Dalam Waktu Dekat, Proses Pengawetan Otak Akan Jadi Prosedur Medis Lazim

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Linda Chamberlain, salah satu pionir Krionik bisa jadi perempuan abadi pertama di dunia. Yang jadi masalah cuma satu, dia harus terlebih dulu memilih caranya untuk sampai ke sana karena caranya tak tunggal.

Awal bulan ini, Brain Preservation Foundation (BPF) mengumumkan bahwa fase terakhir perlombaan Brain Preservation Prize telah dimenangkan oleh tim kriobiologi yang dipimpin oleh Robert McIntyre (Sebagai catatan, saya adalah salah satu penasehat Brain Preservation Foundation). Dua tahun yang lalu, tim yang sama juga menggondolSmall Mammal Brain Preservation Prize. Guna terus mendalami teknologi kriogenik, McIntyre mendirikan sebuah perusahaan rintisan bernama Nectome.

Videos by VICE

Sayangnya setelah MIT Technology Review menurunkan tulisan awal tentang perusahaan Netcome, tabloid tersebut memberitakan perusahaan McIntyre dengan tajuk yang sensasional, seakan-akan Netcome menawarkan paket digitalisasi otak seharga $10.000 (sekitar 137 juta) dengan satu syarat: kamu harus rela dibunuh terlebih dulu. Anggapan ini, seperti dijelaskan di website BPF dan Netcome, salah kaprah.

Prosedur yang digunakan dalam proses digitalisasi—dikenal dengan nama Aldehyde-Stabilized Cryopreservation (ASC), didesain untuk mempertahankan “connectome,” skema diagram syaraf dalam otak yang dipercaya oleh para pakar ilmu syaraf menyimpam memori dan identitas personal seseorang. Dalam beberapa dekade atau paling banter satu abad, menurut beberapa ilmuwan ternama seperti mendiang Stephen Hawking, teknologi di masa depan akan memungkinkan kita menyalin informasi dan mengunggah isi kepala kita ke sebuah superkomputer canggih.

“Secara teori, kita sebenarnya bisa menyalin otak ke dalam sebuah komputer untuk menciptakan sebentuk kehidupan setelah kematian,” ujar Hawking. “Sayangnya, ini masih belum dapat dilakukan dengan teknologi yang berkembang saat ini.”

Yakin betul bahwa kemampuan manusia akan maju tanpa batas Linda Chamberlain dan mendiang suaminya Fred mendirikan Alcor Life Extension Foundation pada 1972. Alcor adalah penyedia layanan krionik—proses pembekuan “pasien” tak lama setelah meninggal, dengan harapan di masa depan akan ada teknologi yang bisa menghidupkan mereka kembali.

Jenazah Fred Chamberlain diawetkan dengan teknik ini oleh Alcor pada 2012. “Ini mungkin email “swa-kirim” terakhir yang kalian terima dari saya,” tulisnya dalam email yang dikirimnya pada saya dan beberapa rekan lainnya. “Jumpa lagi suatu saat di masa depan.”

ASC juga punya nama lain, yakni “ vitrifixation” sebab terdiri dari dua proses, fiksasi dan vitrifikasi. Pada proses pertama, zat kimia fiksatif glutaraldehyde digunakan untuk membekukan sinaps dan mencegah pembusukan. Setelah itu rampung, ethylene glycol, zat anti beku, digunakan untuk mengubah otak menjadi mirip kaca sehingga bisa bertahan dalam proses kriogenik dalam temperatur rendah dalam durasi yang panjang.

ASC dipandang sebagai teknik krionik masa depan, sekaligus bentuk krionik alternatif —“ ckrionik untuk para pengunggah”—yang dirancang untuk proses pembangkitan pasca-biologis. Yang dimaksud para pengungah adalah mereka yang dengan gembira menyambut prospek bahwa diri mereka akan bangkit kembali sebagai software pintar dalam sebuah superkomputer di masa depan.

“Jadi, pahami dulu…,” tulis Presiden BPF Ken Hayworth dalam surelnya yang dikirim ke Dewan Penasihat BPF. “ASC, jika diterapkan dengan tepat SAAT INI, bisa menyelamatkan konten informasi dalam otak manusia untuk masa penyimpanan yang sangat lama.”

Risikonya, tentu selalu ada risikonya, adalah proses fiksasi kimia sangat berbahaya dan bisa membunuh sel tertentu. “Kendati ASC menghasilkan citra yang lebih bersih daripada proses vitrifikasi tanpa fiksasi, namun proses tersebut membahayakan mesin biologi pasein lantaran berbahaya pada level molekuler,” tulis Alcor dalam pernyataan posisi mereka.

Vitrifikasi tanpa fiksasi adalah prosedur krionik yang kini digunakan oleh Alcor. “Meski belum begitu jelas bagi beberapa orang apakah penelitian ini dan berbagai hadiah yang diasosiasikan dengannya menunjukkan bahwa ASC atau vitrifikasi tanpa pre-fiksasi bisa menyelamatkan struktur sel dan molekuler yang penting dalam pembentukan memori dan identitas personal,” lanjut Alcor dalam pernyataan mereka.

Perlu dicatat bahwa sejatinya Alcor dan beberapa penyedia layanan krionik ternama semisal Cryonics Institute dan Kriorus berada di posisi yang ideal untuk menawarkan opsi vitrifikasi.

Chamberlain dan beberapa pendukung ide krionik lainnya pada akhirnya harus memilih salah satu dari opsi: virtrifikasi tanpa pre-fiksasi atau vitrifikasi dengan pre-fiksasi. Metode pertama akan memaksimalkan penyelamatan connectome hingga membuka kemungkinan pengunggahan ke superkomputer, tapi dengan mengorbankan kemungkinan pembangkitan biologis. Opsi kedua menekankan pengawetan tubuh organik dalam bentuk yang bisa dibangkitkan, tapi tak begitu mengindahkan penyelamatan connectome yang akurat. Bagi mereka yang benar-benar serius tentang hal ini, ini adalah pilihan hidup dan mati,

Tentu saja, masih terbuka peluang bahwa kemajuan teknologi akan mengikis perbedaan kedua opsi ini. Misalnya, nanti mungkin bisa membalik proses fiksasi dan memperbaiki jaringan organik yng rusak. Eric Drexler, “bapak teknologi nano,” mengusulkan prosedur vitrifikasi untuk keperluan krionik dalam bukunya yang cult “ Engines of Creation,” membayngkan bagaimana robot nano di masa depan bisa secara sistematis memperbaiki kerusakan molekuler.

“Dengan asumsi teknologi nano digunakan dalam proses pembangkitan pasien, sejauh mana perbedaaan yang akan antara pembangkitan otak yang diawetkan lewat ASC dan otak yang diawetkan dengan vitrifikasi semata?, “ tulis Chamberlain dalam sebuah surel. “Saya tak yakin ASC hanya diperuntukkan untuk pengunggah.”

Di sisi lain, connectome sebuah otak yang sudah divitrifikasi tanpa pre-fiksasi masih bisa digunakan dalam proses pengunggahan otak, dengan kerusakan minor yang harus ditangani. Indikasi ke arah ini sudah pernah didemonstrasikan oleh Natasha Vita-More dan Daniel Barranco dalam peneletian kemampuan memori cacing C. elegans setelah melalui proses vitrifikasi dan dihidupkan kembali.

ASC baru terbatas dalam riset-riset laboratorium, namun sudah muncul gagasan untuk mengujinya di lapangan. “Saya percaya bahwa komunitas sains dan medis punya kewajiban untuk mengembangkan ASC menjadi salah satu prosedur medis yang bisa diandalkan secepat mungkin,” ujar Hayworth.

Sebagai catatan, ASC tak memerlukan suhu yang sangat rendah untuk melakukan penyimpanan. Serampung fiksasi, otak bisa diawetkan dalam suhu ruangan tanpa pembusukan berarti “untuk beberapa minggu, bulan atau tahun,” bila mengacu pada keterangan yang diberikan Nectome.

Kondisi ini memunculkan sebuah implikasi penting yang menyederhanakan prosedur operasi, terutama pada bagian awal yang krusial. “Karena ASC menggunakan fiksasi perfusi sebagai langkah awal, prosedur ini berhasil menghindari salah satu tantangan dalam krionik di yang selalu menjadi semacam adu balap antara peningkatan konsentrasi CPA [CryoProtectant Agent] dan penurunan suhu tubuh,” Hayworth dalam sebuah surel. “Prosedur ASC terhitung sangat sederhana jika dibandingkan dengan ini—lakukan semuanya dalam suhu ruangan dan ambil waktu sebanyak mungkin yang kamu perlukan guna memastikan keseragaman fiksasi dan konsentrasi CPA yang diinginkan.”

Lalu, ada juga peluang bahwa kemajuan teknologi kelak akan memungkin penyimpanan otak yang diawetkan dalam suhu ruangan. Malah, sebuah usulan prosedur alternatif yang tak memerlukan penyimpanan kriogenik terpilih sebagai runner-up dalam Brain Preservation Prize.

“Saya rasa ada kemungkinan opsi penyimpanan dalam suhu ruangan yang kelak akan berhasil dikembangkan untuk mewadahi otak yang diawetkan dengan ASC,” tulis Hayworth dalam surelnya. Ini akan jadi solusi lain dari masalah yang dihadapi dalam proses krionik: ongkos yang mahal. Alcor saat ini membanderol $200.000 (setara Rp2,7 miliar) untuk jasa pengawetan seluruh tubuh, $20.000 (setara 275 juta) untuk pengawetan otak semata. Penyedia layanan serupa lainnya mungkin mematok harga lebih rendah walaupun tetap saja tergolong mahal.

