Perdamaian dunia

Sejarah Singkat 'Poster Syuhada' di Palestina

Sejak 1970-an, Jalan-jalan di Palestina sudah ditutupi dengan poster-poster guna mengenang mereka yang mati syahid dalam konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina.
06 Desember 2017, 4:59am

This article originally appeared on VICE Arabia
Hanya berselang beberapa jam setelah kematian Mohammed Atta Lafi pada bulan Juli 2015, poster-poster yang dihiasi wajah segera ditempelkan di tembok-tembok dekat rumahnya di kamp pengungsian Qalandiya, tak jauh dari Jerusalem. Syahid berusia 19 tahun adalah pejuang Palestina yang bergabung dengan Brigade Martir al-Aqsa—media setempat mengklaim bahwa Lafi menghembuskan nafas terakhir setelah dipukuli dalam razia kamp pengungsi yang dilakukan oleh tentara Israel.

Poster-poster para syahid ini tak akan lepas dari pandangan mata begitu kita menyusuri jalanan Palestina—sosok-sosok yang diabadikan dalam poster-poster tersebut adalah warga Palestina—kombatan atau bukan—yang tewas dalam konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina. Poster-poster yang oleh penduduk setempat dinamai “poster syuhada” menempel di mana saja—di jendela toko, pintu rumah, monumen hingga di bangun-bangunan publik.

Poster Mohammed Atta Lafi's.

Poster-poster ini pertama kali muncul pada tahun 1970-an. Saat itu, poster syuhada masih digambar dengan tangan langsung. Gambar sang syuhada bisanya ditaruh bersisian dengan simbol-simbol perjuangan seperti bendera Palestina dan slogan-slogan militer seperti “revolusi sampai kemenangan tercapai” atau “para syuhada membuka jalan menuju kemerdekaan.”

Di akhir dekade 1980-an—seiring Palestina melancarkan pemberontakan berskala besar yang menyasar pasukan Israel di Tepi Barat dan Gaza—poster-poster syuhada mulai dicetak besar-besaran oleh percetakan setempat. Dalam waktu singkat, poster-poster ini bermunculan di berbagai wilayah Palestina. Di mata pemerintah Israel, poster-poster ini adalah perangkat perekrutan dan propaganda. Tak ayal, mereka lekas melarang pembuatan dan penyebaran poster syuhada. Ancaman hukuman bagi pelaku penyebaran poster syuhada tak main-main. Seorang perancang poster setidaknya bisa dibui karena mendesain sebuah poster. Kendati demikian, ancaman ini tak bikin persebaran poster melambat,

Poster di kamp pengungsi Jalazone, sebelah utara Ramallah.

"Setelah Perjanjian Oslo diteken pada 1993, warga Palestina diperkenankan membuka usaha percetakan partikelir di bawah pengawasan aparat Israel,” ujar Muhammad Abu Latifa, salah anggota badan pengurus kamp pengungsian Qalandiya. “Sejak saat itu, warga Palestina tak lagi khawatir aparat Israel akan menelusuri dari mana datangnya poster-poster syuhada. Akibatnya produksi poster meningkat pesat.”

Sebuah poster di Kamp Pengungsian Jalazone, yang terletak di utara Ramallah.
Menurut salah satu perancang poster yang bekerja di sebuah percetakan—dia ingin namanya tetap dirahasiakan—proses desain poster syuhada mengalami perubahan berarti dalam beberapa dekade terakhir. Perlahan-lahan, bendera Palestina tergeser oleh lambang politik tertentu seperti foto mantan Presiden Yasser Arafat dan nukilan ayat-ayat Al-Qur’an.

Poster pose dengan senjata, beserta logo dan warna afiliasi gerakan politik yang ia dukung

Poster-poster juga mulai menampilkan logo-logo dan warna yang identik dengan gerakan politik asal seorang syuhada. “Misalnya, poster seorang pejuang Hamas bisa menyertakan foto pendiri kelompok tersebut Ahmed Yassin dan Abdel Aziz al Rantisi, tulisan-tulisannya dibikin dengan warna hijau, yang merupakan warna khas Hamas,” katanya.

Poster yang ditempelkan di muka sebuah toko dan rumah-rumah di kota-kota Palestina
Ternyata, tak semua orang di Palestina setuju dengan pesan dalam poster syuhada. “Di babak awal revolusi Palestina, poster-poster ini dianggap sebagai cara untuk mengabadikan seseorang dan tindakan heroik mereka,” jelas Dr. Walid Al Shurafa, seorang profesor media dan jurnalisme di Berzeit University di kawasan Tepi Barat.

"Tapi sekarang, beberapa komunitas menggunakan tradisi ini untuk meromantisir konflik. Salah satu buktinya, poster-poster yang beredar belakangan menampilkan banyak sekali gambar senjata api,” Dr. Al Shurafa juga percaya jika beberapa gerakan politik memanfaatkan poster ini untuk mewujudkan agenda mereka. “Beberapa faksi yang sudah kehilangan pengaruh mereka di tingkat nasional membiayai pembuatan poster ini dan membubuhi dengan imej mereka agar tetap dianggap relevan.”
Poster yang menyertakan gambar senjata, bersama logo dan warna kelompok politik yang dianut seorang martir.

Begitu pemberontakan kedua Palestina meledak pada September 2000, pejuang Palestina sudah terbiasa mendesain posternya sendiri. Mereka memilih potret diri, teks yang menyertainya serta skema warna poster sebelum mereka tewas dalam konflik. Mahdi Abu Ghazele, mantan pemimin Brigade Martir al-Aqsa, masih ingat jelas hari ketika kawannya Fadi memamerkan desain poster pilihannya. Dalam poster itu, Fadi berdiri di sebelah barisan bom buatan rumahan. Fadi meninggal pada Juni 2006. Usianya baru 30 tahun. Mahdilah yang kemudian mencetak poster pilihan Fadi.

Ghazi Bin Ode, yang bekerja untuk MADA atau Palestinian Centre for Development and Media Freedoms, mengklaim bahwa militer Israel masih kerap menutup percetakan yang memproduksi poster-poster syuhada. Mereka menyita perkakas dan bahan-bahan pembuatan poster. Pada 2016, MADA melaporkan bahwa tujuh percetakan di seluruh wilayah menjadi korban pembobolan. Empat di antaranya ditutup secara paksa oleh aparat Israel.

Namun, sepertinya militer Israel tak akan jadi pihak yang akhirnya bisa menghentikan penyebaran poster-poster syuhada. Media sosial lah yang pada akhirnya menyingkirkan keberadaan poster-poster pembakar semangat ini. Pejuang muda Palestina lebih memilih dikenang di internet daripada diabadikan dalam poster yang menempel di dinding dan jendela toko. Entahlah bagaimana nasib poster-poster ini di masa depan. Satu hal yang pasti, poster-poster syuhada akan susah dibendung dan dienyahkan dari internet.