Kenapa Beberapa Sneaker Ini Bisa Semahal Mobil?

FYI.

This story is over 5 years old.

Fashion

Kenapa Beberapa Sneaker Ini Bisa Semahal Mobil?

telaan mendalam tentang alasan kenapa orang rela merogoh kocek sampai puluhan atau malah ratusan juta rupiah untuk membeli sneaker yang harga awalnya tak seberapa.
18.4.16

Air Jordan 4 Retro dihargai Rp. 260 juta di Stadium Goods. Eminem dan Jordan, sebuah merk sneakers, berkolaborasi merilis sneaker ini guna memperingati ultah ke-15 album 'Marshall Mathers LP.'

Artikel ini pertama kali muncul di VICE US.

Pada tahun 2007, saya keluar dari rumah orang tua saya di Northern Virginia dengan melego koleksi sneakers saya. Kala itu, koleksi saya mencapai 80 atau 90 pasang, semuanya dibeli dengan keringat bekerja paruh waktu di Urban Outfitter. Setiap pasang sneakers yang saya punya didapatkan dari toko-toko di area DMV seperti Commonwealth dan Major. Saya tak pernah punya nyali untuk menganggap diri saya sebagai "sneakerhead" waktu itu. Lagipula, koleksi saya masih sneakers standar seperti Nike Dunks, Vans Sk8-His, beberapa rilisan awal kolaborasi "Adi Color " Adidas. Tapi, setidaknya, saya pernah memiliki beberapa item langka macam MF Doom Nike Dunk SB Highs dan beberapa pasang Vans hasil kolaborasi label cult jepang WTAPS dan desainer Marc Jacobs—mungkin kolaborasi gila-gilaan pertama antara fashion dan sneakers.

Iklan

Saya benar-benar tak mau berpisah dengan Jacobs's trompe l'oeil Slip-Ons yang punya kesan Old Skool, namun bayangan tentang tinggal di apartemen "dewasa" di kota bikin saya luluh juga. Saya tak tahu sedikit pun mengenai dunia purnajual snekar. Beberapa di antara koleksi juga sudah agak rusak, jadi saya jual secara borongan saja di eBay. Saya meraup Rp. 52 juta. Jumlah yang cukup untuk membayar sewa bulan pertama dan security deposit. Setelah biaya-biaya ini tertutup,saya melakukan apa yang biasanya orang waras lakukan—menghabiskan sisa uang untuk beli sneakers baru. Kebetulan, Soulja Boy baru saja merilis "I Got Me Some Bapes."

Empat tahun kemudian, saya pindah ke New York dan mulai bekerja di Complex. Di sini lah, pendidikan proper tentang sneakers saya di mulai. Salah satu orang yang saya temui adalah Russ Bengtson, seorang editor senior yang sudah menulis, memakai dan berpikir kritis tentang sneakers selama 20 tahun. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia menghitung koleksi sneakersnya. Mungkin jumlahnya ribuan, katanya. Ia bergonta-ganti mengenakan 100 pasang saja, sisanya menumpuk di tempat penyimpanan di Long Island.

Bengtson mulai melihat sneakers sebagai benda koleksialih-alih sekadar alas kaki kira-kira tahun 1994 atau 1995 ketika membeli sepasang Jordan "retro." Retro adalah sebutan untuk versi reissue dari sneakers yang awalnya dirilis pada dekade 80an atau 90an, ketika nama Jordan tengah banyak dibicarakan. Bukan cuma jarang tidaknya sebuah sneakers yang bikin harganya membumbung, ada beberapa faktor lainnya seperti — fungsinya sebagai artefak budaya dan apakah sneakers tersebut dalam kondisi "deadstock".

Iklan

Deadstock adalah terma dalam dunia retail untuk barang yang pernah dipajang, tak pernah dijual dan dilupakan di dalam gudang atau tempat penyimpanan. Di dunia sneakers, deadstock berarti sepasang sneakers yang masih dalam bungkusnya tak pernah dibuka — meski sudah berumur puluhan tahun. Deadstock bisa dianggap kapsul waktu dalam kondisi yang mint. Sepasang sneakers deadstock kurang lebih adalah cawan suci di ranah sneakers.

