Travel

Kisah Desa Kecil di Italia Ngotot Ingin Merdeka

Seborga sebetulnya desa kecil banget, penduduknya cuma 300 jiwa. Nyatanya desa ini terasa seperti negara sendiri dan punya sejarah panjang. Tak heran warganya pengin merdeka saja.
9.7.18

Selamat datang di Seborga. Desa kecil yang terletak di puncak bukit ini berada di wilayah barat laut Italia. Sesampainya di sana, kamu akan berhadapan dengan alun-alun yang dipenuhi bangunan berbatu. Ada pangeran yang tinggal di salah satu bangunan tersebut.

Seborga tampak seperti negeri dongeng. Kamu akan teringat dengan kartu pos bergambar pedesaan di Italia saat melihat desa ini. Letaknya di atas bukit. Jalanannya masih seperti abad pertengahan. Selain itu, kamu juga bisa menemukan gereja-gereja Katolik tradisional di sana.

Iklan

Warga Seborga tidak menganggap desanya bagian dari Italia. Mereka melihat Seborga sebagai negara yang berdiri sendiri. Mereka memiliki bendera, mata uang dan pangerannya sendiri.

Kamu mungkin mengira cerita ini mengada-ada, tapi Pangeran Marcello I benar adanya. Mereka memiliki pasukan penjaga keamanannya sendiri dari Ksatria Templar (sebuah ordo yang menghilang sesudah berakhirnya perang salib). Faktanya, ada pihak menyaru sebagai darah biru yang berusaha merebut takhtanya.

Kamu akan menyaksikan bagaimana Seborga sangat siap dengan kemerdekaannya. Banyak lambang kerajaan yang terpasang di setiap bangunan. Para guardia, yang memakai baret biru, menyambut turis dengan salam hormat. Bendera biru-putih Seborga berkibar dengan gagahnya di beberapa bangunan. Toko-toko di sepanjang jalan memasang tanda bahwa mereka menerima Liguino, mata uang Seborga (saat ini setara dengan enam dolar AS). Lambang Seborga juga terpampang jelas di pelat nomor. Tapi, mengapa desa kecil ini memproklamirkan sendiri kemerdekaannya?

Pasukan Keamanan Seborgan mengendarai kuda di saat upacara khusus. Foto: the Principality of Seborga

“Kami memiliki dokumen yang membuktikan kalau Seborga tidak pernah diklaim secara resmi oleh Italia,” ujar Ratu Nina Menegatto, istri Marcello.

Pada 1729, desa seluas 14 kilometer persegi ini seharusnya dibeli Kerajaan Sardinia (yang akhirnya menjadi bagian dari Italia). Namun, seperti yang dijelaskan oleh Ratu Nina, “surat perjanjian jual belinya tidak valid karena tidak pernah secara resmi ditandatangani dan dicap. Pembayarannya pun tidak pernah dilakukan.” Sebelum adanya dokumen ini, ada bukti yang menunjukkan bahwa kerajaan dijalankan sendiri. “Karena itu kami ingin menuntut kemerdekaan bagi Seborga.”

Pada 1960, kepala koperasi petani bunga setempat bernama Giorgio Carbone mulai mempelajari sejarah Seborga. Desa ini menjadi hak milik biara di Lerins (di Perancis). Setelah itu, Seborga menjadi kerajaan yang dikuasai oleh biarawan dan didukung oleh perintah Perang Salib dari Ksatria Templar.

Iklan

Ia juga meyakinkan penduduk untuk menyatakan kemerdekaannya dalam referendum. Giorgio akhirnya diangkat menjadi raja dengan gelar Prince Giorgio I.

“Ia orang yang istimewa dan cerdas. Orangnya memang agak nekat, tapi berkat dia juga Seborga bisa dikenal orang,” kenang Ratu Nina.

Alun-alun utama di Seborga. Foto oleh: Principality of Seborga

Penduduk Seborga sangat mendukung keinginan Giorgio untuk memerdekakan desanya. “Kami sudah seperti keluarga sendiri. Saling kenal satu sama lain,” Nina menerangkan. “Sebagian besar penduduk Seborga bermata pencaharian petani.”

“Sektor pariwisata kami juga sangat terbantu oleh turis asing yang penasaran setelah membaca sejarah Seborga. Banyak turis Jepang yang datang ke sini,” lanjutnya.

Inilah sosok Pangeran Giorgio I dari Seborga. Foto oleh: Courtesy of the Principality of Seborga

Penduduknya sangat berdedikasi untuk membuat Seborga diakui dunia. “Mereka berkomitmen tinggi. Setiap kali orang menanyakan asalnya, mereka akan menjawab ‘Saya orang Italia dari Seborga.’”

