teknologi

Makin Banyak Pelanggan, Spotify Justru Tambah Merugi

Perusahaan streaming musik terpopuler sejagat ini pada 2016 mencatat kerugian Rp7,9 triliun. Untungnya masih ada peluang bagi Spotify berbalik meraih laba.
16 Juni 2017, 1:45am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Spotify saat ini menduduki tahta sebagai aplikasi penyedia streaming musik terpopuler sejahat. Uniknya, dalam posisi menguasai pangsa pasar global, perusahaan berpusat di Kota Stockholm, Swedia itu justru terus merugi. Inilah keunikan kasus Spotify. Semakin banyak pelanggan yang memakai layanan mereka, semakin besar nilai kerugian tercatat di neraca keuangan Spotifiy.

Sepanjang 2016, Spotify mencatatkan kerugian bersih senilai US$600 juta (setara Rp7,98 triliun). Nilai itu melonjak 134 persen dari tahun sebelumnya, saat perusahaan mengalami kerugian US$257 juta. Laporan keuangan terbaru Spotify baru saja dipublikasikan untuk umum oleh firma keuangan di Luxembourg pekan ini. Tentu saja, tidak semua angka dalam pembukuan Spotify berwarna merah. Tahun lalu layanan streaming ini berhasil menggenjot penerimaan lebih dari 50 persen, sebesar US$3,3 miliar (setara Rp43,8 triliun). Kenaikan pendapatan yang sehat, namun belum cukup menutup ongkos yang harus dikeluarkan perusahaan.

Berbarengan dengan pembukaan laporan keuangan tersebut, Spotify mengumumkan jumlah pelanggan mereka kini mencapai 140 juta orang di seluruh dunia, meningkat 40 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tentu saja, mayoritas masih memakai layanan ini cuma-cuma diselingi iklan. Baru 50-an juta pengguna yang memilih format langganan premium.

Saat ini Spotify AB, perusahaan induk layanan streaming tersebut, memiliki valuasi senilai US$13 miliar (setara Rp172 triliun) di mata investor. Lantas, apa masalah yang membuat Spotify merugi? Faktor utamanya adalah royalti yang harus dibayarkan perusahaan ini, mencapai miliaran Dollar Amerika, kepada label rekaman di seluruh dunia yang menjadi mitra mereka. Setiap pelanggan—gratisan atau berbayar—memutar satu lagu, warna merah negatif dalam neraca pembayaran Spotify tentu bertambah. Situs berita seputar teknologi Recode melaporkan Spotify harus membayar US$2 miliar (senilai Rp26 triliun) hanya kepada Universal Music Group dan Merlin (perwakilan label musik independen AS) untuk dua tahun ke depan. Itu baru dua label rekaman, belum termasuk puluhan mitra lainnya. Publik masih belum mengetahui berapa nilai kontrak yang akan diteken antara Spotify dengan dua label raksasa global, Warner Music dan Sony, yang sampai sekarang masih dalam tahap perundingan.

Nilai kontrak royalti itu sekilas terkesan besar, namun sebetulnya dapat menguntungkan Spotify di masa mendatang. Karena pembayaran royalti bersifat gelondongan, Spotify bisa menghemat ongkos kompensasi hak cipta kepada musisi, dibanding negosiasinya dilakukan secara satuan. Apalagi perusahaan optimis jumlah pelanggan premium akan terus bertambah seiring waktu. Dua strategi inilah—negosiasi gelondongan dengan label dan meningkatkan jumlah pelanggan premium—yang terus diperjuangkan direksi Spotify agar bisnis mereka tetap sehat untuk jangka panjang.

Selain itu, untuk menekan kekhawatiran investor, Spotify baru saja mendapat penjadwalan ulang utang jatuh tempo senilai US$1 miliar, dengan janji akan segera melakukan penawaran saham perdana. Pertaruhan ini akan sangat menentukan, mengingat tenggat IPO di bursa ini belum jelas, sehingga nilai bunga utang itu tentu saja akan terus bertambah seiring waktu.

Sempat beredar rumor bila Spotify hendak mendaftarkan perusahaannya di Bursa Saham New York (NYSE) dalam kategori 'direct listing' paling cepat tahun depan. Dalam kategori tersebut Spotify bisa meraih status perusahaan terbuka tanpa harus menjual saham baru untuk publik. Alhasil saham yang diperjualbelikan adalah milik karyawan atau investor saat ini. Namun sekali lagi itu baru sebatas rumor.

Sebelum sampai ke sana, Spotify harus memutar otak untuk mengubah status mereka sebagai perusahaan yang terus merugi.

Berdasarkan kalkulasi saat ini, satu-satunya nilai lebih yang dimiliki Spotify adalah momentum. Awal 2017, laporan independen menyatakan bisnis streaming musik merupakan sumber pemasukan utama label rekaman, mengalahkan penjualan fisik dan royalti dari penayangan di TV/film. Situasi tersebut untuk pertama kalinya terjadi sepanjang sejarah, akibat terus anjloknya penjualan CD/Vinyl dan download digital.