Air Jordan 11 Pantone/White dijual dengan harga Rp.130 juta di Stadium Goods. Sneaker ini dirilis tahun 2010. Awalnya cuma untuk display. Baru pada tahun 2014, sneakers ini dirilis kembali.

Para reseller sneakers generasi awal mongorek isi toko sport kuno guna mencari harta karun yang belum terjual, seperti Air Force dan Air Max yang dijual terbatas. Ini yang memulai naiknya permintaan akan sneakers deadstock. Saat ini, perburuan deadstock makin gila-gilaan. Bahkan, ada sebuah toko di Toronto yang dinamai Deadstock. Harga sepasang deadstock—tergantung kelangkaan dan permintaan konsumen—bisa mencapai Rp.305 juta, seperti sepasang Undefeated Air Jordan IV yang amat langka yang dijual di Stadium Goods. Ini adalah sneakers yang menandai kerja sama pertama merk Jordan dengan perusahaan pihak ketiga. Sneakers ini cuma dibuat sebanyak 79 pasang.

"Ini adalah salah satu sneakers Jordan yang dibuat dengan sangat terbatas," kata Bengston. "Memiliki sepatu ini—karena saking langkanya—sama seperti memiliki medali penghargaan bagi beberapa orang. Sneakers ini kemudian jadi raja di antara koleksi mereka."

Dalam kultur sneakers, beberapa nama yang disematkan pada sepatu biasanya memiliki sejarah yang membuatnya penting. Salah satu kasusnya adalah "Flu Game" Jordan 12s, sepasang sneakers high-topsberwarna merah dan hitam yang diilhami desain bendera Jepang, Nisshoki serta sepasang sepatu wanita dari abad ke-19. Sneakers ini jadi terkenal karena game ke-5 pertarungan final NBA, ketika Jordan memimpin Bulls unggul 2 pertandingan atas Utah Jazz, sambil berjuang melawan keracunan makanan. Sneakers ini dikeluarkan kembali di tahun 2003 dan 2009. Kini harga purna jual "Flu Game" edisi 2009 mencapai Rp. 8,5 juta. Di tahun 2013, seorang mantan Ball Boy, Preston Truman, melelang sepasang Flu Game yang benar-benar dipakai dalam pertandingan itu. Harganya? Rp. 1,3 miliar saja.

Iklan

Air Yeezy Net/Net dihargai Rp. 39 juta, Air Yeezy Zen Grey/Light Charcoal dijual dengan harga $3.250, dan Air Yeezy Black/Black berharga Rp. 45 juta di Stadium Goods. Ketiganya ketika pertama dijual harganya Rp. 2,7 jta dan ludes seketika.

Dunia sneakers tak selamanya seperti ini. Bengtson ingat masa awal kultur sneaker yang punya mindset berbeda. Tokoh hiphop dan sneakers Bobbito Garcia menulis tentang masa awal kultur sneakers New York di tahun 2003 dalam Where'd You Get Those?, dimana ia menelusuri evolusi sikap penduduk kota New York terhadap sneakers dari tahun 1960 sampai 1987. Di masa itu, cara pamer yang gampang adalah dengan mencari merek atau model sneakers yang namanya tak pernah didengar orang dan memungkasinya dengan pengetahuan sneaker luas dan koleksi yang memadai.

"Di satu waktu, entah kapan, mindsetnya berubah dari memakai sneakers yang keberadaan tak pernah diketahui orang jadi memakai sneakers yang semua orang tahu. Kamu memakainya agar orang lain cemburu karena mereka tak memilikinya," kata Bengtson.

Sekitar tengah dekade 2000an, sneakers naik tingkat jadi hobi kecil-kecilan jadi sebuah obsesi lintas budaya. Stüssy mulai merilis kolaborasi Nike Dunk yang banyak diburu. Sementara Nike mulai merambah dunia skateboard dengan merangkul berbagai macam artis dengan gaya-gaya yang berbeda seperti Futura, De La Soul, dan Pushead untuk membuat seri terbatas yang bisa cepat ludes terjual. Beberapa orang memakai sneakers ini saat bermain skateboard. Tapi, lebih banyak yang hanya menyimpannya. Mereka sadar mereka bisa menjualnya kembali jauh di atas harga retailnya.

