Duh, Aku Kangen Banget Dengerin Musik Pakai iPod Classic
Image: Flickr/Sam.Weiss
Nostalgia

Duh, Aku Kangen Banget Dengerin Musik Pakai iPod Classic

Apple mengakhiri riwayat seri iPod. Karenanya, kami membuat obituari mengenang pemutar MP3 yang 'bodoh' namun legendaris itu.
2.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Kamis pekan lalu, Apple menghentikan produksi iPod Shuffe dan Nano, pemutar MP3 terakhir tanpa aplikasi atau koneksi WiFi. Hal ini patut disayangkan dan sesalkan. Saya jadi teringat momen saya dadah-dadah dengan alat pemutar musik terakhir yang saya punya.
Alat pemutar itu adalah iPod Classic 160GB, yang di dalamnya tersimpan seluruh koleksi musik saya. Ada lagu untuk setiap suasana hati. iPod ini dirakit seperti tank dan tidak punya aplikasi ataupun WiFi. Saya bisa mendengarkan seluruh album musik tanpa kemungkinan diinterupsi oleh Twitter DM. Gila, masa-masa terindah deh tuh. Dan pada suatu siang di musim panas, mungkin lima atau enam tahun lalu, iPod itu ketinggalan di bangku taman sewaktu saya sedang mencari udara segar di sela-sela pekerjaan yang menuntut saya melototin spreadsheet sepanjang hari. Pas saya balik lagi, udah ilang. Fixed lah dicolong orang. Saya sedih banget, karena pada saat itu ada tanda-tanda kepunahan pemutar MP3 ikonik keluaran Apple. Saat itu saya punya feeling, kayaknya habis ini pemutar musik saya bakal berbentuk ponsel. Ponsel pintar yang punya memori penyimpanan sebesar iPod lah. Itu artinya saya akan terus menerus meluangkan waktu menambahkan dan menghapus lagu-lagu ke ponsel itu setiap sebeum berangkat ngantor, dan ini ribet banget. Saya enggak ngeh waktu itu bahwa media sosial akan menyita begitu banyak waktu. Sekarang sih saya sudah terbiasa—sekarang saya pakai iPhone—tapi harus diakui bahwa saya mendengarkan musik tidak sesering dulu. Yang tadinya terasa seperti "a moveable feast" berisi lagu-lagu sekarang terlihat seperti botol air di kandang hamster. Saya mendengarkan lagu kalau saya melihatnya diposting di Twitter. Saya mendengarkan musik ketika saya teringat untuk mengupdate arsip saya. Seringnya, saya melototin media sosial dan enggak mendengarkan apa-apa. Kadang-kadang, saya masih mendengarkan musik di ponsel saya hanya karena saya ingin merasakan hal tertentu. Hal ini sangat privat dan spesial. Perasaan spesial seperti itu sudah semakin jarang karena sekarang beredar alat "pintar" untuk memutar musik, yang sebenernya sih ponsel. Tanpa memori yang sama besar, ditambah koneksi internet, sama dengan ketergantungan pada streaming, yang tertanam dalam sebuah jaringan yang terdiri dari likes, follow, komen, hype, algoritma kurasi, dan sharing. Ekosistem seperti ini memprioritaskan yang baru dan yang "keren", misalnya seperti di SoundCloud, atau arsim yang ditentukan oleh kerelaan kita membayar untuk hak ciptanya, seperti Spotify. Pokoknya, buat saya, ini enggak asyik. Tentu, iPod Shuffle dan Nano tidak punya memori penyimpanan seperti iPods jaman baheula yang segede bagong, dan iPod Touch (yang masih tersedia) yang hampir memiliki penyimpanan sebesar iPod Classic. Tapi iPod Shuffle dan Nano memiliki sesuatu yang tidak dimiliki iPod Touch: mereka bisa nyuekin kita. Pendekatan "just music, just for you" yang bikin saya kangen sama mereka. Hiks.

Iya, saya mungkin terdengar seperti orang tua yang ngomel-ngomel sendiri, tapi saya sebaiknya mengaku kalau saya punya iPhone terbaru dan sebetulnya ponsel ini oke oke saja. Saya sudah beradaptasi kok sama dunia kekinian. Setidaknya akan selalu ada bagian dalam diri yang kangen sama alat pemutar musik "bodoh" tapi setia menemani saya dalam suka dan duka.