Larangan Merokok

Universitas Pamulang Ancam DO Mahasiswi yang Merokok di Kampus

Sementara untuk laki-laki dibebaskan merokok di lingkungan kampus asal tidak di area gedung. Kebijakan ini jelas absurd dan seksis. Alasan pihak kampus? Malah muter-muter enggak jelas.
09 Januari 2020, 8:00am
woman-3435842_1920
Gambar dari Pixabay

Papan bertuliskan pengumuman diskriminatif ini baru dipasang Senin lalu (6/1) di area sekitar kantin kampus yang berlokasi di Tangerang Selatan, Banten ini. Penjaga kantin mengaku aturan pelarangan mahasiswi untuk merokok sudah diterapkan sejak lama, namun entah mengapa kampus baru memasangnya baru-baru ini. Mengapa hanya perempuan yang dilarang merokok?

Albert Setiadi, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen Unpam, membenarkan bahwa cowok emang bebas merokok di lingkungan kampus. “Buat cowok sih bebas, Cuma harus tahu aturan. Harus di luar area kelas. Kalau bisa sih di area terbuka, paling di kantin, di parkiran,” katanya kepada Detik.

Kalau warganet aja kesal sama aturan ini (plus penulisan “dilingkungan” ya digabung), apalagi mahasiswi perokok di Unpam. Seorang mahasiswi yang enggak mau disebut namanya merasa janggal pihak kampus hanya melarang perempuan. Kalau niatnya menjaga kesehatan atau membersihkan kampus karena masih banyak mahasiswa yang buang puntung rokok sembarangan, kan mestinya semua gender disasar.

Respons kampus bikin situasi ini makin janggal. Mereka bilangnya larangan merokok diberlakukan untuk semua mahasiswa tanpa peduli jenis kelamin. Lah kalau gitu kenapa papan pengumumannya khusus menyebut perempuan, maliiih.

“Iya tidak boleh juga pastinya (pria merokok). Kita sidak. Ada yang merokok di lokasi ini kita langsung sidak, dikumpulkan, dan dipanggil ortunya. Kita juga telah melakukan berbagai macam aturan untuk menindak. Tapi untuk perempuan, kita secara khusus tidak memperbolehkan itu,” ujar Wakil Rektor III Unpam Muhammad Wildan kepada Detik.

Ya ampun, kebayang enggak sih sebelnya jadi orang tua yang dipanggil kampus cuma karena anaknya ketahuan merokok? Kayaknya penempatan Pak Warek satu ini salah jenjang pendidikannya, deh. Harusnya doi gabung SMA aja.

Kolega Wildan, Warek II Subarto, malah punya penjelasan yang lebih absurd lagi. Ia mengatakan pelarangan itu dibuat untuk mengingatkan bahwa “merokok itu berbahaya bagi kaum hawa, terutama untuk organ reproduksi mereka.”

Sama seperti Wildan, Subarto bersikukuh bahwa larangan merokok di kampusnya berlaku juga untuk laki-laki. Ketika ditanya mengapa masih banyak laki-laki yang kelihatan merokok, Subarto menjawabnya dengan… ceramah singkat.

“Rokok itu hak asasi seseorang, sementara ada hak-hak lain bagi mereka yang enggak merokok. Harus saling menghormati. Kalau memang suka merokok, ya cari tempat lain saja,” ujar Subarto. Ini kenapa aturan sama penjelasan saling kontradiktif begini sih?

Biar pikirannya agak beres, pejabat Unpam mesti dengerin apa kata Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta yang juga anggota Komite Nasional Pengendalian Tembakau Prijo Sidipratomo. Kata Prijo, yang bermasalah dari aturan Unpam ini bukan larangannya, namun kepada siapa larangan itu ditujukan.

“Ya kampus kan memang masuk kawasan tanpa rokok. Namun yang keliru itu, jika (pengumuman) hanya ditujukan pada mahasiswi saja, ya tadi. Imbauan larangan merokok di kampus harusnya bukan saja untuk mahasiswi atau mahasiswa. Dosen, pegawai, harus menyadari betul larangan merokok,” ujar Prijo.

Kebijakan intoleran macam ini bukan kali pertama terjadi di Unpam. Pada Agustus 2017, Unpam memberlakukan aturan pelarangan penggunaan cadar di kampus yang tertuang dalam Surat Keputusan Rektor No. 338/A/U/Unpam/V/2017. Kebijakan ini diterapkan karena pihak kampus sulit melakukan kontrol atas mahasiswi bercadar, seperti bagaimana nanti membedakan perempuan dan laki-laki saat ujian.

“Tanpa cadar pun seseorang tidak merasa dirampas hak beragamanya. Dengan berhijab saja, seorang muslimah sudah merasa sempurna dengan pakaian ini, kan?” kata Rektor Unpam Dayat Hidayat kepada Republika.

Kebijakan ini segera mendapat banyak kecaman, salah satunya dari Sekretaris MUI Kota Tangerang Selatan Abdul Rozak. Menurutnya, tak sepantasnya Unpam bersifat otoriter mengatur busana mahasiswinya.

“Kampus kan tempat untuk mencari ilmu dan ilmu itu harus netral, bukan lembaga penghakiman dengan melarang-larang yang begitu, harusnya ada dialog, dan pasti ada jalan tengah,” ujar Abdul kepada Okezone.

Kalau penjelasan-penjelasan di atas serta protes warganet enggak bisa bikin Unpam berhenti bikin aturan diskriminatif, mending segera studi banding ke kampus-kampus Muhammadiyah deh.