Kaum Antivaksin

Facebook Berjanji Memerangi Postingan Menyesatkan Grup Anti-Vaksin

Ada banyak grup antivaksin bermunculan di media sosial ini. Anggotanya ratusan ribu dan nyaris semua aktif menyebar misinformasi pada orang tua lainnya.
11 Maret 2019, 10:47am
Facebook akan memerangi postingan grup antivaksin di medsosnya
Ilustrasi foto vaksinasi di Brasil oleh Leo Correa/Associated Press.

Menyusul serangan wabah campak di sejumlah negara bagian Amerika Serikat, dan menanggapi tekanan pemerintah setempat, Facebook akhirnya sepakat memerangi konten dari kelompok anti vaksin di platform mereka.

Kamis (3/7) pekan lalu , raksasa medis sosial itu mengumumkan bakal mengurangi ranking pencarian dari grup dan page Facebook yang mempromosikan konten antivaksin. Facebook juga bakal menolak semua iklan mempromosikan konten antivaksin.

Selama ini, grup-grup tersebut menjadi sarang misinformasi tentan vaksin. Parahnya, grup-grup ini kerap memiliki anggota yang tak sedikit. Kebanyakan dari anggota ini adalah orang tua yang bertukar informasi seputar kesehatan anak. Grup Facebook tertutup Stop Mandatory Vaccination, misalnya, memiliki nyaris 160.000 anggota. Grup sejenis bermunculan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Rata-rata memakai justifikasi yang tidak berdasar kajian ilmiah serta menyitir agama sebagai pembenaran pandangan mereka.

Facebook juga akan berhenti memampang atau merekomendasikan konten yang mengandung misinformasi tentang vaksin mengacu pada patokan yang diberikan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention, Amerika Serikat.

Sebelumnya, Facebook menerapkan sistem pengecekan fakta pada artikel-artikel kesehatan, seperti yang diberitakan Vox. lantaran sistem ini, artikel kesehatan yang mengandung hoaks akan memiliki prioritas rendah untuk muncul di feed pengguna Facebook. Sayang, langkah ini tak bisa mengatasi menjamurnya grup-grup antivaksin.

Akibat, organisasi seperti American Academy of Pediatrics menuding Facebook membiarkan grup-grup ini memengaruhi para orang tua untuk menyangsikan—dan akhirnya meninggalkan—vaksinasi yang sudah terbukti secara ilmiah mencegah sejumlah penyakit berbahaya. Pada akhirnya, misinformasi yang disebarkan grup-grup keblinger ini menyebabkan anak-anak rentan terkena penyakit-penyakit fatal yang sebelum bisa dicegah oleh Vaksin.

Contohnya Ethan Lindenberger, seorang siswa SMA asal Ohio yang berusaha sendiri mendapat vaksinasi pada umur 18 tahun. Dia mengatakan di depan anggota Kongress jika ibunya berkukuh tak mau memvaksinasi anak-anaknya karena aktif dalam “grup online anti vaksin di sosial media” untuk mencari pembenaran.

Dampak grup-grup anti vaksin ini makin mengkhawatirkan setelah 70 orang, sebagian besar anak-anak, terjangkit campak di AS tahun ini. Campak sangat mudah menular dan sangat mematikan jika menjangkiti anak-anak. Sejatinya, campak sempat punah di Negeri Paman Sam karena vaksinnya bisa dengan mudah diperoleh oleh siapapun.

Dibandingkan plaform media sosial lainnya, Facebook tergolong lambat memerangi konten antivaksin. Pinterest, contohnya, melarang pencarian tentang vaksin September 2018, dan baru diumumkan ke publik pada Febuari lalu. Baru-baru ini, YouTube mengumumkan akan berhenti memonetisasi video-video antivaksin.

Keputusan Facebook menolak ilkan anti vaksin kemungkinan juga akan berimbas pada eksistensi grup-grup antivaksin. Agensi Otoritas Standardisasi Periklanan Inggris sempat menegur grup Stop Mandatory Vaccination saat membayar Facebook demi mengiklankan sebuah konten yang menyebut bayi akan meninggal jika divaksin. Iklan tersebut secara eksplisit mengincar pengguna Facebook dengan ketertarikan terhadap iklan-iklan "parenting."

"Hai para orang tua, pemberian vaksin tak hanya akan membunuh anakmu di usia berapapun, tapi itu juga sebuah tragedi yang sudah dibayangkan. Dokter hanya akan menyatakan kalian terkena ‘sudden infant death syndrome’ (SIDS (jika meninggal karena vaksin)," begitu bunyi iklan yang dibuat oleh grup Stop Mandatory Vaccination, seperti yang dilansir dari the Guardian. Surat kabar ternama asal Inggris itu juga melaporkan bahwa Facebook menerima pemasukan iklan dari grup-grup seperti Vax Truther, Anti-Vaxxer, Vaccines Revealed, dan Michigan for Vaccine Choice.

Ke depannya, Facebook akan berusaha meriset cara paling efektif untuk mempromosikan informasi faktual tentang vaksin saat pengguna berhadapan dengan berita abal-abal atau misinformasi tentang vaksin. Namun, belum jelas siapa saja yang akan dilibatkan dalam upaya atau apakah tenaga kesehatan profesional diikut serta dalam perang melawan konten vaksin yang dicanangkan Facebook.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News