Banyak Sneaker Sekarang Berdecit, Masalahnya Ada di Desain

Keganggu ga sih tiap pakai sepatu, lari atau main basket, eh keluar bunyi ngeselin kayak anak tikus dari sneaker-mu?
24.10.17
Foto ilustrasi oleh Shutterstock.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Suara decitan yang mengganggu telinga terdengar dari arah pintu ruangan. Semua orang menoleh dengan pandangan menghakimi, sebelum berpaling atas nama kesopanan. Saya sudah mengenakan sneaker ini setiap hari supaya lemes, tapi hampir tidak ada kemajuan apa-apa.
Saya butuh penjelasan.

Permasalahannya terang saja terletak pada karet solnya. Kalau decitan ini muncul dari bagian dalam sepatu (antara kaki dan sol), decitan ini tidak akan terdengar begitu nyaring—seperti kentut bernada falseto.

Untungnya, sih, suara decitan sepatu saya enggak sampai segitunya.
Setalah menghabiskan satu jam belakangan buat riset-riset, saya akhirnya paham bahwa ada kecacatan pada rancangan sneakers yang menyebabkan decitan tersebut.

Para peneliti di BioMechanica Martyn Shorten dan Xia Xi menemukan bahwa suara decitan ini disebabkan oleh herringbone, pola geometris yang dipahat pada bagian alas sepatu agar rekat ketika digesek ke tanah atau lantai.

Saat sesuatu yang fleksibel bergerak melawan sesuatu yang keras, objek fleksibel ini akan bergetar, yang dikenal sebagai "fenomena stick-slip."


Baca juga artikel Vice tentang basket lainnya

Herringbones itu terbuat dari karet, dan fleksibel. Saat sepatu memasuki ruangan dengan permukaan keras seperti kayu, udara masuk pada celah-celah herringbone, menyebabkan vibrasi. Vibrasi ini menciptakan decitan menjengkelkan.

"Sepatu dengan pola sol berbeda berdecit dengan frekuensi khas," tulis para peneliti. "Lagi pula, decitan muncul di bagian awal dan akhir kontak permukaan lantai."
Bagian herringbone di sneaker saya.

Sebetulnya bisa saja membuat sepatu yang tidak berdecit, menurut wawancara New York Times, dengan Leo Chang, direktur desain Nike Basketball Footwear. Sayangnya, para pemain tidak menyukai sepatu-sepatu ini di tahap uji produk.

"Decitan ini memberikan semacam rasa ketentraman," ujar Chang. "Mereka mendengarkan decitan ini, karena membuat mereka merasa lekat."

Converse mempertahankan rancangan sepatu basket bahkan setelah memasarkannya.
Pada dasarnya, decitan sneaker itu mendarah daging dalam budaya basket, dan kini semua orang harus menderita karenanya.