kesehatan

Penasaran Liver Kalian Sehat Atau Tidak? Berikut Panduan Memeriksanya

Kalau kalian suka minum alkohol, kayaknya sih perlu banget menerapkan tips-tips berikut.
13.4.17
Foto oleh: Phil Ashley/Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Kita mudah sekali menganggap enteng liver: Setelah menyesali kenapa kita temenan sama orang yang demen banget pesen shot Jäger kebanyakan, tiba di rumah dan akhirnya tidur, organ vital kita mulai bekerja keras menyerap racun-racun dalam tubuh. Tapi apa yang terjadi kalau racun-racun yang diserap tubuh setiap Jumat malam mulai terakumulasi? Adakah cara-cara supaya kita bisa menyadari ketika liver kita mulai menunjukkan tanda-tanda kewalahan?
Oke, tenang. Kita mulai dengan kabar baik: Tidak seperti organ tubuh kebanyakan, liver kita bisa meregenerasi, mirip salamander, setelah mengalami kerusakan. Tapi itu bukan berarti kita bisa terus-terusan menyiksa liver kita tanpa konsekuensi. Menurut Steven Flamm, direktur medis program transplantasi liver di Northwestern Memorial Hospital di Chicago, kemungkinan kita menghindari risiko kerusakan liver fatal salah satunya tergantung pada kapan kita kelar hangover. "Kalau kamu berusia 26 tahun dan sering minum alkohol pada empat atau lima tahun terakhir, mungkin belum ada penyakit liver kronis yang mesti kamu khawatirkan," ujarnya. Namun tahun-tahun di antara usia 25 dan 30 dapat berlalu secepat kilat, terutama ketika kita melaluinya dengan tepar di sofa klab. Kalau kita terus-terusan minum selama satu dekade—dengan rata-rata tiga sampai empat minuman per hari atau 20 minuman setiap akhir pekan—risiko kerusakan liver kronis karena alkohol akan meningkat. Yang lebih buruknya, kita mungkin engga ngeh hingga tahun-tahun selanjutnya. Pada titik itu, kita sudah tidak bisa minum alkohol sama sekali. "Menyedihkan karena ketika orang-orang sakit liver karena alkohol, rata-rata usia mereka pertengahan 30an atau 40an tahun," ujar Flamm. Seringkali, mereka punya pasangan, anak-anak kecil, dan sebuah rumah. "Ketika kamu ketemu mereka, mereka akan bilang, 'Coba saya engga melakukan itu [mabuk-mabukkan]. Sama sekali engga sepadan.'" Pada beberapa kasus, konsekuensinya amat menakutkan: Satu malam yang dilalui dengan mabuk berat dapat menyebabkan kondisi yang disebut hepatitis alkohol akut, peradangan pada liver, ujar Hardeep Singh, hepatologis di St. Joseph Hospital di Orange, California.
Gejala-gejalanya termasuk sakit perut, mual, dan muntah-muntah. (Ini adalah masalah yang sangat serius—dalam setengah kasus yang ada, para pasien meninggal dalam waktu sebulan.)
Meski demikian, sebelum kita semua panik, kita perlu tahu bahwa penyakit liver yang disebabkan alkohol lebih umum berkembang perlahan dalam waktu yang lama. Pertama-tama, lemak menghalangi liver sehingga sulit memecah obat-obatan dan menyerap nutrisi dari makananmu, ujar Jessica Lue, dokter keluarga di One Medical di Chicago.
Ya kalau kita terus-terusan minum alkohol, sel-sel liver kita akan rusak dan hancur, yang dapat berujung pada hepatitis. Meski demikian, dalam banyak kasus kerusakan ini dapat dikembalikan, ujar Flamm. Tapi ketika sudah sampai tingkatan sirosis, atau parut pada liver, kita tidak bisa memperbaikinya. Sirosis tidak terjadi pada semua orang yang sering meminum alkohol atas alasan yang tidak mudah dimengerti. "Beberapa orang bisa minum 20 bir sehari dan tidak pernah sakit liver," ujar Flamm. "Sedangkan ada juga orang-orang yang minum sedikit dan sakit."
Oleh sebab itu, beberapa faktor dapat mengurangi peluang kita. Sayangnya, salah satu faktor tersebut adalah jika kita perempuan—dan bukan karena perempuan cenderung memiliki berat badan lebih ringan. "Perempuan dua kali lebih sensitif terkena dampak racun alkohol pada liver," ujar Allan Wolkof, profesor kedokteran dan direktur Marion Bessin Liver Research Center di Albert Einstein College of Medicine. Stres dan ketegangan membuat liver kita lebih rentan jika terkena alkohol. Permasalahan lainnya adalah: penyakit liver berlemak bukan karena alkohol. Kondisi ini—disebut non alkohol steatohepatitis atau NASH—mempengatuhi satu dari empat Amerika, menurut American Liver Foundation. Kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko jaringan adiposa menyusup jaringan liver bahkan sebelum kamu kenalan dengan si Jack Daniels atau Captain Morgan, ujar Tyree Winters, profesor pediatri di Rowan University School of Osteopathic Medicine di Princeton, N.J. (Faktor-faktor pemicu NASH lainnya adalah obat-obatan seperti calcium channel blocker, kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi.) Sehingga ketika kita minum