Profil Post Malone musisi pop terbesar Amerika memasuki dekade 2020
Ilustrasi Post Malone dan pengaruhnya yang mengglobal oleh VICE Magazine
majalah VICE

Penyebab Post Malone Jadi Musisi Berpengaruh, Berakibat Genre Pop Terasa Seragam

Salah satu rahasianya, karena Post Malone menyiapkan melodi yang cocok dengan genre apapun. Tapi formula sukses itu berdampak pada metode penulisan lagu di Amerika masa kini.
30.5.20

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Magazine edisi Means of Production.

Nama Post Malone sudah tidak asing lagi. Beberapa tahun terakhir, lagu-lagu bintang pop berumur 25 tahun kelahiran Austin, Amerika Serikat ini terdengar di mana-mana, mulai dari radio hingga playlist teman-temanmu. Dia kerap meramaikan panggung acara penghargaan musik, entah sendirian atau bersama nama-nama besar seperti Aerosmith, Red Hot Chili Peppers, dan Ozzy Osbourne.

Iklan

Dia juga sering menyumbangkan suaranya di lagu beberapa musisi favoritmu. Di salah satu acara olahraga terbesar tahunan AS, Super Bowl, dia sempat tampil. Kalau kamu lebih doyan nonton film daripada mendengarkan musik, di Netflix kamu bisa menonton dia di sebuah film laga bersama Mark Wahlberg.

Kalau boleh memparafrase jalan cerita Popstar: Never Stop Never Stopping—sebuah mockumentary 2016 (dokumenter yang bersifat mengejek) karya Lonely Island tentang industri musik yang makin lama terasa semakin nyata—Malone ada di mana-mana, seperti oksigen atau gravitasi.

Sejujurnya dia bukan bintang terbesar dalam dunia musik, dan karyanya lebih sering dicaci berbagai media. Pada 2018, Washington Post memuat resensi konsernya di Posty Fest dan menyebut musik beliau sebagai "nihil emosi dan bodoh", bahkan menyebut penampilan Malone dan tato wajahnya sebagai "seorang koboi palsu yang terlihat baru mendaki keluar dari rawa keju."

Memasuki dekade kedua 2010an—periode waktu industri musik di mana angka streaming dan posisi di chart kurang lebih sudah mengalahkan angka penjualan album sebagai barometer utama kesuksesan—bisa disimpulkan bila Malone berada di puncak popularitas. Sejak Februari 2017, dia hanya menghabiskan enam minggu tanpa memiliki satu lagi di dalam 10 peringkat tertinggi chart Billboard Hot 100 single, dan bahkan seringkali mengambil beberapa peringkat bersamaan, entah lewat materi solonya atau sebagai bintang tamu di lagu artis lain.

Biarpun tangga lagu Billboard dalam beberapa tahun terakhir mulai terlihat homogen, dan hanya sedikit artis yang memiliki lebih dari satu lagu di beberapa chart berbeda, Malone berhasil mempertahankan popularitasnya dalam waktu relatif lama, pencapaian yang tidak banyak artis pop bisa capai sepanjang dekade ini.

Iklan

Untuk memahami bagaimana Malone bisa menjadi salah satu figur pop paling tenar yang membuat pendengar musik semua bingung—apalagi jika perkenalan kalian dengan Post Malone adalah mendengar single debut 2015nya “White Iverson”, sebuah tembang R&B generik yang bercerita tentang bagaimana sang tokoh utama mengklaim dirinya sebagai versi kulit putih dari mantan pemain NBA profesional Allen Iverson.

Lagunya sendiri menawarkan swagger rap tanpa swagger, sebuah anti-anthem yang suram yang membuat banyak kritikus musik (termasuk saya) tidak menganggapnya lebih dari sekedar aksi trolling musik pop—semacam “Party Rock Anthem” bagi generasi SoundCloud.

