif menanggapi keluh kesah para korban bencana alam selama berkuasa.

"Cleopatra relatif berhasil meredam pemberontakan yang merongrong kekuasaan meski ada tekanan besar lantaran terganggunya pola banjir
Sungai Nil dan ledakan bumi dibanding Firaun pria lainnya," tambah Ludlow. "Dia bahkan punya kemampuan manajemen bencana alam yang lebih baik dari politisi modern."

Nah, ngomong-ngomong tentang zaman modern, Ludlow mengatakan bahwa kita kini tengah berada di periode "sepi" karena kita belum mengalami lagi ledakan gunung berapi yang benar-benar mengubah iklim Bumi. Jelas, kita tak seharusnya berleha-leha mendengar kabar menggembirakan ini. Langkah yang lebih bijak adalah mempersiapkan diri jika ledakan gunung berapi besar terjadi di masa depan. Harapannya, kita bisa menghindari keresahan sosial global, seperti yang telah meruntuhkan beberapa imperium di masa lalu.

"Baguslah kalau kamu jadi sejarawan dan mau bekerja sama dengan pakar ilmu lainnya guna meneliti yang masih punya relevansi sampai saat ini," pungkas Ludlow.