Traveling ke Taman Festival Bali yang angker dan terbengkalai tapi memukau di padang galak sanur
Kondisi pintu masuk Taman Festival Bali yang kini terbengkalai. Semua foto oleh penulis. 
Travel

Bali Nyaris Punya Roller Coaster Terbalik Pertama di Dunia, Tapi Kini Terbengkalai

Kontributor VICE berkunjung ke Taman Festival di Padang Galak, Denpasar, yang lebih mirip tempat angker. Ada keindahan tersendiri saat kalian mendatangi proyek ambisius dengan sejarah kelam ini.
1.12.20

“Pernah lihat hantu?” tanyaku kepada petugas pintu masuk Taman Festival, lokasi yang sering disarankan kenalanku di Bali bila kita ingin mendatangi tempat wisata tak lazim. 

“Setiap hari,” jawabnya acuh tak acuh sambil menunjuk ke arah bangku yang sempat didudukinya. “Hantu anak kecil kadang menemani saya duduk di sini.”

Taman Festival sekarang lebih mirip hutan rimba daripada obyek wisata mewah seperti saat awal dibuka 20 tahun lalu. Di sini seharusnya ada gunung berapi buatan, kolam buaya dan wahana roller coaster terbalik pertama di dunia.

Iklan

Proyek pembangunannya memakan dana sekitar Rp1,4 miliar, sangat besar untuk ukuran dekade 90’an. Taman hiburan ini diperkirakan pemerintah bakal mengubah industri pariwisata Bali menjadi lebih modern.

30.jpeg

Nyatanya, harapan itu jauh panggang dari api. Rumput liar sekarang merambat di dinding bangunan. Kolam buaya kering kerontang. Aula pernikahan dipenuhi lukisan grafiti.

Penasaran ingin melihat sisa-sisa wahana, aku meminta teman yang asli Denpasar menemani berkeliling Taman Festival. Lelaki itu sudah puluhan tahun menjadi pemandu wisata, jadi dia menyanggupi ajakanku asalkan namanya tidak usah ditulis di artikel ini, dan kami pulang sebelum malam.

“Suasananya di sana mistis banget setelah matahari terbenam,” katanya, mengingatkan.

Peluh mengalir membahasi pakaian kami setiba di obyek wisata yang terletak di dekat pantai Padang Galak, Sanur, tersebut. Melihat kedatangan kami, seorang petugas berjalan menghampiri dan mengulurkan tangan.

Aku langsung menyerahkan beberapa lembar uang senilai Rp25.000 kepadanya. Si petugas bilang banyak pengunjung iseng mencoba mengelak saat disuruh bayar. Tapi dia tahu semua sudut rahasia tempat ini dan mengklaim selalu bisa memergoki siapa pun yang berusaha menerobos masuk Taman Festival tanpa mau bayar.

8.jpeg

Aku terperangah melihat betapa luasnya obyek wisata ini. Sayang sekali, kondisinya sudah rusak parah karena dua puluh tahun tidak pernah terurus. Ubin mosaik melapisi jalan setapak. Nyamuk terbang berkerumun di udara. Sinar matahari menerobos dari atap cekung. Suara deburan ombak memecah keheningan Taman Festival dari kejauhan.

33.jpeg

Wisatawan yang berkunjung ke Taman Festival ketika pertama kali dibuka pada Oktober 1997, mungkin sulit melupakan betapa megah dan memukaunya tempat wisata ini. Sejumlah wahana masih dalam pembangunan pada momen pembukaannya, termasuk pertunjukan laser yang akan bersinar di malam hari.

Tak ada destinasi liburan lain di Pulau Dewata yang bisa menandingi kemewahan Taman Festival di Denpasar. Lalu kenapa obyek wisata megah tersebut jadi tak terurus sekarang?

Pada Juli 1997, beberapa bulan sebelum Taman Festival resmi dibuka, Thailand terpaksa menjatuhkan nilai mata uangnya karena terlilit utang luar negeri, yang pada akhirnya menyeret perekonomian Asia Tenggara ke jurang resesi. Krisis Ekonomi Asia mempengaruhi Indonesia, membuat Rupiah anjlok parah, bersamaan dengan kerusuhan politik yang berlangsung di berbagai kota besar Tanah Air.

25.jpeg

Arus pengunjung tak mampu memenuhi ekspektasi awal investor, yaitu sebanyak 1.200 pengunjung per hari, supaya cepat balik modal. Tempat wisata itu hanya menarik kurang lebih 200-an pengunjung di akhir pekan.

Taman Festival cuma mampu bertahan enam bulan, sampai akhirnya peralatan laser senilai US$5 juta (setara Rp70 miliar dengan kurs sekarang) rusak tersambar petir pada 13 Maret 1998. Asuransi tidak mampu menutupi biaya kerusakan, sehingga taman hiburan ini ditutup untuk selama-lamanya pada tahun 2000.

17.jpeg

Taman Festival terbengkalai sejak itu. Kolam buaya kini terlihat seperti lapangan bola yang tak terurus, sebuah oasis alam di antara belantara beton. Sebagian besar bangunan sudah tertutup pepohonan rimbun dan semak belukar yang menjalar.

35.jpeg

Walaupun Taman Festival tak pernah dibuka lagi, ada satu petugas yang tadi kubilang, terus menjaga lokasi selama lima tahun terakhir. “Saya bersih-bersih setiap hari dari jam 4 sampai jam 8 pagi,” ujarnya, sembari menunjukkan daftar harga tiket masuk yang dilaminating.



Temanku memberi tahu, si petugas itu berasal dari desa. Setiap desa di Bali memiliki tanggung jawab untuk merawat lingkungan mereka. Sang petugas jelas menjalankan tugasnya dengan serius.

31.jpeg

Setiap hari, dia dan beberapa warga lain meletakkan canang sari sebagai persembahan untuk para Dewa dan menghormati leluhur. Meski sebagian besar Taman Festival tak terurus, kuil kecil yang ada di dalamnya terawat dengan baik.

21.jpeg

Dia lalu menceritakan tentang wisatawan yang kameranya eror saat ingin berfoto. Lelaki itu mendadak diam dan memandang ke arah lain. Tak lama kemudian, dia kembali menatapku dan tersenyum lebar.

“Dia bilang kamu orang baik-baik,” tuturnya. Yang dia maksud sepertinya roh penjaga taman hiburan ini.

28.jpeg

Tidak ada tanda-tanda Taman Festival akan dihancurkan. “Terlalu ribet dan mahal buat dihancurkan. Lebih gampang ditelantarkan saja seperti ini,” kata temanku.

Kapan-kapan kalau kalian ke Bali, jangan lupa berkunjung ke Taman Festival. Kalian bisa uji nyali di sana, atau sekadar jalan-jalan menikmati suasananya yang sepi. Hitung-hitung buat membantu sang petugas, biar dia bisa tetap memiliki pemasukan.

Follow Sarah di Twitter dan Instagram