komik

Bajaj dan Monster Bertarung di Lanskap Jakarta Seusai Kiamat

Jakarta hancur lebur dalam seri komik sains fiksi produksi GoodGuysNeverWinToy co yang sedang hits.
14.11.16
Semua gambar dimuat atas seizin GGNW Toys.

Pada tahun 2377, Jakarta hancur berantakan. Penduduk ibukota (di kisah ini akan disebut Cakarata) sudah angslup ke bawah tanah, mendiami kota

subterranean

yang dibagi-bagi berdasarkan status sosial. Di atas permukaan kota Cakarata, sekelompok pasukan pelindung bertempur memerangi monster-monster bengis bersenjatakan mecha yang dinamai Bajaeger. Seorang gadis belia bernama Dania nekat ikut dalam pertarungan berbahaya itu—bulat tekatnya untuk mengikuti jejak ayahnya.

Iklan

Ini adalah cuplikan proyek terbaru besutan GoodGuysNeverWinToy co.—perusahaan multimedia bermarkas di Jakarta Selatan yang kesohor dengan produk action figure berdasarkan icon lokal Indonesia. Komik post-apokaliptik itu—dijuduli Zagadraya—adalah sebentuk kritik sosial yang unik sekaligus percobaan pertama GoodGuysNeverWinToy di ranah mainan anak.

"Zagadraya berfungsi sebagai sebuah kritik sosial," Ujar Cipta Croft-Cusworth, pendiri dan direktur GoodGuysNeverWinToy. "Anda bisa lihat dalam semesta Zagadraya, Jakarta adalah sebuah tempat terbengkalai yang sudah hancur lebur. Penyebabnya adalah masalah lingkungan. Bahkan sekarang pun, limbah ada di mana-mana di Jakarta."

Ini jelas tema yang sangat berat bagi anak kecil, tapi cerita anak yang baik toh memang tak merendahkan pembacanya. Kami berbincang-bincang dengan Cipta, CEO Ambi Fauri dan perancang mainan Johanes Djauhari, tentang ide di balik Zagadraya.

VICE: Masa depan Indonesia kelam sekali di Zagadraya. Idenya dapat dari mana?
Cipta: Zagadraya adalah fantasi yang berdasar pada dunia kita saat ini. Bagaimana jadinya Jakarta di tahun 2377? Dalam cerita Zagadraya, seluruh bumi telah telah mengering. Manusia hidup di bawah tanah dalam daerah yang dibagi-bagi berdasarkan kelas sosial. Daerah paling bawah dihuni oleh kaum miskin, sementara daerah yang dekat dengan permukaan Bumi dihuni oleh seorang Raja yang berdiam di sebuah menara mirip Monas.

Iklan

Bentuk Bajaeger kentara sekali terinspirasi oleh bajaj. Ada alasan di balik penggunaan Bajaj sebagai inspirasi sebuah robot perang?
Ide dasar sih cuma pengen bikin ikon yang menjual. Ketika pertama kali, saya menulis cerita Zagadraya, bentuk mechanya belum seperti bajaj. Lalu, saya bertemu dan bicara dengan Johanes. Akhirnya kami berpikir: kenapa engga sekalian pakai bajaj dengan lengan dan kaki yang berfungsi sebagai mesin perang?

Kisah-kisah post-apokaliptik sering merasuk dalam cerita anak. Apa yang menjadi inspirasi Zagadraya?
Saya terinspirasi kisah-kisah epik. Zagadraya pertama kali saya tulis tahun 2004. Saya lagi getol-getolnya membaca Dune karya Frank Herbert. Zagadraya juga dipengaruhi Nausicaa of the Valley of the Wind [film animasi karya Hayao Miyazaki yang dirilis 1984]. Meski Nausicaa banyak berkutat pada dunia mekanik, film juga menawarkan sebuah perjalanan spiritual. Jadi singkatnya sih Zagadraya banyak mengambil inspirasi dari kisah yang klasik dan epik. Namun, yang penting adalah Zagadraya berusaha merekam kehidupan di Jakarta.

Kami memasukkan semuanya dari proyek MRT sampai ke landmark penting macam gedung BNI. Bahkan, pilot bajaeger dalam Zagadraya mengenakan seragam warna oranye, mirip seragam pasukan oranye dari Dinas Kebersihan Jakarta. Oranye jelas adalah warna Jakarta.

