Konflik Timur Tengah

Berikut Prediksi Jalannya Perang Antara AS vs Iran, Menurut Pakar

Kemungkinan besar terjadi perang proxy melibatkan milisi dan serangan siber kepada jaringan internet dan infrastruktur di AS. Itu baru kemungkinan paling optimis lho....
6.1.20
Personel Garda Revolusi Iran berkabung dan menggelar demonstrasi di Teheran, pada 3 Januari 2020, setelah AS membunuh petinggi mereka, Mayjen Qassem Souleimani.​ Foto oleh Atta Kenare/AFP
Personel Garda Revolusi Iran berkabung dan menggelar demonstrasi di Teheran, pada 3 Januari 2020, setelah AS membunuh petinggi mereka, Mayjen Qassem Souleimani. Foto oleh Atta Kenare/AFP

Krisis internasional terbaru ini sebenarnya sudah dimulai pada 21 Juni 2019. Kala itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah nyaris memerintahkan pengiriman pesawat tanpa awak (drone) untuk menyerang beberapa target penting milik pemerintah Iran. Di luar dugaan para penasehatnya di gedung putih, Trump mengurungkan rencana tersebut di detik-detik terakhir, kendati drone dan peluru kendali sudah siap terbang. Tidak jelas, apa alasan Trump kala itu batal memprovokasi Teheran.

Iklan

Enam bulan kemudian, keraguan yang sama tak lagi menghinggapi Trump. Kedubes AS di Irak diserang massa, konon mereka dimobilisasi oleh intelijen Iran. Trump memerintahkan pembunuhan Mayor Jenderal Qassem Soleimani, salah satu petinggi militer terpenting Iran. Drone milik AS dikirim ke bandara internasional Baghdad, Irak—menembakkan sebuah peluru kendali—menewaskan Soleimani dan beberapa pemimpin milisi pro-Iran lainnya yang baru saja mendarat di bandara tersebut.

Sesuai prediksi akal sehat siapapun, Iran marah besar atas pembunuhan sang jenderal. Puluhan ribu massa menggelar demonstrasi di berbagai kota Iran sepanjang akhir pekan lalu, meneriakkan sumpah "matilah Amerika". Para mullah petinggi Iran, termasuk Ayatullah Ali Khamenei, bersumpah akan memberi "pembalasan dendam yang dahsyat" atas "kejahatan keji" yang dilakukan AS. Sejak insiden itu terjadi pada Jumat (3/1) dini hari pekan lalu, semua orang sibuk meramal kapan Perang Dunia ke-3 terjadi.

Mendiang Soleimani adalah pemimpin salah satu divisi Garda Revolusi Iran, satuan militer paling penting di Negeri Para Mullah. Garda Revolusi, lewat juru bicaranya, mengaku tinggal menanti perintah petinggi negaranya untuk melakukan serangan balasan. Jet tempur Iran juga terpantau siap siaga di pangkalan masing-masing untuk menyerang sasaran terkait AS.

Meski begitu, pakar militer dan pengamat politik internasional ragu Iran akan memilih konfrontasi langsung dengan Negeri Paman Sam. Bukannya karena takut. Para penguasa rezim di Teheran memiliki opsi-opsi lain untuk membalas pembunuhan AS. Salah satunya, mengaktifkan jaringan milisi di berbagai negara Timur Tengah untuk mengacaukan keadaan. Iran adalah pemain politik penting di kawasan, yang menempatkan, mempersenjatai, dan mendanai berbagai milisi Syiah. Jaringan milisi ini tersebar di Suriah, Irak, Libanon, hingga Yaman. Satu hal lain patut diingat: Iran memiliki infrastruktur mumpuni untuk melakukan serangan siber terhadap negara lain, tak terkecuali AS.

Iklan

"Saya membayangkan, akan ada kombinasi serangan siber, perang proxy, dan aksi teror di AS yang akan dilancarkan Teheran," kata Michael Carpenter, penasehat keamanan di era mantan Presiden Barack Obama, saat dihubungi VICE News.

Berikut beberapa prediksi pakar mengenai kemungkinan jalannya perang antara AS vs Iran, seandainya skenario yang terburuk akhirnya terwujud:

Perang di Berbagai Front

Perekonomian Iran menderita luar biasa akibat kombinasi berbagai sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS bersama PBB akibat kengototan mereka mengolah uranium jadi nuklir. Dalam laporan Mei 2018, sebetulnya negara itu tidak cukup punya dana dan sumber daya untuk melakoni perang melawan negara yang lebih digdaya, lebih-lebih Amerika Serikat.

Meski begitu, Iran jadi bertindak lebih nekat karena AS tiba-tiba menarik diri dari perjanjian pelucutan nuklir yang tercapai pada era Obama. Trump mengatakan tidak mau lagi bernegosiasi dengan Iran—akibat desakan Israel serta kaum Kristen Konservatif di negaranya. Trump, yang pernah berjanji menarik sepenuhnya semua tentara AS dari kawasan Timur Tengah, melanggar janji kampanyenya sendiri dengan membuka konfrontasi baru dengan Iran.

"Dua tahun terakhir, yang dilakukan Trump adalah meningkatkan perang ekonomi terhadap Iran dan membatalkan semua kemajuan yang sebenarnya tercapai dari perjanjian pelucutan nuklir yang tadinya disetujui Teheran," kaa Trita Parsi, dari Quincy Institute, kelompok think tank kajian politik internasional, kepada VICE News.

Iklan

Alhasil, ekonomi Iran kembali melemah setahun terakhir dan akhirnya kekesalan rezim Syiah dilampiaskan pada AS. Termasuk dengan penembakan drone milik Negeri Paman Sam tahun lalu, dan juga sekian blokade tanker minyak yang melewati perarain mereka.

"Respons balasan Iran kemungkinan besar kombinasi serangan langsung, maupun tidak langsung, terhadap infrastruktur dan personel militer AS."

Praktik-praktik perlawanan kecil itu, menurut pakar, akan ditempuh oleh Iran. Secara geografis, serangan langsung ke wilayah AS mustahil dilakukan Iran. Maka, mereka akan membuka perang kecil di berbagai front. Sasarannya adalah target-target simbol AS, seperti kedutaan besar ataupun pangkalan militer Amerika, hingga kapal induk yang disiagakan dekat Teluk Persia.

Jangan lupa juga, saat ini adalah lebih dari 5 ribu personel militer AS yang sedang ditugaskan di Irak, negara tetangga Iran. Merekalah calon korban potensial diserang balik oleh Iran.

"Respons balasan Iran kemungkinan besar kombinasi dari serangan langsung, maupun tidak langsung, terhadap infrastruktur dan personel militer AS," kata Sanam Vakil, peneliti senior dari lembaga kajian Timur Tengah Chatham House, saat dihubungi VICE News. "Irak bakal mengalami pergolakan lebih dulu jika Iran serius melakukan balasan."

Perang Siber

Kemungkinan ini yang paling dikhawatirkan oleh Pentagon saat menggelar jumpa pers. Petinggi militer AS melihat besarnya potensi Iran melancarkan peretasan dan perusakan sistem IT di berbagai jaringan internet penting negara mereka. Peretas asal Iran dikenal cukup mumpuni. Balasan macam ini juga lebih masuk akal dilakukan, mengingat faktor geografis yang tidak memungkinkan serangan balik di dunia nyata.

Iran juga sudah punya sejarah berhasil menggelar serangan siber terhadap target-target di AS. Berbagai kasino dan bank di Atlanta serta New York pernah terpaksa tutup, akibat aksi peretasan hacker asal Iran.

Iklan

"Kemampuan perang siber Iran memang masih di bawah AS, Rusia, dan Tiongkok. Tapi ketika peretas yang didukung negara itu diizinkan bergerak bebas, tindakan mereka seringkali destruktif," kata Robert Lee, CEO firma keamanan siber Dragos, kepadaVICE News.

Chris Krebs, lembaga Badan Keamanan Siber AS, mengungkapkan kecemasan serupa. Sejak Juni 2019, peretas asal Iran sudah berulang kali berusaha membobol jaringan IT penting di tubuh pemerintah AS.

"Aktor-aktor serangan siber yang disponsori Iran tidak lagi sekadar mencuri data atau uang via pembobolan kartu kredit," kata Krebs. "Mereka sudah selangkah lebih maju, dengan menyebar phising, pencurian password, serta menembus sekian lapis pengamanan sistem. Iran punya kemampuan, jika kita lengah, untuk mengambil alih jaringan internet penting di negara ini."

Tentu saja sistem pertahanan AS agak mustahil dibobol peretas negara manapun. Tapi target-target yang lebih lemah dalam bahaya. Misalnya infrastuktur listrik, pengairan, serta pipa gas dan minyak yang dijalankan swasta. "Mengingat ransomware WannaCry sempat melumpuhkan jaringan rumah sakit di AS, bisa dibayangkan bahwa ada beberapa sektor yang masih belum bisa disebut aman dari target serangan siber negara lain," kata Lee.

Perang Proxy Terjadi di Timur Tengah

Soleimani mungkin tidak disorot banyak media semasa hidupnya. Tapi dia sebetulnya sosok yang amat penting. Soleimani mengapalai divisi intelijen dan perekrutan milisi sipil, yang jejaringnya melebar ke berbagai negara Timur Tengah selama dua dekade terakhir. Bisa dibilang, Soleimani-lah aktor lapangan yang berhasil memperluas pengaruh Iran menandingi Arab Saudi dan Israel di kawasan. Mendiang jenderal itu punya banyak loyalis di berbagai milisi sipil. Mulai dari kelompok separatis Houthi di Yaman, hingga Hizbullah yang berdiam di Libanon dan meraih reputasi sangar karena sanggup mengimbangi armada tempur Israel.

Jejaring milisi itulah, yang dikhawatirkan para pakar, akan digerakkan Iran untuk membuka perang proxy (perang melalui tangan/perantara konflik lain) terhadap AS.

Salah satu faksi yang paling dipantau pergerakannya saat ini adalah Hizbullah. Kelompok paramiliter Syiah ini resminya adalah partai politik di Libanon. Tapi mereka punya ribuan sipil bersenjata yang tak kalah profesional dengan kombatan, tank, peluncur roket, senjata anti-jet tempur, serta amunisi melimpah. Saat berkonflik dengan Israel pada 2006, Hizbullah berhasil menahan imbang serbuan jet tempur Negeri Zionis tersebut yang jauh lebih canggih. Bisa dibilang, Hizbullah saat itu menang perang dan mempermalukan petinggi Israel. Hizbullah juga berperan besar membantu rezim Bashar al-Assad di Suriah selamat dari pemberontakan selama sembilan tahun terakhir. Sumber terpercaya menyatakan Hizbullah kini siap ditugaskan membalas kematian Souleimani.

Belum jelas apa yang akan jadi sasaran Hizbullah, dan berbagai milisi pro-Iran lainnya di kawasan. Tapi target-target terkait ekonomi diprediksi akan jadi sasaran utama. Pada 1979, boikot pengiriman minyak yang dilakukan Iran sukses membuat harga BBM di AS naik drastis, dan membuat ekonomi lesu parah.

"Sangat sulit memprediksi di titik mana Iran akan melancarkan perang proxy membalas AS. Faktanya, sebenarnya perang proxy antara kedua negara juga sudah berlangsung di Irak setahun terakhir," kata Parsi. "Fakta lainnya, perang proxy pasti terjadi di Teluk Persia, di Arab Saudi, dan tentu saja Yaman. Pertanyaan pentingnya, akankah konflik ini melebar ke wilayah lain?"

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News