Flight Club dibuka tahun 2005 sebagai sebuah toko sneakers gaya baru. Fight Club tidak membeli sepatu secara borongan lantas mengecernya. Sebaliknya, toko ini memberi kesempatan pembeli dan penjual untuk menjual sneakersnya dengan sistem konsinyasi. Perputaran stock di Fight Club dipicu oleh prinsip permintaan dan penawaran. Banyak pengunjung yang rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk membeli sepasang sepatu yang di ukuran tertentu sudah ludes terjual.

Iklan

Mirip seperti yang dikatakan Bengtson: "Di mana lagi anda bisa membeli sesuatu seharga Rp. 1,9 juta sampai Rp.2,6 juta yang nilainya bisa langsung naik jadi Rp.26 juta?"

Air Foamposite One Paranorman seharga Rp. 65 juta di Stadium Goods. Sneakers ini dilepas ke publik di akhir tahun 2012 dan merupakan tribut untuk Film 'Paranorman.'

Tapi, bagaimana harga sebuah sneaker ditentukan? menurut Yu-Ming Wu, pendiri website Sneakers News dan baru-baru ini jadi partner toko resale retail yang baru dibuka, Stadium Goods, mereka memperhitungkan keseluruhan pasar.

"Kami biasanya tahu harga pasar pada saat ini," ungkap Wi. "Kami ingin bersaing dalam harga. Kami melihat pasar secara menyeluruh. Bukan cuma kompetitor utama, tapi juga harga di eBay, toko resale yang lebih kecil, apps penjualan sneakers dan pasar pihak ketiga lainnya," ujar Wu.

Memang, Flight Club, Stadium Good, dan RIFs bukan satu-satunya tempat untuk berburu deadstock. Meski ketiga tempat itu menawarkan kesempatan untuk menyentuh dan membawa pulang sneakers secara langsung, harga sneakers akan lebih tinggi di sini. Penjual akan membawa pulang 80% dari hasil penjualan. 20% lebihnya akan masuk kocek toko. Biaya sebesar itu digunakan untuk membayar segala kemudahan yang ditawarkan—anda hanya perlu membawa sneakers yang anda jual, sisanya mereka urus. Satu lagi alasannya, toko konvensional tentu perlu bayar uang sewa gedung.

"Di satu waktu, entah kapan, mindsetnya berubah dari memakai sneaker yang keberadaan tak pernah diketahui orang jadi memakai sneaker yang semua orang tahu. Tapi, kamu memakainya agar orang lain cemburu karena mereka tak memilikinya," —Russ Bengtson.

Iklan

Untuk mengurangi potensi buang-buang uang, beberapa reseller mulai melirik kanal penjualan lain. Ada beberapa toko resale kecil, ada juga reseller yang sepenuhnya menjual dagangannya di media sosial seperti Instagram, apps khusus resale sneakers Kixify—dan tentu saja, eBay. Pasar sneakers online yang kian menjamurmencakup sepertiga dari seluruh penjualan sneakers, menurut Josh Luber, yang menggagas situs data penjualan sneaker Campless di tahun 2012. Campless adalah usaha Josh untuk menentukan harga sneakers lewat analisis data.

Ia memperkirakan pasar resale sneaker di Amerika bernilai Rp. 15 trilliun, Rp. 5 Trillun di antaranya dihasilkan dari penjualan di eBay. Yang penting untuk dicatat adalah bahwa pasar resale dan pasar penjualan sepatu global, yang nilainya mencapai Rp. 715 trilliun menurut NPD Sports Industry Analyst, Matt Powell, berjalan beriringan. Kebanyakan perusahaan seperti Nike dan Adidas mengeruk banyak uang dengan menjual stock yang mudah tersedia macam Roshe Run, Stan Smith, dan Air Monarch. Di sisi lain, bisnis resale berjalan dengan produknya yang nilainya ditentukan atas dasar yang berbeda—asumsi kelangkaan dan street cred.

LeBron 9 Low Arnold Palmer seharga Rp.97 juta, dan LeBron 8 Retro South Beach yang dijual seharga Rp.19 juta di Stadium Goods. "LeBronold Palmers" tak pernah sepenuhnya dijual di toko. Ini yang membuatnya banyak diburu. South Beach sneakers menandai kepindahan Le Bron dari Cleveland Cavaliers le Miami Heat.

