Industri Perfilman

Warganya Sudah Bebas Nonton Bioskop Lagi, Box Office Tiongkok Catatkan Rekor

Warga Tiongkok berduyun-duyun nonton film selama libur Imlek 2021, karena masih dilarang bepergian ke luar kota.
17.2.21
Warganya Sudah Bebas Nonton Bioskop Lagi Selepas Pandemi Covid-19, Box Office Tiongkok Catatkan Rekor
Penonton Tiongkok sudah bisa nonton bioskop lagi, bahkan di beberapa provinsi tidak ada pembatasan kursi. Foto oleh STRINGER / AFP

Industri perfilman berbagai negara, khususnya sektor eksibisi alias bioskop, tengah lesu. Penonton berkurang drastis, akibat pembatasan sosial dipicu pandemi Covid-19. Namun hal berkebalikan sedang terjadi di Tiongkok. Menurut data terbaru, angka pendapatan pemutaran film-film box office di negara itu untuk dua bulan pertama 2021 mencatat rekor.

Pemicunya adalah larangan bepergian ke luar kota yang diterapkan pemerintah Tiongkok selama libur panjang Imlek tahun ini. Orang-orang akhirnya beralih mencari hiburan di kota masing-masing, dan bioskop ketiban rezeki nomplok. Sekalipun beberapa film lokal Cina yang dirancang sebagai box office mendapat ulasan negatif, jumlah penonton membuktikan orang tak terlalu peduli asal bisa dapat hiburan selama libur panjang.

Iklan

Untuk diketahui, mayoritas bioskop di Tiongkok sudah beroperasi normal sejak triwulan ketiga tahun lalu. Sebab, laju persebaran virus Sars Cov-2 yang bermula dari Wuhan berhasil ditekan nyaris di semua provinsi.

Berkat normalisasi bioskop, pada 2020 pasar perfilman Tiongkok bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah berhasil melampaui pendapatan box office Amerika Serikat. Adapun untuk tahun ini, yang sebetulnya baru berjalan tak sampai dua pekan, rekor anyar berhasil ditorehkan.

Data asosiasi bioskop Tiongkok mencatat selama 11-17 Februari 2021, pendapatan dari tiket mencapai US$1 miliar, melampaui rekor US$910 juta yang dicatat tiga tahun sebelumnya sepanjang momen libur Imlek.

Bahkan, di hari Imlek saja, menurut Maoyan Entertainment, pendapatan tiket bioskop jika ditotal mencapai US$260 juta. Ini angka raupan box office tertinggi di pasar perfilman dunia manapun untuk capaian satu hari pemutaran.

Tingginya pendapatan box office itu tidak berbanding lurus dengan kualitas. Selain kritikus, penonton banyak memberi review negatif ke film-film yang diputar selama libur Imlek. Salah satu yang paling banyak dihujat adalah film Detective Chinatown 3, peraih box office terbesar tahun ini, yang skornya di situs agregator review Douban hanya mencapai 5.7 dari skala 10.

Penonton maupun kritikus sepakat, film komedi tentang dua polisi Tiongkok diminta memecahkan pembunuhan di Tokyo ini plotnya ambyar, penuh iklan terselubung, serta dihiasi guyonan seksis.

Iklan

Salah satu penonton, saking gedeknya sama Detective Chinatown 3 (sekalipun dia tonton juga karena ingin mengisi momen liburan), menyebut film ini bagaikan “durian busuk”.

“Ibaratnya, nonton ini seperti saat ada durian busuk yang membuat seisi rumah kita bau tahi,” tulisnya.

Sekalipun ramai dikata-katain, nyatanya Detective Chinatown 3 sukses meraup US$156 juta di hari pertama pemutaran, nyaris menyamai pendapatan pemutaran perdana Avengers: Endgame di Amerika Serikat.

Menurut Yin Hong, guru besar ilmu komunikasi sekaligus pengamat industri perfilman dari Tsinghua University, rekor box office di negaranya dipicu oleh masyarakat yang haus hiburan saat tidak bisa ke mana-mana selama imlek. Bahkan, di beberapa aplikasi, harga tiket sampai dinaikkan dua kali lipat lantaran tingginya permintaan pasar.

Faktor lain yang membuat film-film lokal Tiongkok berjaya adalah minimnya rilisan Hollywood selama lebih dari satu semester terakhir. Berbagai film produksi Amerika Serikat diundur jadwal edarnya. Lazimnya, industri bioskop Tiongkok dikuasai film-film Hollywood.

Sejauh ini, deretan film Hollywood baru sebatas wacana akan dirilis di Tiongkok. Beberapa di antaranya adalah remake Tom and Jerry, Black Widow, Fast & Furious 9, dan Minions 2.

Follow Viola Zhou di Twitter.