Coronavirus

Masih Diminta Masuk Kerja Saat Pandemi? Situs Ini Siap Mempermalukan Kantormu

Tenang, situs ini anonim. Bila bos kalian ngeyel memaksa pegawai masuk di tengah pandemi corona, padahal bidang kerjanya bisa dilakukan dari rumah? Luapkan emosimu di Shame Your Company.
25.3.20
Situs Shame Your Company Mempermalukan Kantor yang Masih Memaksa Karyawan Kerja Saat Pandemi Corona
Ilustrasi karyawan marah lalu merusak tablet dan laptopnya. Foto via Phxere

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun pemerintah Indonesia telah mengeluarkan himbauan agar semua penduduk belajar, bekerja, dan beribadah di rumah, serta menjaga jarak jarak di tempat umum demi menghambat penyebaran virus corona pemicu penularan COVID-19. Imbauan ini juga diarahkan pada perusahaan—terutama yang bidang usahanya bukan pelayanan, jasa, atau manufaktur—agar bisa mengubah budaya kerja ke rumah.

Iklan

Kenyataannya, lebih dari sepekan setelah imbauan itu disampaikan ke publik, tak semua perusahaan di Tanah Air dalam kategori di atas bersedia menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (WFH). Ada yang menerapkan sistem piket, sebagian lagi tetap masuk seperti biasa. Mengingat ganasnya virus corona yang bahkan tidak menimbulkan gejala apapun pada pengidapnya, urusannya bukan lagi soal produktivitas melainkan keselamatan karyawan dan keluarga mereka.

Apa sih alasan petinggi perusahaan yang ngeyel bisa WFH tapi tak melakukannya ogah mengubah budaya kerja kantor? Apakah target-target kuartal pertama 2020 lebih penting dibanding nyawa karyawan?

Rupanya bukan cuma perusahaan di Indonesia yang ngeyel seperti ini. Di banyak negara, banyak perusahaan dengan bidang usaha kerah putih yang ngotot memerintahkan pegawai ke kantor seperti biasa.

Merespons kengeyelan tersebut, sekelompok aktivis Internet lintas negara membuat situs anonim bernama Shame Your Company, bisa dipergunakan karyawan untuk melampiaskan emosi pada perusahaan-perusahaan yang mengabaikan keselamatan pekerjanya. Tak cuma itu, profil perusahaan tersebut sekalian diumbar kepada publik di seluruh dunia.

1585131374624-shame-company

Hasil tangkapan layar laman web Shame Your Company.

Cara berkontribusi di situs ini sederhana banget. Bagi yang ingin menyuarakan keluh kesah selama Work Fucking Harder alih-alih Work From Home, kalian bisa memencet tombol merah yang bertuliskan 'Shame Anonymously'.

1585131415256-shame-company-2

Hasil tangkapan layar laman web Shame Your Company.

Kemudian, pada kolom pertama, masukkan nama perusahaanmu, lalu keluarkanlah unek-unek di kolom bawahnya. Dari hasil percobaan VICE, tidak ada limitasi jumlah karakter yang bisa ditulis. Mau satu atau sekalian 12 paragraf pun bisa. Setelah dirasa cukup puas melampiaskan emosi, pencet tombol 'Ok' di kanan bawah. Keluhanmu otomatis bergabung dengan keluhan-keluhan lain dalam Wall of Shame dari berbagai belahan dunia secara anonim.

Sejauh ini tidak ada keterangan mengenai cakupan perusahaan yang masuk dalam daftar mereka. Apalagi bentuknya berupa laman web yang cenderung dapat diakses oleh siapa saja dan dari mana saja, asal punya koneksi internet tentunya.

1585131444129-shame-company-1

Beberapa perusahaan Indonesia ternyata sudah dikomplain di situs Shame Your Company

Dari hasil penglihatan VICE, cukup banyak nama perusahaan besar Indonesia masuk dimaki-maki dalam situs ini, bahkan beberapa di antaranya merupakan lembaga pemerintahan. Ada beberapa juga perusahaan yang berbasis di luar negeri seperti Singapura.

Menariknya, para pejuang Work Fucking Harder tidak sendirian dalam membangkitkan kesadaran publik soal perlunya WFH. Pengunjung situs bisa ikutan menghujat perusahaan lain rame-rame, dengan cara mengklik tombol berbentuk virus yang ada di sebelah kiri logo perusahaan. Semakin banyak yang menghujat perusahaan tertentu, semakin tinggi pula posisinya dalam Wall of Shame.

Iklan

Adapun tombol berbentuk anak panah di sebelah kanan berfungsi memperjelas keluhan yang mungkin tidak terlihat secara utuh dari Wall of Shame, mengingat batasan ukuran satu keluhan. Tak cuma itu, kalian juga bisa ikut berkomentar pada setiap keluhan yang ada, tentunya sama-sama anonim.

Emang sih, beberapa orang menyalahgunakan platform ini untuk bercanda atau menyuarakan keluh kesah yang sebenernya enggak nyambung. VICE menemukan keluhan mahasiswa soal tugas-tugas yang menumpuk karena kuliah jarak jauh. Tapi jumlahnya relatif sedikit dibandingkan dengan keluhan sesungguhnya dari lubuk hati yang paling dalam.

Jika kamu telah menyuarakan keluhan kemudian dalam waktu beberapa hari ke depan perusahaanmu tiba-tiba berubah pikiran, kamu bisa mengontak Shame Your Company lewat Google Form untuk berterima kasih. Caranya, scroll laman sampai bagian footer dan klik tombol 'Contact Us'.

Pendek kata, setiap petinggi perusahaan seharusnya paham virus corona tidak mengenal jabatan, produktivitas, maupun status sosial. Siapapun bisa tertular dan malah menulari yang lain ketika mereka terus berada di luar rumah ketika pandemi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bagi bos yang ngeyelan, ada baiknya mereka merenungkan pertanyaan berikut baik-baik:

1585131481319-shame-company-3

Sumber: screenshot dari Twitter.

Tentu saja efektivitas situs ini mengubah kebijakan perusahaan masih perlu dikaji lagi. Setidaknya sekarang ada sarana untuk mengungkap keegoisan beberapa perusahaan yang masih aja mengejar cuan di tengah pandemi global. Lampiaskan saja kawan-kawan. Jangan ditahan.