Praktik Ilegal

Maraknya Praktik Orang Indonesia Jual Beli Ginjal di Grup-Grup Facebook

Harga satu ginjal di pasar ilegal via medsos itu bisa mencapai Rp975 juta. Mayoritas menjual ginjal akibat kebutuhan mendesak. Akankah kalian tetap bercanda soal ginjal?
15 Oktober 2018, 5:36am
Menguak Maraknya Praktik Jual Beli Ginjal di Grup Facebook Indonesia
Foto ilustrasi via Shutterstock

 

Bagi ribuan orang di Indonesia yang sedang membutuhkan donor ginjal, Facebook jauh lebih efektif dibanding rumah sakit. Tingkat gagal ginjal yang tinggi dan tingkat sumbangan ginjal yang rendah secara nasional menyuburkan pasar gelap perdagangan donor untuk motif ekonomi. Pasar gelap ini tumbuh di sudut-sudut grup Facebook yang akses jadi anggotanya dibatasi.

Semakin banyak penderita gagal ginjal di Tanah Air mengandalkan media sosial untuk membeli organ dari penjual yang mereka tidak kenal, atau untuk menjual ginjal sendiri.

Transaksi-transaksi ini tentu saja melanggar hukum di Indonesia. Tetapi menurut Tony Samosir, ketua Komunitas Dialisis Indonesia, praktik ilegal seperti jual beli via grup Facebook merupakan pilihan satu-satunya mayoritas 150.000 pasien yang menderita gagal ginjal di Tanah Air.

"Mudah sekali untuk memperoleh ginjal secara komersial di internet. Ada pula grup-grup tertentu yang menjadi makelar menyumbang ginjal di media sosial," ungkap Tony saat diwawancarai stasiun televisi ABC. "Seperti perdagangan biasa: orang menjual ginjal mereka demi membayar hutang, biaya pengobatan, membuka perusahaan. Tanpa uang, ya tidak ada ginjal."

Grup-grup "niaga' di Facebook berperan seperti makelar. Admin akan menghubungkan pembeli dengan penjual, lalu mempermudah proses transaksinya. Kadang, para makelar tersebut juga melelangkan ginjal-ginjal dari penjual. Harga satu ginjal di forum macam ini biasanya Rp100 juta sampai Rp350 juta, tapi Tony percaya dalam beberapa transaksi mendesak, ada pembeli rela menebusnya hingga Rp975 juta.

Sebagian besar isi posting di grup-grup medsos tersebut berasal dari penjual yang ingin ikut serta dalam perdagangan ginjal. Mereka punya berbagai alasan kenapa memilih menjual ginjalnya. Mulai dari butuh biaya pengobatan, terjerat utang, atau butuh biaya menghidupi keluarga.

Salah satu penjual ginjal itu adalah Adi. Dia mengaku tertarik bergabung dengan grup jual-beli ginjal di Facebook demi membayar 'utang dalam jumlah besar' yang terakumulasi setelah meminjam uang demi pesta pernikahannya. Adi berharap dapat memperoleh minimal Rp55 juta dari tawarannya menjual sebelah ginjal.

"Sudah ada beberapa orang yang menghubungi, tapi belum ada penawaran yang serius," kata Adi.


Tonton dokumenter VICE menyorot praktik kontroversial penjual tabung euthanasia yang merasa profesinya justru membantu banyak orang:


Setelah penyakit jantung, gagal ginjal menanggung biaya tertinggi kedua bagi sistem jaminan kesehatan Indonesia. Ironisnya, menurut data Global Observatory on Donation and Transplantation, jumlah penyumbang ginjal di Indonesia sangat rendah.

Beberapa grup mendorong implementasi sistem penyumbangan 'opt out', artinya warga Indonesia harus mendaftarkan diri sebagai 'non-donor' jika mereka tidak menginginkan ginjal mereka disumbangkan setelah meninggal kelak. Tony ingin meningkatkan jumlah penyumbang ginjal dengan cara meningkatkan pengetahuan mengenai soal ini dan mendirikan sebuah Komite Transplantasi Nasional.

"Bila kami ingin menjadi donor darah, kami harus pergi ke Palang Merah Indonesia; Bila kami ingin menyumbang kornea, kami bisa pergi ke bank mata," ujar Tony.

"Masalahnya kalau kami ingin menyumbang ginjal kami atau organ lainnya, perginya kemana? Jika seandainya ada komite atau lembaga yang menyuarakan kegelisahan ini, kami bisa berkampanye mengenai pentingnya donor ginjal."

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia