Foto ilustrasi Pancasila sebagai kepingan puzzle oleh akun Flickr Seika/lisensi CC 2.0
Pada wawancara eksklusifnya bersama Detik, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi berargumen bahwa pasca-Reformasi, Pancasila tidak lagi jadi asas partai politik dan organisasi Islam. Hal ini, menurutnya, adalah pembalasan masyarakat kepada rezim Orde Baru yang apa-apa pokoknya harus Pancasila. Kini, landasan agamalah yang kerap digunakan sebagai pendukung kepentingan kelompok, meski tidak selaras dengan Pancasila. Contohnya penyelenggaraan Ijtima Ulama untuk menentukan calon wakil presiden bagi Prabowo di pilpres lalu."Dari situlah sebenarnya Pancasila sudah dibunuh secara administratif. Si minoritas [kelompok kepentingan bertameng agama] ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi, kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan," ujar Yudian kepada Detik yang juga Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.Kalimat utuh Yudian sebenarnya enggak bermasalah dan udah sering dikeluhkan banyak orang, tapi gara-gara satu anak kalimat “musuh Pancasila itu ya agama”, dia langsung kena kritik dari seantero penjuru. Sekjen MUI Anwar Abbas bersikap paling keras. Ia meminta Presiden Jokowi mencopot Yudian yang baru dilantik jadi BPIP pekan lalu."Kalau benar beliau punya pandangan seperti itu maka tindakan presiden yang paling tepat untuk beliau adalah yang bersangkutan dipecat tidak dengan hormat," kata Anwar kepada CNN Indonesia. Ia khawatir cara pandang Yudi terhadap pengakuan agama dalam Pancasila. "Sebab, kalau yang bersangkutan tidak diberhentikan dan tetap terus duduk di sana, maka BPIP ini sudah tentu akan kehilangan trust atau kepercayaan dari rakyat," tambah Anwar.Hujatan juga datang dari Sekretaris Fraksi PPP DPR RI Achmad Baidowi. Menurunya, pernyataan Yudian sama sekali tidak mencerminkan dirinya sebagai tokoh bangsa, tokoh intelektual, dan tokoh agama."Pernyataan bahwa agama adalah musuh terbesar Pancasila merupakan pernyataan bias dan multitafsir. Padahal, sila pertama jelas menyebutkan Ketuhanan yang Maha Esa. Hal ini kemudian di kalangan masyarakat awam akan timbul pertanyaan, sebenarnya siapa yang paham dan tidak paham Pancasila. Selaku Kepala BPIP, Prof. Yudian sebaiknya menghindari polemik dan menjadi figur simbol pemersatu, bukan justru membuat ‘front’ ketika baru menjabat," ujar Achmad Baidowi kepada Detik.Baidowi meminta Yudian hati-hati memberikan pandangan, mengingat posisinya sebagai Kepala BPIP. Dari argumennya, ia merasa Yudian tidak bisa membedakan agama dengan paham keagamaan. Yang dipermasalahkan seharusnya bukan agama, namun ekspresi seseorang dalam menafsirkan agama tersebut.Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini ada di sisi yang sama, menyebut pernyataan Yudian ngawur. "Tapi kalau betul-betul itu dinyatakan oleh Kepala BPIP, pernyataan yang ngawur itu. Tunjukkan kepada saya di mana letak agama itu adalah musuh Pancasila. Sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Jelas sekali dalam Al Quran disebutkan Surat Al-Ikhlas. Sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab, ketiga, keempat, kelima, semuanya, dalam Al Quran sejalan. Begitu juga saya kira dengan agama lain," kata Helmy dilansir CNN Indonesia.Helmy meminta Yudian segera menjelaskan maksudnya apa. Kalau emang keseleo lidah, ia baiknya minta maaf. Ia bisa maklum kalau memang Yudian sedang kelelahan sehingga tidak bisa berpikir jernih dan mengendalikan ucapannya.Kalau MUI minta Yudian dicopot dari jabatan, pendapat Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon dan Ketua Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaen lebih gokil. Di akun Twitter-nya, Fadli menyarankan BPIP dibubarkan saja. Sementara Ferdinand curiga kalau Yudian ini beraliran komunis karena menempatkan agama sebagai musuh Pancasila.Hadeh, apes banget jadi komunis di negara ini. Ikutan ribut juga enggak, kena getahnya iya.
Iklan
Iklan