Menariknya, Putri Nina dan suaminya bukan asli Seborga. Mereka pindah dari Monako awal 2000 lalu. “Kami terpincut dengan Seborga. Kami membeli rumah tua di alun-alun dan merenovasinya. Orang Seborga sangat senang tiap ada orang yang tertarik dengan desanya.” Karena itulah Marcello, suami Nina, dipilih untuk menggantikan Giorgio.

Putri Nina dari Seborga, saat ini menjabat sebagai menlu desa ini. Dia sedang menghadiri acara PBB. Sumber: the Principality of Seborga

Mereka membuktikan komitmennya sampai sekarang. Di Seborga, gelar ratu tidak diwariskan karena belum ada yang menjabat gelar ini sebelumnya. Mereka harus dipilih oleh penduduk, seperti yang terjadi pada Nina. Selain menjabat sebagai ratu, Nina juga bertugas sebagai Menteri Luar Negeri Seborga.

Mereka memimpin upacara Ksatria Templar saat Seborgan National Day dan delegasi di luar negeri (Mereka baru saja mengunjungi India). “Negara kami benar-benar ada dan punya sejarahnya sendiri.”


Tonton dokumenter VICE tentang pertemuan para penguasa negara dan bangsa mikro sejagat (alias role playing jadi penguasa negara macam Nobita gitu deh):


Penduduk Seborga harus siap menghadapi tantangan dalam memperjuangkan kemerdekaannya berhubung usia desanya masih seumur jagung dan sejarahnya hanya sedikit.

Para Guardia Seborga berkumpul dekat gereja katolik di pusat kota. Foto: Arsip the Principality of Seborga

Dua tahun lalu, ada penipu yang mengaku sebagai raja Seborga di internet. “Ada pria Perancis yang berpura-pura sebagai raja Seborga,” tutur Nina.

“Dia pernah mengunjungi Seborga sekali dan membuat situs web sambil mengaku kalau ia rajanya. Yang lebih mengesalkan, orang Perancis memercayainya. Semua anggota kerajaan bekerja sukarela. Pekerjaan ini sangat menguras tenaga, dan ada orang yang seenaknya mengaku seperti itu,” imbuhnya. Pihak berwenang Seborga telah menindaklanjuti masalahnya, tapi mereka kesulitan menghentikan permainan licik raja palsu ini.

Kita bisa saja meremehkan masalah identitas Seborga, tetapi isu-isu seperti Brexit dan pemilihan umum di Italia membuat kita jadi bertanya-tanya negata yang sebenarnya itu seperti apa dan siapa yang berhak menentukan.

Penanda turis saat memasuki Desa Seborga. Foto: the Principality of Seborga

Apabila raja palsu hanya dianggap sebagai pengganggu sepele, maka identitas Seborga di mata dunia semakin terancam. Nina dan Marcello telah membawa kasusnya ke Mahkamah HAM Eropa di Strasbourg, menjalankan misi diplomatik, dan berencana mengajukan diri sebagai pengamat di PBB. “Kami hanya ingin merdeka, tapi tampaknya pemerintah Italia tidak akan pernah mengabulkannya.”

“Lihat semua negara lain yang ingin merdeka. Lihat Katalunia,” katanya. “Tapi kamu percaya kan kalau tak ada yang tak mungkin? Lihat saja apa yang terjadi dengan Brexit atau Trump. Tak ada yang pernah tahu apa yang bakal terjadi di masa depan.

Satu hal diyakini oleh Ratu Nina adalah warga Seborga tak akan akan berbuat sejauh apa yang dilakukan warga Katalunia, terlepas apapun yang dilakukan oleh Italia pada mereka. “Pengacara kami menangani masalah itu. Tapi itu tak berarti kami akan turun ke jalan lalu angkat pedang melawan Italia. Sama sekali enggak seperti itu,” kata Nina.

Pemandangan Desa Seborga di kala malam. Desa ini mendapat limpahan cahaya lampu dari Monaco, kerajaan kecil yang ingin mereka tiru. Foto: Courtesy of the Principality of Seborga

Pada akhirnya, sekalipun mereka sesungguhnya adalah ratu dan raja, Marcello dan Nina tetaplah seorang warga yang punya kehidupan pribadi yang normal. “Kami punya reputasi, punya pekerjaan, tak mungkin kami pertaruhkan itu semua. Jadi semua harus 100 persen legal.”

Bisa jadi ini artinya Seborga tak akan tiba-tiba mencuat jadi isu internasional. Apapun itu, terlepas dari masalah pengakuan legal yang membelit Seborga, para turis tak akan berhenti berbondong-bondong datang ke kerajaan yang tampak seperti negeri dongeng ini. Lagipula, sebagaimana yang dikatakan Nina, “semua tampak luar biasa,” katanya.

Artikel ini pertama kali tayang di Amuse.