Karena dua faktor ini, kerap kali harga sneaker ditentukan oleh jumlah uang yang rela digelontorkan pembelinya.

"Variasi harga resale sneaker sangat tajam," ungkap Luber. Ini salah satu alasan kenapa ia akhirnya mengubah Campless menjadi StockX, situs yang berfungsi sebagai panduan harga dan marketplace berdasarkan analisa pasar dan data secara real time. StockX menggunakan data dari eBay, toko konsinyasi, dan reseller lainnya guna memberikan riwayat harga pasar dalam jangkauan terluasnya.

Iklan

"Kami rasa makin banyak informasi bagi pembeli dan sneakerhead makin baik," ujar Luber.

Dalam platform resale peer-to-peer Grailed, sneakers yang banyak diburu bisa dihargai jauh di atas atau malah di bawah harga pasar.

"Jika anda menggunakan platform peer-to-peer, dan anda menyingkirkan badan pengatur, ya gampangnya disebut begitu, ada banyak sneaker keren di sana," Ujar Brand Director Grailed, Lawrence Schlossman. "Semuanya tergantung secepat apa anda berusaha menjual sneaker anda—saya rasa ini mempengaruhi setiap kasus penjualan. Tapi, anda juga bisa menemukan beberapa orang yang tak tahu menahu tentang harga sneaker dan mendadak ingin membandrol Yeezy 750 Boosts sebesar Rp. 91 juta."

Dengan kata lain, untuk bisa menjual sneakers dengan harga selangit, anda butuh kesabaran. Namun, jika anda sedang butuh uang cepat, anda akan sangat bergantung pada pasar . StockX tentunya sadar pemain asing yang bermain di eBay. Karenanya, mereka hanya memperhitungkan harga sneaker yang sudah terjual, bukan yang masih dalam proses tawar menawar yang harga jualnya mungkin melebihi nilai sebuah sneaker.

Harga sepasang sepatu tak lebih dari harga yang rela dibayar pembelinya.

Salah satu kendala yang menghantui pasar purna jual sneakers adalah meningkatnya sneaker bajakan kelas tinggi. Malah, sebagian dari sneaker bajakan ini digosipkan berasal dari pabrik yang sama tempat sneaker asli dibuat. Hanya saja, sneaker ini dibuat di luar kontrak atau dengan bahan yang sedikit berbeda. Untuk memerangi ini, stockX mengirim semua sneaker yang dijualnya ke markas besar di Detroit untuk diuji keasliannya oleh tim mereka. Luber memperkerjakan seseorang guna mempelajari sneakers bajakan. StockX punya pendekatan keras dalam hal uji keaslian—mereka lebih rela salah kala menduga sebuah sneaker itu palsu daripada berkompromi saat menyatakan sebuah sneaker benar-benar asli.

Iklan

"Dengan cara ini, baik pembeli maupun penjual bisa yakin apa yang mereka beli dan jual benar-benar asli," kata Luber.

Air Jordan 5 Retro T23 Tokyo seharga Rp. 65 juta di Stadium Goods.

Kepercayaan dan keyakinan adalah alasan mengapa toko seperti Fight Club dan Stadium Goods bisa terus berkembang. Bagi anak-anak yang dibelikan sepatu oleh orang tuanya, atau konsumen yang waswas kena tipu, layanan premium kelas atas ini terlihat seperti sebuah investasi solid untuk sebuah transaksi yang aman dan tak merepotkan.

"Anda bisa masuk ke Foot Locker dan membeli sneaker yang paling standar. Tapi jika anda ingin sesuatu yang fresh dan hot, kami adalah salah satu opsi dengan produk bervariasi yang bisa anda datangi" Ungkap Wu. "Kami membuka sebuah toko yang sangat besar, cuma untuk bilang 'Ini beneran lho." Ketika pertama kali membuka toko, koleksi kami berkisar 9.000 pasang. Kini, kami punya 20.000 pasang sepatu yang dikonsinyasi, dan jumlah terus bertambah."

Nilai sneaker memang naik turun dari waktu ke waktu, dan team Luber telah menemukan sebuah rumus yang mengungkap sebuah pola yang ironis.

