The VICE Guide to Right Now

Punya Teman Tergila-Gila Balap Merpati? Pengusaha Cina Ini Lebih Gila, Beli Merpati Rp19,9 M

Rekor harga merpati internasional pecah. Berita ini mengingatkan kita, ada sebagian orang tak tahu lagi harus ngapain buat menghabiskan uang mereka.
20.3.19
Pengusaha Cina Beli Merpati Balap Rp19,9 miliar
Ilustrasi burung juara adu balap merpati. Screenshot via Youtube.

Bagi sebagian orang, merpati adalah unggas biasa. Paling banter, dagingnya bisa kita makan di warung pecel lele pinggir jalan. Sebaliknya, bagi orang yang tajir melintir, nilai seekor merpati sangat layak mencapai jutaan dollar. Tepatnya US$1,42 juta (setara Rp19,9 miliar). Uang sebanyak itu tak ragu digelontorkan pembeli asal Tiongkok untuk mendapatkan seekor merpati juara balap asal Belgia, bernama Armando.

Iklan

Transaksi itu terjadi melalui sesi lelang sengit sepanjang dua minggu. Selama lelang berlangsung, dua pembeli asal Cina bertarung mendapatkan Armando, membuat harganya jauh meninggalkan rekor dunia penjualan yang lama. Rekor sebelumnya tercipta pada 2017, saat seorang taipan properti dari Cina membawa pulang seekor burung dara seharga US$426.422 (setara Rp6,06 miliar).

Sebelum dilelang, Armando dijuluki "Lewis Hamilton-nya merpati" setelah memenangkan tiga lomba balapan burung dara tingkat internasional, selama lima tahun karirnya. Kemungkinan besar, julukan ini yang mendorong harga Armando jadi setinggi itu.

Nikolaas Gyselbrecht, CEO situs balapan burung dara PIPA, tampaknya juga dibikin terkejut oleh hasil akhir lelang Armando. Kepada BBC, dia mengatakan: "Dalam mimpi paling liar pun, kami tak pernah menyangka harganya bisa setinggi itu." Nikolaas menambahkan harga pasaran merpati balap kualitas unggul berkisar di angka US$2.800 (setara Rp39 juta).

Kendati paling sering diselenggarakan di Belgia, popularitas balap burung dara sedang naik daun di Tiongkok. Ketertarikan warga Cina—terutama mereka yang berkantong tebal—terhadap jenis olahraga ini sukses melambungkan harga burung dara, apalagi yang berasal dari Belgia.

Yang menarik, Armando sudah berusia lima tahun, usia senja bagi seekor merpati balap. Dalam waktu dekat, Armando pasti pensiun dari sirkuit balap burung. Lalu, buat apa menghambur-hamburkan uang untuk seekor burung yang renta?

Iklan

Jelas, pembeli Armando punya perhitungannya sendiri. Burung ini jelas sudah kewalahan berkompetisi di arena balap. Namun, sepanjang sisa hidupnya yang mungkin tinggal beberapa tahun lagi itu, Armando bisa berperan sebagai pejantan unggulan.

Buktinya, anak-anak Armando belakangan ikut dilelang dengan harga lumayan: US$34.000 (setara Rp483 juta) per ekor. Di Cina, Armando akan menghabiskan hidupnya membuahi seekor burung dara betina, yang juga diboyong dengan harga tinggi, seperti diberitakan the Guardian.

Rencana hari tua macam inilah yang membuat redaksi yakin bila pembeli Armando—sampai saat ini identitasnya belum dirahasiakan—sedang berhasrat mencetak bibit unggul kancah balap merpati lewat dukungan kocek supertebal.

Follow Edoardo di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.