Kisah Zagadraya menyuguhkan masa depan yang rumit. Menurut kamu, apakah membuat karyamu mudah dipahami anak-anak justru akan menjadi kesalahan?
Pesan yang kami ingin sampaikan harus jelas. Seperti yang saya bilang, Zagadraya itu tentang lingkungan, kenapa dunia yang kita tinggali penuh limbah? Pesan lainnya adalah agar anak menemukan sendiri jati diri mereka. Mereka harus bisa mandiri kelak saat menjalani hidup mereka.

Iklan

Ada cerita yang terus nempel di otak anda dari kecil?
Karena saya lahir di Inggris, saya tergila-gila kisah-kisah Arthur dan Knights of the Round Table, Robin Hood, dan dongeng-dongeng. Ketika pindah ke Indonesia saat berumur 4 tahun, saya diperkenalkan dengan dongeng-dongeng asli Indonesia. Dari sinilah, saya menemukan epos Ramayana yang sangat menyentuh itu.

Ada yang bisa anda ceritakan tentang desain monster Zagadraya? Inspirasinya dari mana? Monster-monster ini dari mana?
Sebenarnya monster yang bernama Gunderwall adalah rahasia yang harus dipecahkan orang di edisi terbaru nanti. Inspirasi saya ketika menciptakan monster ini adalah dedemit lokal Gondoruwo, makanya nama monsternya Gunderwal. Dalam cerita Zagadraya, Gunderwal penjaga hutan yang bertempur melawan ekspansi manusia. Manusia dan Gunderwal baku hantam untuk memerebutkan Kratomik, sumber daya penopang kehidupan.

Menurut anda Zagadraya—bersama game, komik dan mainannya—medium yang efektif membangun pemahaman soal isu lingkungan?
Ini masih dalam tahap eksperimental, kami akan lihat mana yang akan berhasil. Bagi kami, otak anak-anak sangat berharga, internalisasi sangat mungkin terjadi di usia dini. Contohnya, jika orang tua atau guru meminta anak untuk tak sembarangan membuang sampah, mereka akan paham dan terus mengingatnya. Saya pikir Zagadraya membawa nilai-nilai moral yang membantu anak membedakan mana yang baik dan mana yang jelek.

Cerita Zagadraya mulai merembes ke kehidupan nyata anda kan? Benarkah anda mulai berburu bajaj?
Iya, bajaj oranye sudah hampir punah. Kasihan sekali. Sebenarnya, bajaj oranye adalah sebuah ikon. Saya sadar hal ini sejak kecil. Anda sudah susah menemukannya di Jakarta. Jadi, saya rasa sekarang saatnya untuk mengoleksi bajaj oranye sebelum semuanya diganti bajaj biru.

Tapi kan bajaj biangnya polusi udara?
Saya tahu banget. Makanya kami akan copot mesinnya terus kami ganti dengan pedal dan roda gigi. Hasilnya mirip seperti tricycle. Dijamin 100 persen ramah lingkungan.

Bagaimana rasanya mengendarai bajaj?
Mimpi yang jadi kenyataan [tertawa]. Saya sudah ngimpi jadi supir bajaj sejak lama. Saya selalu ingin mengendari Bajaj. Ketika akhirnya kesampaian, rasanya keren gila!

Kenapa komik Zagadraya dibuat tanpa dialog? Susah gak bikin komik tanpa dialog?
Saya ingin semua anak bisa membacanya. Dulu, saya sering menggambark komik. Saya akhirnya tahu kalau kita memasukkan kata-kata dalam frame, gambar kita kurang diperhatikan. Yang anda perlu lakukan cuma membaca kalimatnya. Beberapa menit juga beres.

Jika kita tak menaruh dialog dalam komik, orang akan rela repot-repot menghabiskan waktu memandangi gambarnya karena tak mau kelewatan detailnya. Nah, kalau sudah begini, gambarnya lebih bisa bercerita dari kata-kata. Bikin komik seperti gak terlalu susah karena itu gaya saya.

Wawancara ini telah disunting agar lebih padat dan singkat.