"Semua sneaker—kecuali sneaker restock dari tiap merk— sebenarnya memiliki pola nilai resale yang sama setelah beberapa waktu. Dan, saya bersumpah demi Tuhan, pola ini mirip seperti lambang Nike," Ungkapnya.

StockX menawarkan sebuah "ISO," "Initial Sneaker Offering," sebelum sebuah sneaker dirilis. Ini meniru prakter pre-release dalam budaya sneaker, di mana sepasang sneaker yang belum dilepas ke publik dijual ke beberapa orang—dengan harga premium tentunya. Harga itu pada akhirnya akan turun ketika sneaker itu dijual secara luas. Namun, seiring berjalannya waktu, karena jumlah deadstock mulai berkurang (banyak orang memang gregetan ingin memakai deadstock), sepasang sepatu yang masih fresh di boxnya ini jadi barang langka. Akibatnya, nilai akan sneaker ini meroket.

Iklan

Nike Air Mag "Back to the Future" dijual dengan seharga Rp.117 jutadi Stadium Goods. Terinspirasi oleh film legendaris dari dekade 80an ini, sneaker ini memiliki charger dan bisa menyala.

"Jika ada sneaker super langka dan belum terjual selama bertahun-tahun, harganya terserah pada para konsumen," Yu-Ming Wu menjelaskan. Stadium Goods kerap bekerja sama dengan penjual untuk menentukan harga sneaker berdasarkan nilai pasar.

Tapi bagaimana dengan sneaker bekas pakai, seperti sneaker yang sukses membawa saya keluar dari rumah orang tua saya? Menurut Luber, masih ada pasar untuk sneaker bekas pakai—namun deadstock mencakup 75% pasar. Dalam kasus ini, penentuan nilai sneaker tak lagi berdasar pada keaslian tapi kondisi sneaker secara menyeluruh. Ini, menurut Luber, jadi lebih susah dihitung dan dibandingkan. Tiap pasang sneaker harus disertai dengan foto yang menunjukkan kondisi sneaker. Sebuah pekerjaan yang menurut Luber cuma bikin repot saja.

Tentu saja, harganya jauh di bawah nilai deadstock, namun sneaker bekas pakai jadi opsi yang lebih terjangkau bagi mereka yang tak peduli sneakernya agak lecet. Ada banyak sneaker bekas pakai yang dilego di situs resell peer-to-peer dan eBay. Toko konvensional seperti Ina, Tokio 7, Beacon's Closet, dan Buffalo Exchange di New York dipenuhi dengan sneaker bekas pakai yang masih agak mulus (dan yang sudah agak belel) dengan harga yang lumayan bersahabat.

Anda punya Nike Roshe Run dan Yeezy 350 Boost. Bagi orang awam, keduanya susah dibedakan. Namun, bagi penggila sneaker, yang satu berada di level yang lebih tinggi. —Yu-Ming Wu

Di sisi lain, permintaan akan deadstock terus berkembang. Deadstock naik tingkat dari sekedar objek cult menjadi sebuah simbol status, dan seperti barang fashion mewah lainnya, sepasang sneaker yang tepat bisa membuat seseorang tampak lebih keren sekaligus menunjukkan daya beli penggunanya. Orang masih mendambakan alas kaki yang bisa menunjukkan pernyataan semacam itu, mereka tak peduli bagaimana cara mendapatkannya: beli di toko retail atau dengan membayar harga purna jualnya.

"Fungsinya seperti perempuan dengan tas mewah mereka— bagi pria, tas itu adalah sneaker. Hanya beberapa orang tertentu yang tahu bedanya Tas Coach seharga Rp. 10 juta dan Tas Chanel seharga Rp. 52 juta. Bagi orang awam, keduanya sama-sama sekedar tas kulit," kata Wu. " Anda punya Nike Roshe Run dab Yeezy 350 Boost. Bagi orang awam, keduanya susah dibedakan. Namun, bagi penggila sneaker, yang satu berada di level yang lebih tinggi."Semua foto oleh

Elizabeth Renstrom. Bisa difollow di Instagram.

Styling oleh Priscilla Jeong. Bisa difollow Instagram.

Teks oleh Jian DeLeon. Bisa difollow di Twitter.

Semua sepatu langka yang difoto disediakan oleh Stadium Goods. Sila kunjungi website-nya.