Krisis Timur Tengah

Peretasan Running Text TV, Pemicu Krisis Diplomatik Qatar

Seorang peretas membajak stasiun televisi Qatar, menayangkan berita palsu soal kata-kata sang Emir yang kesannya pro Iran dan Israel, lalu memicu insiden diplomatik terburuk Timur Tengah.
7.6.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Seperti sudah diberitakan oleh banyak media massa, awal pekan ini Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Libya, dan Maladewa secara tiba-tiba memutuskan semua hubungan diplomatik dengan Qatar. Tindakan ini secara otomatis mengisolasi Qatar, negara kecil di semenanjung Laut Persia yang cadangan gas terbesar sedunia. Blokade mencakup darat, laut, udara, serta membuat warga Qatar diusir dari negara-negara tetangganya. Inilah krisis diplomatik besar di Timur Tengah. Siapa sangka, insiden seserius itu ternyata dipicu ulah peretas. Sebenarnya ketegangan di antara negara-negara Arab dan Qatar telah berlangsung bertahun-tahun. Qatar dituduh mendanai organisasi-organisasi teroris Islamis. Namun konflik meruncing setelah muncul berita palsu bulan lalu mengatasnamakan media Qatar.

Iklan

Kejadiannya 23 Mei, media milik pemerintah, Qatar News Agency (QNA), menayangkan berita yang menguntip "pidato" Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, sang emir Qatar. Tamim saat itu dikesankan mendatangi wisuda akademi militer. Pada teks berjalan di tayangan berita tersebut muncul opini Sheikh Tamim, yang menyatakan Qatar dengan Iran dan Israel memiliki hubungan yang "kuat" dan "baik," seperti dikutip Washington Post. Di waktu yang sama, QNA juga nge-twit pidato serupa. Pidato kontroversial itu akhirnya memicu kemarahan warga di Saudi dan Uni Emirat Arab karena dianggap mengkhianati sikap Dewan Kerjasama Teluk (GCC).

Muncul dua twit berbeda. Yang pertama, di sebelah kiri, adalah twit QNA sebenarnya, dikirim dari sebuah aplikasi bernama QNAnewstweets. Sementara yang satu lagi, sebelah kanan, adalah twit palsu yang menurut dugaan diunggah peretas, menurut peneliti keamanan sekitar dan analis asal DC Jon Artebury, untuk menyudutkan Qatar. Bagaimanapun, politik luar negeri Qatar memang agak berbeda dibanding negara-negara Teluk lainnya. Qatar berusaha akrab dengan Israel, memuji-puji Iran—keduanya merupakan musuh bebuyutan Arab Saudi. Sehingga kesannya Qatar memunggungi sekutu-sekutu Arab di Teluk Persia.

Peretasan TV itu "awal dari sesuatu yang lebih serius."

Pejabat pemerintahan Qatar menyangkal keaslian kutipan-kutipan Sheikh Tamim, menyebut laporan-laporan yang ada sebagai "video palsu" dan berkata bahwa QNA "diretas oleh individu tak dikenal." Negara-negara Saudi lainnya tidak percaya pada penjelasan Qatar. Al Arabiya, media milik Kerajaan Saudi, menayangkan berita yang mengklaim ada "bukti" QNA "tidak diretas." Setelah disimak, nyatanya tayangan tersebut hanya menawarkan argumen-argumen yang patut dipertanyakan, misal, Google seharusnya "sangat sulit untuk diretas."

Menilik ke belakang, kampanye soal dugaan retasan dan disinformasi mungkin telah dikerahkan untuk meningkatkan sebuah konflik yang sudah mendidih sejak lama. Kemungkinannya, pelintiran kata-kata Emir Qatar menyediakan alasan bagi Arab Saudi dan negara Teluk lainnya untuk menghukum Qatar secara terang-terangan karena bersikap berbeda dari kemauan mereka soal Iran dan terorisme. "Salah satu alasan mereka diretas, mungkin, adalah untuk membuat prakondisi memperpanas publik," ujar Artebury saat dihubungi Motherboard. "Bisa saja semua kericuhan ini telah terkondisi di antara negara-negara Teluk, sebagai strategi menggerus pengaruh politik luar negeri Qatar.Saya merasa peretasan dan pemutusan diplomatik ini hanya permulaan dari hal yang lebih besar dari yang pernah kita saksikan sebelumnya." Sejumlah peneliti keamanan meminta QNA merilis bukti atau data yang mendukung klaim mereka soal peretasan, demi mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi dan upaya mencari tahu siapa yang bertanggung jawab memelintir kata-kata Sheikh Tassim. Siapa tahu, dengan begitu maka konflik ini bisa sedikit mereda. "Kalau kita menemukan pistol panas di tangan salah satu negara tetangga Qatar, berarti ada beberapa pertanyaan menarik yang patut diutarakan. Misalnya, apakah krisis ini muncul agar negara yang terlibat memperoleh sesuatu," kata Bill Marczak, peneliti keamanan dan salah satu penggagas Bahrain Watch, lembaga pemantau HAM di Bahrain. "Atau jika ini ternyata adalah intervensi negara asing yang ikut campur dalam konflik internal GCC, semuanya tentu menimbulkan pertanyaan dan spekulasi lanjutan tentang motivasinya." Bagi Sultan Sooud Al-Qassemi, penulis dan aktivis politik asal Uni Emirat Arab, mencari tahu siapa yang bertanggung jawab untuk peretasan running text TV Qatar dan kata-kata Sheikh Tamim sudah tidak penting lagi. Qatar sebaiknya menggunakan pendekatan berbeda saat meredakan ketegangan dengan negara-negara tetangganya.

"Ini bukan lagi tentang peretasan," kata Qassemi saat ngetwit beberapa jam setelah krisis diplomatik mulai memicu kepanikan warga sipil. "Suasananya seperti permulaan Perang Dunia I, sehari dua hari, tidak ada lagi yang peduli pada sosok pembunuh Franz Ferdinand."