The VICE Guide to Right Now

Evakuasi Korban Berpacu Dengan Waktu Usai Gempa Dahsyat Hantam Lombok

Pemerintah berjanji memberi santunan dan relokasi kepada 91 korban tewas dan 209 lainnya yang luka-luka di NTB. Jumlah korban sangat mungkin bertambah, selain masih ada peluang gempa susulan.
06 Agustus 2018, 7:27am
Warga di Desa Pamenang, Lombok Utara, menyaksikan ruangan sekolah ambruk akibat gempa 7 SR yang terjadi Minggu (5/8) malam. Foto oleh Beawiharta/Reuters

Gempa dahsyat berkekuatan 7.0 Skala Richter mengguncang Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu (5/8) pukul 18.45 WITA. Data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Senin (6/8) siang menyatakan 91 orang tewas, sementara 209 luka. Sejauh ini tidak ada warga negara asing menjadi korban. Kawasan paling parah terdampak gempa berpusat di lereng Rinjani itu adalah pedesaan Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Timur. Jumlah korban terbanyak datang dari desa-desa Lombok Utara, dekat lereng Gunung Rinjani, yakni 72 orang tewas dan 63 lainnya luka-luka.

Selain di Lombok, ada dua orang tewas tertimpa runtuhan tembok di Denpasar, Bali, akibat terkena efek gempa yang menjalar ke pulau-pulau tetangga. Hingga artikel ini dilansir, tercatat ada 124 kali gempa susulan dengan skala kerusakan dan getaran lebih kecil—kendati situasi lebih tenang dalam empat jam terakhir.

Presiden Joko Widodo mengungkapkan kesedihan terhadap warga yang menjadi korban bencana di NTB. "Saya atas nama pribadi dan masyarakat Indonesia ucapkan duka yang mendalam saudara kita di NTB yang meninggal dalam gempa sore kemarin," ujarnya kepada media. "Soal logistik, tadi malam sudah meluncur ke NTB. Termasuk dokter-dokter juga sudah dikirimkan ke sana."

Dalam waktu singkat, pemerintah disibukkan dua tugas besar. Tugas pertama adalah evakuasi korban di Lombok, baik itu yang tewas, luka, ataupun wisatawan asing dan dalam negeri dari kawasan terdampak lindu.

Dampak getaran semalam sangat merusak. Rumah rata dengan tanah hanya dalam hitungan jam. "Getarannya seperti guntur, bahkan lebih dari guntur, menyeramkan dan cepat," kata Sutrahan saat diwawancarai CNN Indonesia. Lelaki 63 tahun asal Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur ini kehilangan rumah hanya beberapa saat setelah dia kabur ke pelataran.

Kepulauan Gili, kawasan wisata populer NTB, kini dipenuhi kapal hendak mengevakuasi lebih dari 1.000 turis. Awalnya jumlah kapal yang tersedia di dermaga Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno tidak memadai. Masalah lain adalah perairan sekitar Gili dangkal, alhasil pemerintah terpaksa mengandalkan kapal patroli yang hanya muat 20 hingga 50 orang untuk menjemput para turis. Kapal-kapal ini menjadi pengumpan untuk membawa korban gempa ke kapal feri KM Dharma Kencana III berkapasitas 300 orang yang membuang sauh dekat Kepulauan Gili. Ada satu WNI tewas di Gili, namun aparat belum merinci apa penyebabnya.

Kementerian Perhubungan lantas menambah enam kapal lagi kendati masih kurang sehingga proses evakuasi harus bertahap dan memicu antrean naik kapal di pulau-pulau wisata tersebut. Sutopo Purwo Nugroho, selaku juru bicara BNPB, mengunggah video antrean evakuasi serta mengabarkan tim SAR akan sesegera mungkin menambah jumlah kapal.

Gempa semalam hanya berselang sepekan setelah Lombok Timur mengalami lindu 6,4 Skala Richter yang menghancurkan 5.448 rumah. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengalami langsung gempa tersebut. Beberapa tamu negara turut mengungsi dari ruangan hotel yang jadi lokasi pertemuan antiterorisme di Kota Mataram tadi malam, salah satunya Menteri Hukum Selandia Baru Andrew Little, beserta pejabat tinggi bidang terorisme dari Australia, Filipina, hingga Malaysia.

"Kami enggak bisa berdiri, harus pegangan meja. Saya langsung cari anggota-anggota saya," kata Yasonna saat dihubungi Kompas.com.

Arus penerbangan dari dan menuju Lombok masih normal. Namun jumlah pesawat rencananya akan ditambah oleh PT Angkasa Pura untuk meningkatkan mobilitas penerbangan. Tujuannya agar tidak banyak orang, khususnya wisatawan mancanagara, terkatung-katung di bandara seperti dilaporkan beberapa akun pribadi via media sosial.

Bantuan obat-obatan dan makanan untuk korban selamat kini mulai dikerahkan badan pemerintah, polisi, tim SAR, hingga militer. Palang Merah Indonesia mengirim ribuan tikar, terpal, maupun selimut. Namun semua upaya tersebut berkejaran dengan waktu. Gempa susulan, bahkan dengan skala lebih besar, masih sangat mungkin terjadi menurut pantauan Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Di titik inilah, tantangan besar lain yang harus berkejaran dengan waktu adalah pendataan rumah rusak dan solusi untuk warga. Padahal gempa pekan lalu sudah memusingkan pemerintah, lantaran kerusakan sangat dahsyat. Opsi yang kemarin dipikirkan adalah relokasi warga alih-alih pembangunan ulang. "Masyarakat yang rumahnya rusak jangan kembali lagi. Kita akan buatkan tenda-tenda penampungan sementara," kata Menteri Sosial Idrus Marham saat ditemui media beberapa jam sebelum terjadi gempa susulan tadi malam.

Untuk sementara pemerintah merencanakan untuk mengganti rata semua keluarga yang rumahnya rusak dengan santunan Rp50 juta. Itu masih ditambah Rp19 juta untuk famili korban tewas. Sementara bagi yang cedera akan mendapat santunan Rp2,5 juta. Alokasi dana dan mekanisme pengucurannya sedang dibahas antara Kementerian Sosial bersama Pemprov NTB.