alkohol, jadinya akan semakin parah. Seperti banyak penyebab lain kerusakan liver, termasuk cacat bawaan dan infeksi seperti hepatitis B dan hepatitis C. "Ketika kamu punya hepatitis C dan minum alkohol, bahaya banget bagi liber," ujar Flamm. "Liver kita akan kewalahan. Oranng-orang akan sakit lebih parah dan lebih cepat." Jadi apa tanda-tandanya? Sayangnya, ketika liver kita sakit untuk pertama kalinya, kita tidak akan merasakan gejala apapun. "Saya punya pasien yang mengidap sirosis yang masih bisa lari maraton di Chicago," ujar Flamm. "Kita sering terkecoh. Orang-orang dengan penyakit liver akut kadang merasa baik-baik saja." Biasanya, pertanda paling awal adalah kelelahan. Pertanda ini membingungkan karena tidak spesifik. Dengan kata lain, bisa saja kita kelelahan karena penyakit liver atau karena kita kurang tidur, ujar Flamm. Ketika kita sudah mengalami gagal liver, kulit dan mata kita akan menguning, disebut penyakit kuning. Urin kita akan lebih gelap. Nah, karena liver kita berhenti membersihkan racun dari darah, otak kita akan terkena dampaknya. Kita akan sering kebingungan. Mungkin juga kita muntah darah—disebabkan oleh pembengkakan pembuluh darah yang pecah di esofagus dan perut—atau mengembangkan pembengkakan parah di usus atau kaki. Hal-hal ini, khususnya, adalah pertanda yang sangat buruk, menurut Flamm.
Jika kamu merasakan sakit dan dokter kita bilang "periksa lab," dia mungkin sedang memeriksa fungsi liver kita di samping tingkat kolesterol dan gula darah, menurut Flamm. Seperangkat tes disebut liver panel memeriksa sebaik apa fungsi liver kita dengan melihat senyawa-senyawa seperti enzim, protein, dan bilirubin. Kita bisa meminta tes-tes ini secara spesifik jika khawatir dengan kesehatan liver. Tapi begini masalahnya, menurut Flamm, kalau kita terbiasa minum alkohol dalam dosis banyak lalu menguranginya, tes-tes tersebut terlihat normal, kalaupun sebetulnya liver kita rusak. "Tes darah liver terkadang bisa mengecoh sehingga kita kira tidak punya masalah liver, padahal sebenarnya ada," ujar Flamm. Jadi sebaiknya kita jujur saja dengan dokter kita tentang kebiasaan kita minum alkohol. "Dalam banyak kasus, penyakit liver memiliki kaitan dengan kadar alkohol ringan memiliki prognosis yang baik," ujar Winters. "Tapi doktermu mesti jadi rekanmu. Tidak boleh ada judgment apapun." Misalkan kita sangat sakit—misalnya nih, kita tidak mengurangi konsumsi alkohol hingga usia 30 tahun, dan punya komplikasi atau mengalami kelelahan dan penyakit kuning—doktermu mungkin akan melakukan tes-tes tambahan, ujar Winters. Tes-tes ini termasuk tes darah untuk memeriksa jaringan yang rusak, atau seperti CT scan atau MRI. Sebuah mesin bernama FibroScan, mirip dengan ultrasound, juga dapat menunjukkan seberapa rusaknya liver kita. Kita bahkan bisa minta biopsi—di mana dokter kita memeriksa irisan kecil liver kita di bawah mikroskop—untuk menginspeksinya hingga level jaringan. "Tapi tidak ada yang mau melakukan biopsi kecuali ada kecurigaan besar," ujar Flamm. Tidak ada obat-obatan yang bisa mengobati penyakit liver kronis, ujar Flamm. Beberapa obat-obatan dapat meredakan gejala sirosis, seperti pembengkakan, pendarahan, atau kebingungan. Namun pada akhirnya, satu-satunya obat adalah berhenti mengonsumsi alkohol. "Kalau kamu berusia 30an atau 40an dan kamu sudah punya penyakit liver kronis, kamu harus berhenti minum alkohol," ujar Flamm. Kalau sudah begitu, tidak bisa lagi minum alkohol karena alasan "sekali-sekali." "Kalau kamu melanggar itu, bakal parah banget."
Menurut Flamm, "turun kelas" dari alkohol keras ke bir atau wine juga bukan pilihan baik. Kita akan mendapatkan dosis alkohol yang sama dari sekaleng bir atau segelas wine, dengan satu shot alkohol keras. Jika kamu gemuk dan memiliki liver gemuk, di samping kerusakan liver karena alkohol, diet penurun berat badan bisa membantu. Olahraga selalu baik, karena bisa membantu menurunkan berat badan dan level kolesterol, penyebab lain ketegangan liver, ujar Winters. Namun tidak ada bukti yang bilang bahwa diet tertentu dapat membantu, ujar Flamm.

Dan kalau kita, seperti banyak orang lainnya, bisa melalui masa muda dan tua dengan liver yang berfungsi baik, selamat! Bolehlah kita merayakannya dengan minum-minum secukupnya. (Secukupnya itu berarti satu minuman sehari atau tujuh minuman per minggu untuk perempuan, dan dosis dua kali lipatnya untuk laki-laki.) Ingat juga bahwa banyak bartender, yang pro maupun teman sendiri, meracik minuman yang terdiri dari lebih dari satu shot. Tanpa kita sadari, kita bisa saja menegak empat takaran sekaligus dalam satu gelas pada satu malam.