Obituari

Mengenang Jakob Oetama, Guru yang Jadi Tokoh Pers Nasional Lewat Kompas Gramedia

Jakob berhasil membawa Kompas menjadi perusahaan media berpengaruh di Indonesia. Komitmennya terhadap kemanusiaan dikenang positif insan pers Tanah Air.
09 September 2020, 10:50am
Jakob Oetama Pendiri Kompas Gramedia Wafat
Mendiang Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia Grup. Foto dari sampul bukunya, via Facebook

Pendiri harian Kompas sekaligus Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia Jakob Oetama meninggal dunia Rabu 9 September 2020, pada usia 88 tahun di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Berita tersebut dikonfirmasi langsung oleh Direktur RS Mitra Keluarga Ronald Reagan. 

“Pada tanggal 22 Agustus dirawat di kami, masuk dalam kondisi kritis dan lemah. Selama perawatan, kondisi sempat membaik. Hanya memang dengan berbagai faktor, seperti usia, kondisinya memburuk lagi,” ujar Ronald kepada Kompas TV

Felix Salim, dokter yang menangani Jakob, menjelaskan kondisi kritis pasien disebabkan gangguan di banyak organ tubuh. Ia menegaskan, selama di rumah sakit almarhum sudah dites usap dua kali dengan hasil negatif Covid-19.

Juru Bicara Keluarga sekaligus Corporate Communication Director Kompas Gramedia Rusdi Amral menjelaskan, almarhum sudah dalam keadaan kritis sejak Minggu sore (6/9) sebelum wafat.

Jenazahnya akan disemayamkan di Gedung Kompas Gramedia agar para relasi, keluarga karyawan, serta kolega yang telah purnakarya bisa memberikan penghormatan terakhir. Namun, sebut Rusdi yang juga selaku juru bicara keluarga Jakob, pelayat tidak dipaksakan untuk hadir. 

“Disarankan cukup mendoakan saja, mengingat ini pandemi,” sebut Rusdi saat diwawancarai Kompas TV. Rencananya, almarhum yang merupakan penerima penghargaan sipil tertinggi Bintang Mahaputera Utama akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata esok hari (10/9).

Jakob Oetama lahir pada 27 September 1931 di Desa Jowahan (kini bernama Wanurejo), Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Selepas lulus dari Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan di Magelang pada usia 20 tahun, ia bekerja sebagai guru di SMP Mardi Yuana di Cianjur, Jawa Barat, kemudian di SMP Van Lith, Jakarta. Ketika berada di Jakarta, ia turut menyambi sebagai redaktur majalah mingguan Penabur. Jakob lantas melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta pada 1959 dan lulus dari Jurusan Publisistik di UGM pada 1961.

Dalam sebuah artikel tentangnya, Jakob menjelaskan kalau ia hampir saja berfokus menjadi guru profesional jika saja Pastor J.W. Oudejans, OFM, atasannya di mingguan Penabur, menyarankannya jadi wartawan dengan alasan “guru sudah banyak”. Pengaruh sang atasan membuat Jakob berubah pikiran, membuatnya memilih fokus jadi wartawan.

Pada 1963, ia dan rekannya, eks wartawan mingguan Star Weekly Petrus Kanisius Ojong merintis kerajaan media Kompas Gramedia dengan menerbitkan majalah bulanan Intisari. Inilah terbitan tertua di tubuh KKG. Dua tahun setelahnya, Jakob dan PK Ojong mendirikan harian Kompas pada 28 Juni 1965.

Selama masa Orde Baru, Jakob berhasil membawa Kompas mengarungi pemerintahan Soeharto yang represif terhadap media. Ia jadi salah satu pihak yang dimintai tolong Menteri Penerangan Ali Moertopo pada 1983 saat berniat mendirikan media Indonesia berbahasa Inggris untuk mengimbangi perspektif media asing terhadap Indonesia.

Bersama Jusuf Wanandi (pendiri CSIS), Muhammad Chudori (wartawan, ayah jurnalis Leila S. Chudori), Eric Samola, Fikri Jufri, Goenawan Mohamad (trio petinggi majalah Tempo), H.G. Rorimpandey (pendiri Sinar Harapan), dan Harmoko, Jakob ikut mendirikan harian The Jakarta Post pada 1983.

Sosok Jakob dikenang positif oleh banyak insan pers, berkat komitmennya terhadap kemanusian. Mendiang jurnalis senior Rusdi Mathari pernah menulis di akun Facebook pribadinya, bahwa Jakob tak segan membantu karyawan Kompas Gramedia, termasuk mereka yang pernah menulis untuk media tersebut beberapa kali.

“Dia tampaknya tak ingin kaya sendirian dari kerajaan Kompas dan bisnis medianya yang lain,” tulis Rusdi.

Selepas P.K. Ojong meninggal pada 1980, tampuk kepemimpinan di grup Kompas tertinggal pada Jakob seorang. Ia berhasil membuat grup media yang telah berusia 57 tahun ini bertahan hingga sekarang.

Termasuk berhasil membawa Kompas beradaptasi pada kedatangan internet. Saat ini Kompas.com konsisten masuk daftar 10 besar website paling banyak dikunjungi di Indonesia.

Sugeng tindak Pak Jakob…..