Beberapa elemen dari musik Malone dapat dilacak dari kancah musik arus pinggir—terutama, trio Salem, pengusung subgenre musik “witch house” yang mereka ciptakan sendiri. Selain itu, album 2008 Kanye West, 808s and Heartbreak bisa dibilang menyediakan kanvas dasar bagi pendekatan musik Malone yang cair dan lintas genre.

Setelah merilis tiga album rap megah, Kanye banting setir dan justru berlari ke perangkat lunak Auto-Tune (yang bisa membenarkan nada sumbang) sebagai inspirasi, membuang soundnya yang lebih megah dan menggantinya dengan bunyi-bunyi drum mesin, dan synth new wave ala 80'an. Di bawah semua lirik Kanye tentang kebencian terhadap diri sendiri, ada nuansa ketiadaan yang murni. Bahkan momen-momen paling ramai di album selalu dihiasi keheningan dan ruang kosong.


Tonton video wawancara khusus Noisey bersama Post Malone


Setelah mendapatkan respons yang campur aduk selepas perilisan, 808s lambat laun diakui sebagai karya berpengaruh dalam perubahan lanskap sonik R&B, rap dan pop secara umum. Bedanya, sound 808s sangat kasar dan mentah, sementara Malone justru terdengar sangat dipoles.

Celah di antara dikotomi kedua pendekatan ini kemudian dijembatani oleh kehadiran rapper Drake setahun kemudian, lewat perilisan album mixtape ambisiusnya So Far gone. Perilisan ini menetapkan seniman dan nama kelahiran Aubrey Graham sebagai murid dari 808s. Drake menambah sound yang lebih full, dengan vokal bernyanyi-rap mengambang dan motif melodi yang jelas diambil dari Kanye.

Biarpun Kanye tidak pernah kembali ke sound 808s, Drake justru membangun kariernya berdasarkan sound ini. Mulai dari album debut proper 2010nya Thank Me Later hingga Nothing Was the Same (2013), dia terus memoles kekurangan-kekurangan 808s hingga soundnya menjadi sangat mulus dan khas miliknya. Lebih lagi, dia juga mengambil inspirasi dari tema lirik 808s, tentang sisi negatif ketenaran dan kekayaan.

Apabila karya Kanye West merepresentasikan curhatan seorang bintang besar, visi Drake adalah tentang hal-hal negatif yang menghampiri ketika kamu mulai menjadi tenar—sebuah daftar keluhan panjang yang berhubungan dengan sukses instan, dibumbui rasa cemburu dan paranoia yang menjadi makanan sehari-hari bagi kaum millenial muda di manapun di dunia.

Iklan

“They said I wouldn’t be nothing / Now they always say congratulations,” nyanyi Malone di nomor “Congratulations”, sebuah single dari album debut 2016nya Stoney yang juga menjadi debutnya masuk ke daftar 10 besar Billboard Hot 100. Masih di nomor yang sama, dia mengeluh, “Worked so hard / Forgot how to vacation.”

Sentimen macam ini sangat mirip dengan Drake, bahkan hingga ke produksi lagunya sendiri (yang juga ditangani produser dan kolaborator Drake, Frank Dukes). Dirilis setelah mixtape August 26th di tahun yang sama, Stoney melambangkan kristalisasi dari estetika Malone—semacam versi kulit putih dari gaya musik yang Drake sempat kembangkan.

Malone tentu bukanlah imitator pertama Drake yang muncul (faktanya, banyak artis hip-hop underground di paruh pertama 2010an seperti Tory Lanez dan Bryson Tiller mencoba mengulangi kesuksesan instan Drake)—tapi dialah yang paling sukses, dan diantaranya karena timing yang pas. Stoney muncul delapan bulan setelah perilisan album Views milik Drake, sebuah album yang menandai kesuksesan Drake mencapai statusnya sebagai royalti pop global.

Apabila materi-materi Drake sebelumnya ditandai oleh fokus presisi dalam pengolahan vibe, Views justru loncat-meloncat antar subgenre, menggunakan gaya musik dari luar kultur Amerika Utara dan kembali menggunakan pendekatan lirik bergaya diari yang mudah ditiru oleh artis seperti Malone.