Berseberangan dengan praktik pengawetan dalam industri krionik saat ini yang biasanya baru dikerjakan setelah sertifikat kematian keluar guna menghindari kericuhan hukum dan sebagainya, Hayworth percaya bahwa ASC seharusnya dilakukan pada otak yang masih hdup sebelum kematian datang untuk memeroleh hasil yang lebih optimal. “Prosedur ASC seharusnya dipandang sebagai proses kematian yang dibantu dokter,” ujarnya. Jelas, untuk bisa mewujudkan visi ini, bakal dibutuhkan dialog yang panjang dan makan waktu dengan kalangan medis dan pembuat kebijakan—sebuah aspek yang seperti disepelekan Hayworth.

Meski demikian, Hayworth tetap kukuh bahwa ASC seharusnya dikembangkan dalam kerangka medis dan saintifik mainstream dan diterapkan dengan kerangka hukum yang jelas, tanpa sekalipun memberikan wewenang melakukan ASC pada negara dengan penerapan etika medis yang longgar atau hanya mengizinkan proses ini dikerjakan setelah kematian legal terjadi. Pada dasar, ASC setelah kematian sebenarnya sudah bisa diterapkan di Amerika Serikat dan negara lain yang mengizinkan kematian dengan bantuan dokter, selama tetap tunduk pada aturan dan regulasi yang berlaku.

“Mengambil jalan pintas menguji ASC pada seseorang yang secara legal sudah dinyatakan meninggal dunia hanya karena ingin menghindari tes pada hewan, kerepotan menerbitkan makalah di jurnal ilmiah dan debat etika medis yang melelahkan adalah cara paling ampuh menutup peluang ASC diakui secara luas,” ujar Hayworth. “Kalau anda mengambil jalan pintas ini dan mulai menawarkan ASC yang masih dalam tahap prematur, anda akan bertanggung jawab atas ribuan nyawa yang melayang. Jangan lakukan hal ini. Jangan mengakali perkembangan prosedur medis standar atau menghindari debat etika medis.”

Minggu pekan lalu, saya mengadakan sebuah pertemuan di Second Life guna memperbincangkan prospek baru krionik bagi para pengunggah bersama Chamberlain, Hayworth, CEO Alcor Max More, Natasha Vita-More, Robin Hanson, William Sims Bainbridge, dan sejumlah kecil pegiat isu krionik dan pengunggahan otak. Kalian bisa mengakses video pertemuan itu—serta pertemuan-pertemuan selanjutnya, lewat YouTube.

McIntyre mendirikan perusahaan rintisan Nectome untuk memperluas kajian ASC pada otak manusia dalam konteks riset, mengembangkan protokol pengawetan memori yang terverifikasi, dan menawarkan jasa preservasi ASC pada pasien di AS jika waktunya sudah dianggap tepat.

“Saat ini, vitrifikasi adalah perangkat riset yang luar biasa, namun masih memerlukan lebih banyak penelitian dan pengembangan sampai bisa diterapkan dalam konteks klinis,” terang McIntyre dalam surelnya. “Vitrifikasi, atau biasa disebut ASC, telah berhasil dibuktikan bisa mengawekan connectome pada hewan, tapi baru langkah awal menuju penggunaannya di bidang klinis pada masa depan. Layaknya teknik operasi terkini, vitrifikasi beserta semua turunannya harus melalui proses review oleh komunitas medis dan sains. Feedback dari kalangan neuroscientist dan diskusi mendalam dengan pakar etika medis hendaknya tak diperhatikan.”

“Beragam tes tambahan untuk memastikan segala macam kemanjuran di luar pengawetan ultrastuktur (termasuk di dalamnya preservasi informasi proteomik dan genomik) harus dirampungkan. Ini penting dilakukan guna mendapatkan informasi tentang kemampuan vitrikasi yang sebenarnya,” lanjut McIntyre. “Kami percaya bahwa pengawetan otak manusia secara klinis memiliki potensi besar yang menguntungkan umat manusia. Namun, hal itu bisa dicapai bila kita mempertimbangkan input dari ahli medis dan ilmu syaraf. Kami pun percaya bahwa buru-buru menerapkan vitrifikasi saat ini adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan mencederai proses adopsi protokol vitrifikasi oleh kalangan medis.”

Berlawanan dengan apa yang kerap diberitakan oleh media, Nectome dan BPF berniat tunduk pada peraturan saintifik dan medis agar ASC mendapatkan validasi komunitas medis mainstream, yang menurut perkiraan Hayworth dan McIntyre bisa didapatkan dalam hitungan tahun.

Namun, bilapun ASC akhirnya mendapatkan penerimaan luas, jika penerapannya tak responsif dan kurang bersahabat, penyedia layanan krionik yang kurang bertanggung jawab akan ikut bermain, mungkin di negara dengan juridiksi yang kurang atau tidak sama sekali melindungi pasien atau menekankan kontrol kualitas sebuah proses medis.

Thank for your puchase!
You have successfully purchased.