Views menandai dua perubahan besar. Satu, album tersebut menandai status kelas berat Drake sebagai pendominasi perhatian di dalam lanskap musik pop. Dua puluh lagu dari Views langsung masuk chart Hot 100, mengukir rekor baru posisi chart terbanyak sekaligus dipegang oleh satu artis dalam seminggu. Dia kemudian memecahkan rekornya sendiri dua kali lewat More Life (2017) dan Scorpion setahun kemudian.

Iklan

Seiring angka streaming mulai semakin besar bobotnya dalam penempatan posisi chart seorang artis, album pertama Drake juga menjadi pengantar ke era keseragaman chart yang kita miliki sekarang, di mana bintang pop tersukses dan paling ngetop—mulai dari Ariana Grande dan Halsey hingga Eminem dan Lil Uzi Vert—memegang beberapa posisi chart di minggu pertama perilisan. (Arianda Grande memegang rekor baru tahun lalu ketiga tiga tembang dari albumnya Thank U, Next, memegang tiga posisi puncak Hot 100; dia adalah artis pertama yang berhasil melakukan itu semenjak The Beatles 55 tahun yang lalu.)

Biarpun album Malone juga bisa dibilang sukses (dua album terakhirnya, Beerbongs & Bentleys (2018) dan Hollywood’s Bleeding (2019) memuncaki chart Billboard 200 ketika baru dirilis), kesuksesannya di chart sebagian besar merupakan kontribusi dari kehadirannya yang konsisten di budaya pop alih-alih karena murni kualitas albumnya.

Saat ini, sudah tidak bisa dipungkiri bahwa musik Malone sudah mulai menjadi inspirasi bagi bintang pop generasi muda. Album terbaru Halsey, Manic, yang dirilis awal tahun ini, sering menggunakan jurus BPM (beat per menit) datar yang menjadi ciri khas Malone. Rapper SoundCloud pendatang baru Lil Xan menyebut nama Malone dalam nomor kolaborasinya dengan Charli XCX “Moonlight”: “Ay, on my Post Malone shit.”

Di nomor “Stay” dari album Beerbongs, dia meminta subyek di luar kamera untuk “Fuck off / and pour another drink” ditemani suara gitar akustik dan nuansa ambient. Di luar nomor-nomor hip-hop/trap miliknya, tembang semacam ini tersebar luas di katalog musik Malone. Posisinya di ranah hip-hop sudah terbukti, dan dia pun diundang sebagai bintang tamu di album Changes karya Justin Bieber tahun ini, sebuah album R&B yang dreamy dan memiliki cap khas gaya Malone di hampir setiap lagu.

Iklan

Malone menampilkan Ozzy Osbourne di album Hollywood’s Bleeding dan dia membayar hutang budi bagi si metalhead kawakan dengan tampil di album comeback beliau Ordinary Man. Dan hebatnya lagi, dia sama sekali tidak terdengar salah tempat.

Malone juga berhasil “memaniskan” sedikit soundnya demi mendapatkan spot dalam soundtrack film animasi hit Spider-Man: Into the Spider-Verse, dan di tengah nomor “Same Bitches” dari album Beerbogs—sebuah nomor berbau West Coast yang menampilkan rapper YG dan G-Eazy—dia menyisipkan bait kedua dari nomor “Time of the Season” milik The Zombies, sebuah band psych-pop dari era 60an.

Lewat kombinasi kemampuan mengikuti tren yang lihai dan keberuntungan, Post Malone memiliki kemampuan untuk menjadi siapapun bagi pendengar yang berbeda, dan dia akan terus merajai lanskap kultur pop hingga seseorang dari generasi yang lebih muda menemukan cara untuk mengulik formula beliau dan menjadikannya sound khas mereka sendiri.

Follow Larry Fitzmaurice di Twitter.